29 March 2008

26. Ta'rif (Defenisi) Ikhlas

Maksud Ikhlas itu ialah melaksanakan Ibadat hanya semata-mata karena ingin mendekatkan diri kepada Allah. Bukan karena melahirkan ta’at di hadapan umum. Dan bukan pula mengharap pujian dan sanjungan orang, agar disayang dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Jika ditegaskan, bahwa Ikhlas itu ialah mebersihkan ‘Amal dalam beribadah dari perhatian umum. Agar Hati tidak Riya dan merasa ‘Ujub (heran kepada diri). Sebagaimana yang di Perintahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya :

قُــلْ اِ نّـِيْ اُمِـرْ تُ اَنْ اَ عْـــبُــدَ الـلّـــهَ مُخْــلِـصًالَّـــهُ الـدِّ يْـنَ

“Katakanlah !!! Saya diperintah (hanya) menyembah Allah dan ber-Agama dengan tulus ikhlas karena-Nya”. (Q.S. Az-Zumar : 11)

وَ اُمِرْتُ ِلأَنْ اَ كُــوْنَ اَوَّ لَ الْـمُسْـلِـمِـيْـنَ. قُـلْ اِ نِّـيْ اَخَافُ اِنْ عَصَــيْتُ رَ بِّـيْ عَـذَابَ يـَـوْ مٍ عَـظِــيْمٍ. قُـلِ الـلّـــهَ اَعْــبُـدُ مُخْــلِـصًالَّــهُ دِ يْـنِـيْ . فَاعْـــبُـدُوْا مَاشِـئْــــتُــمْ مِّـنْ دُوْ نـِــــه قُـلْ اِنَّ الْـخسِـرِ يْـنَ الَّـذِ يْـنَ خَسِـرُوْآ اَ نْــفُسَـــهُـمْ وَ اَ هْـلِــيْــهِـمْ يـَوْ مَ الْــقِــيَا مَـةِ اَلاَ ذ لـِكَ هُـوَ الْـخُـسْــرَ انُ الْــمُــبِـــيْــنُ

“Saya disuruh menjadi orang pertama berserah diri”.“Katakanlah ! Sesungguhnya saya takut terhadap ‘azab pada hari Qiyamat. Jika saya durhaka kepada-Nya”.* “Katakanlah !!! hanya Allah saja yang aku sembah dengan Ikhlas dalam menjalankan Agamaku”. “Maka sembahlah Hai orang-orang Musyriq apa saja yang kamu sukai selain dari Allah ! “Katakanlah !!! “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang yang merugikan dirinya sendiri dan keluarganya pada hari Qiyamat. “Ingatlah !!! Yang demikian itu adalah kerugian yang sangat nyata”.* (Q.S. Az-Zumar : 12 s/d 15)

اِلاَّ الَّـذ ِيْـنَ تَـابـُـوْا وَ اَصْــلَحُـوْ ا وَ اعْــتَــصَــمُـوْا بِـالـلّــــهِ وَ اَخْــلَــصُـوْ ا دِ يْــنَـــهُـمْ لـِلّــــهِ فَــأُو لــئِـكَ مَـعَ الْــمُـؤْ مِــنِــيْــنَ، وَ سَــوْ فَ يُــؤْ تِ الـلّـــــــهُ الْـمُــؤْ مِـنِــيْـنَ اَجْــرًا عَـظِــيْــمًا

“Kecuali orang-orang yang Taubat. Dan melakukan islah (Tidak lagi mengulangi kesalahan yang lama, kemudian berbuat baik dan benar). Dan berpegang teguh kepada Agama Allah dan dengan Ikhlas mematuhi (Agamanya) karena Allah. Maka mereka akan bersama-sama orang-orang yang beriman. Dan Allah akan memeberi orang-orang yang beriman Pahala yang sangat besar”. (Q.S. An-Nisaa’ : 146)

Orang yang tidak ikhlas, akan melihat situasi dan kondisi. Dimana yang enak, kesanalah ia akan pergi. Mereka kira itu adalah sikap yang baik dan bisa menipu Allah.
فَـادْ عُـواالـلّـــهَ مُخْــلِـصِـيْـنَ لَــهُ الـدِّ يْـنَ وَ لَـوْ كَــرِهَ الْـكــفِــرُوْنَ

“Serulah Allah saja. Dengan beribadah yang Ikhlas kepada-Nya. Walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya”. (Q.S. Al-Mukmin : 14)

اِنَّـآ اَ نْزَ لْــنَآ اِلَــيْـكَ الْـكِــتَابَ بِـالْحَـقِّ فَاعْــبُدِالـلّــهَ مُخْـلِصًالَّـهُ الدِّ يْنَ

“Sesungguhnya KAMI menurunkan Kitab (Al-Qur-aan) kepadamu berisi kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan Ikhlas”. (Q.S. Az-Zumar : 2)

وَ مَآ اُمِرُوْآ اِلاَّ لِـيَـعْــبُـدُ الـلّـــهَ مُخْـلِـصِيْـنَ لَــهُ الـدِّ يْـنَ ، حُــنَــفَـآ ءَ وَ يـُـقِــيْمُـوْاالـصَّـلاَ ةَ وَ يـُـؤْ تُــواالـزَّ كــو ةَ وَ ذ لـِـكَ دِ يْـنُ الْــقَــيِّــمَـةِ

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Allah. Mengikhlaskan Agama bagi-Nya (mengharap Ridho-Nya) Mendirikan Sholat. Dan membayar Zakat. Demikianlah Agama yang benar”. (Q.S. Al-Baiyinah : 5)

قُـلْ اَ تـُحَـآجُّـوْ نَـــنَـا فِى الـلّـــهِ وَ هُــوَ رَ بُّــنَا وَ رَ بُّـكُـمْ ط وَ لَــــنَآ اَعْــمَالُـــنَا وَ لَــكُـمْ اَعْـمَا لُـكُـمْ ج وَ نَـحْـنُ لَــه مُـخْــلِـصُـوْ نَ

“Katakanlah ! “Apakah kamu mau Berdebat dengan kami, tentang (Ketunggalan) Allah ?”. “Padahal DIA-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami pahala ‘Amalan kami. Dan bagimu pahala ‘Amalan kamu. Dan hanya kepada-Nya kami menyembah dengan Ikhlas”. (Q.S. Al-Baqarah : 139)

Pendapat ‘Abdul Qosim ‘Abdul Karim Al-Qusyai riy. Dalam Risalahnya :

أَ ْلإِخْـلاَصُ إِفْـرَدُالْحَـقِّ سُــبْحَا نَــهُ وَ تَــعَـالىَ فِى الـطَّاعَــةِ بِـالْـقَـصْدِ

“Ikhlas itu ialah Mendahulukan Ta’at Ibadat hanya untuk Allah Yang Haq saja”.
(atau membulatkan tekad dan tujuan dalam Beribadah kepada Allah saja)”.

Maksudnya ikhlas itu ialah Melaksanakan Ibadah semata-mata hanya karena hendak mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Bukan karena Ria dan ingin dilihat oleh masyarakat banyak. Berpegang kepada Hadits Nabi Saw :

مَنْ أَعْطَى لـِلّــهِ تَــعَـلىَ وَ مَــنَـعَ لـِلّــهِ تَــعَـلىَ وَ أَحَـبَّ لـِلّـــهِ تَـعَـلىَ وَ أَ بـْـغَـضَ لـِلّــــهِ تَــعَــلىَ وَ أَ نْــكَــحَ لـِلّــــهِ تَـعَـلىَ فَــقَــدِ سْــتَــكْــمَــلَ إِ يْــمَا نُـــهُ

“Barangsiapa memberi karena Allah. Menolak karena Allah. Mencintai karena Allah. dan Menikah karena Allah. Maka sempurnalah Imannya”. (H.R. Abu Daud)

Maksudnya ialah segala sesuatu wajib dengan karena Allah. Ia marah karena Allah, tidak marah karena Allah. Segala urusan atau pekerjaan hanya karena Allah.

Ulama besar Abu ‘Ali - Ad-Daqqoq berpendapat :

أَ ْلإِ خْـلاَصُ الـتَّــوَ قِّى عَنْ مَــلاَحَـظَــةِ الْـخُــلْــقِ ، وَ الـصَّــدْ قُ الـتَّــنَــقِى عَنْ مَـطَا وَ عَـةِ الــنَّــفْـسِ

“Ikhlas itu ialah memelihara Ibadah dari perhatian manusia. Dan benar itu ialah bersih Hatinya dari mengikuti hawa nafsu”.

Tegasnya, orang yang Mukhlis itu, tidak hadir rasa riya di dalam Hatinya. Dan setiap ia melaksanakan Ibadah apakah perbuatannya itu dilihat orang atau tidak, sama saja. Dengan kata lain :

أَ ْلإِخْـلاَ صُ أَنْ تَـسْــتَــوِيْ أَ فْـعَـلُ الْــعِــبَادِ فِى الـظَّاهِـرِ وَ الْـــبَاطِــنِ

“Ikhlas itu ialah “Bersamaan perbuatan pada zahir dan batin”. (Melaksanakan sesuatu di muka orang, sama saja dengan melakukannya di belakang orang)”.

Kita perhatikan Hadits di bawah ini :

إِنَّ الـلّـــهَ تَــعَـلىَ لاَ يَــنْـظُــرُ إِلىَ أَجْـسَادِكُـمْ ( أَ وْصُـوَ رِكُـمْ ) وَ لاَ إِ لىَ أحْــسَا بِـكُـمْ وَ لاَ إِلىَ أ مْــوَا لِـكُـمْ وَ لـكِـنْ يَــنْـظُــرُ إِلىَ قُــلُــوْ بِـكُـمْ . فَـمَـنْ كَـانَ لَــهُ قَـــلْـبِ صَالِــحٌ تَـحَــنـَّـنَ الـلّـــهِ عَــلَــيْـهِ. وَ أَ مَّا أَ نْـــتُــمْ بَـــنِى آ دَ مَ فَــأَحَــبُّـكُـمْ إِلىَ الـلّــــهِ أَ تْــقَا كُــمْ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula (memandang) kedudukanmu maupun harta kekayaanmu. Tetapi Allah menilik pada Hatimu. Barangsiapa memiliki Hati yang Sholeh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang sangat dicintai Allah adalah yang paling Taqwa”. (H.R. Ad-Dailami dan Muslim)

مَنْ أَسْـخَـطَ الـلّــــهَ فِى رِضَاالـــنَّا سِ سَـخِـطَ الـلّــــهُ عَــلَـــيْــهِ وَ أَسْـخَـطَ عَــلَـــيْــهِ مَـنْ أَرْضَا هُ . وَ مَـنْ أَ رْضَى الـلّــــهَ فِى شَـخَـطِ الـــنَّا سِ رَضِـيَ الـلّــــهُ عَــنْــهُ وَ أَ رْضَى عَــنْـهُ مَنْ أَسْخَـطَ فِى رِضَا هُ حَــتَّى يُـزَ يِّــنَــهُ وَ يُـزَ يِّـنَ قَــوْ لُــهُ وَ عَـمَــلُــهُ فِى عَــيْــنِــهِ

“Barangsiapa meraih murka Allah untuk meraih kerelaan manusia. Maka Allah murka kepadanya. Dengan murka itu maka menjadikan orang yang semula senang jadi murka kepadanya*. Namun barangsiapa yang meraih Ridho Allah. (Meski dengan itu) akan menarik kemurkaan manusia. Maka Allah akan meridhoinya. Dan menyenangkan orang yang pernah memurkainya. Sehingga Allah memperindahnya. Memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandangan-Nya”. (Ath-Thabrani)

مَنْ أَحْسَـنَ فِــيْـمَا بَــيْــنَـهُ وَ بَــيْـنَ الـلّــــهِ كَـــفَا هُ الـلّــــهُ مَا بَــيْــنَــهُ وَ بَــيْـنَ الـــنَّا سِ وَ مَـنْ أَصْــلَـحَ سَــرِ يْــرَ نَــهُ أَصْــلَــحَ الـلّــــهُ عَــلاَ نِـــيَــتَـــهُ


“Barangsiapa memperbaiki hubungan dengan Allah, maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya, maka Allah akan memperbaiki apa yang dizahir kannya”. (H.R. Al-Hakiim)

Kalimat Orang ‘Arif yang Bijaksana :
‘Amal perbuatan tanpa Niat adalah suatu kesukaran. Dan Niat tanpa Ikhlas adalah Riya. Sementara Riya itu sebanding dengan Munafiq. Dan Riya dengan Durhaka itu adalah sama. Ikhlas tanpa kebenaran dan pembuktian adalah bagaikan debu yang beterbangan.

وَ قَـدِمْـنَآ اِلىَ مَاعَـمَـلُـوْ ا مِنْ عَـمَــلٍ فَـجَــعَــلْــنــهُ هَــبَآ ءً مَّــنْــثُــوْ رًا

“Dan KAMI hadirkan (diperlihatkan) ‘Amalan yang mereka lakukan. Kemudian KAMI jadikan (‘amalan) itu menjadi Debu yang beterbangan (Sehingga sedikit pun tidak berguna bagi mereka)”. (Q.S Al-Furqoon : 23)

Bagaimana mungkin orang yang tidak mengetahui Haqikat Niat itu bisa membetulkan Niatnya atau memperbaiki ikhlasnya, sementara ia sendiri tidak mengetahui Haqikat Ikhlas itu sendiri. Dan bagaimana orang yang Ikhlas menuntut dirinya masuk ke dalam kategori kebenaran ? apabila ia sendiri tidak mengetahui arti kebenaran itu dengan sebenar-benarnya.
Maka tugas yang pertama bagi setiap individu, hamba yang ingin ta’at kepada Allah SWT adalah wajib belajar tentang Niat dengan sebenarnya sehingga faham betul Haqikat Niat tersebut. Kemudian ia harus membetulkannya dengan perbuatan setelah memahami Haqikat kebenaran. Dan Ikhlas itu adalah jalan kedua menjadi perantara hamba menuju keselamatan dan kemurnian fitrahnya.

إِذَاالـتَّــقـى الصَّــفَّانِ نَــزَ لَـتِ الْــمَــلاَ ئِـكَــةُ تَــكْـــتُـبُ الْـخَــلْــقَ عَـلَى مَـرَ تِــبِــهِمْ فُلاَنِ يُـقَـا تِــلُ لـِلـدُ نْــيَـافُــلاَنِ يـُـقَا تِــلُ حَـمِـيَّـةَ فُــلاَنِ يـُــقَاتِــلُ عَـصَـبِــيَّــةً ، أَ لاَ فَــلاَ تَــقُــوْلُــوْا فُــلاَنٌ قُــتِــلَ فِى سَـبِــيْــلِ الـلّــــهِ فَـمَـنْ قَا تَــلَ لــِتَــكُــوْنَ كَــلــِمَــةُ الـلّــــهِ هِيَ الْــعُــلْـــيَا فَــهُــوَ فىِ سَــبِــيْــلِ لـلّـــــهِ

“Apabila dua Barisan Perang bertemu. Maka Malaikat turun untuk menulis kerja manusia menurut tingkatan mereka. Si fulan berperang karena dunia. Si fulan berperang karena marah. Si fulan berperang karena fanatik golongan. Ingatlah ! Janganlah kamu berkata. ”Si fulan terbunuh di jalan Allah. Sebenarnya ialah barangsiapa yang berperang hanya untuk meninggikan Agama Allah. Itulah yang di jalan Allah”. (H.R. Ibnu Mubarak hadits dari Ibnu Mas’ud)

28 March 2008

25. Berlaku Benar dalam Beribadah

Berlaku benar dalam beribadah menurut Al-Qusyairi adalah “Tiang ‘Amalan. Bahkan Sendi ber-ibadah”. Yang dimaksud dengan benar di sini, ialah melaksanakan Ibadah hanya karena Allah. Metodanya ialah Bersamaan Zahir dan Batin. Sabar zahir karena Allah dan sabar batin karena Allah. Orang yang benar dalam beribadah, ialah semua pelaksanaan ibadahnya hanya karena Allah. Bukan karena malu terhadap manusia atau malu terhadap mertua. Dan lain-lain.
Orang yang tidak memperdulikan hilangnya pandangan manusia terhadap dirinya. Dan ia lebih mementingkan kebersihan jiwanya, dengan cara melaksanakan Ibadah tidak suka memperlihatkan ikhtiar ibadahnya kepada manusia. Dan tidak benci kepada orang yang mencerca (mencaci) dan mengecam dirinya. Karena ia tidak sedikitpun menginginkan puji-pujian dari mulut manusia.
Jelasnya orang yang ber-Ibadah itu wajib benar-benar hanya karena Allah. Ia akan senantiasa terus menerus mengutamakan Ibadah. Inilah Haqikat Niat yang dimaksud Hadits :

إِ نَّــمَا اْلأَ عْــمَالُ بِـا نِّــيَاتِ وَ إ ِنَّــمَا لِكُــلِّ امْرِ ئٍ مَا نَــوى

“Sesungguhnya ‘amal-‘amal perbuatan tergantung dengan Niatnya. Dan bagi tiap orang (yang ber-Ibadah/Ber’amal) tergantung dengan apa yang diniatkannya”.

Tegasnya, menurut penggerak yang digerakkan seseorang dalam melaksanakan Ibadah atau dalam melaksanakan ‘Amalannya. Apakah segenap ‘Amalan atau Ibadahnya itu benar-benar karena Allah SWT atau hanya karena malu kepada masyarakat sekelilingnya. Yang demikian ini hanya orangnya yang tahu dengan segala pekerjaan Hatinya. Orang disebelahnya tidak akan tahu apa yang di-Niatkan Hati orang tersebut. Maka pulang terserah kepada orang yang ber’amal.
Ingatlah ! Bahwa Sholat adalah merupakan suatu bentuk ritual yang sangat agung. Di dalamnya terdapat rangkaian Ibadah yang mampu menjalin kontak langsung antara hamba kepada Kholiq-nya. Dalam salah satu rangkaian Ibadah, Sholat inilah seorang hamba bisa dalam posisi yang sangat dekat dengan yang Maha Pencipta. Ibadah Sholat memiliki kedudukan khusus dalam Syari’at Islam. Hal ini dapat diketahui dari awalnya. Sebab proses pengambilan Sholat, Allah langsung memanggil Rasul-Nya Muhammad lewat Isra’ dan Mi’raj untuk menerima langsung Perintah Sholat. Ketika serah terima Perintah Sholat terjadi di Forum yang sangat tinggi, hanya Allah dan Muhammad saja yang menghadiri farum khusus ini. Sehingga Malaikat Jibril As. harus undur diri dari Forum istimewa dan khusus tersebut. Menunjukkan keagungan ritual Sholat. Siapa saja yang melaksanakannya, ia wajib suci Hatinya dan bersih Tubuhnya dari hadats besar dan hadats kecil. Nanti di Akhirat Ibadah Sholat ini juga akan dipertanyakan terlebih dahulu, ketimbang ’Amal ‘amal yang lain. Jika Sholat seseorang dianggap baik, maka semua ’amal perbuatan yang lain akan dianggap baik oleh Allah Jalla Wa’azza. Maka semua ’amalan yang lain akan beres.

Kedudukan Khusyu' dalam Sholat.
Agar seseorang bisa melaksanakan Sholat dengan baik, maka ia harus mengetahui segala ’ilmunya. Karena ’Amal tanpa ’ilmu adalah batal (Niscaya tidak diterima Allah). Dan ’Ilmu tanpa ’Amal adalah sesat yang nyata.
Setelah mengerti bahwa Jiwa Sholat itu adalah Ikhlas dan Khusu’ serta mendirikan Sholat itu sebenarnya adalah untuk mewujudkan Jiwa Sholat tersebut dari Haqikat kepada rupa yang Zahir. Yaitu secara otomatis akan menjalar ke dalam darah dan daging orang yang Sholat, suatu adab yang baik kepada Allah maupun kepada manusia. Karena setara dengan selesainya melaksanakan Sholat maka Sopan dan Santun di dalam Sholat akan tercermin kepada perbuatan di luar Sholat.
Telah nyata kedudukan Khusu’ sesuai dengan ilmu yang ada pada kita, yaitu Khusu’ dan Ikhlas itu ibarat kedudukan Ruh atau Jiwa di dalam tubuh manusia. Tanpa mereka kita tidak akan dikatakan hidup. Tanpa mereka manusia akan jadi bangkai. Tanpa Ruhani dan Jiwa, manusia tidak akan bisa melihat dan mendengar. Tanpa Ruh dan Jiwa, manusia tidak akan bisa bergerak. Apa lagi mau berfikir ? Jatuh kata pasti, bahwa manusia yang tidak mempunyai Ruh dan Jiwa, Insya Allah tidak ada gunanya bagi manusia yang lain. Untuk itu, dalam menata pemahaman kita yang berkaitan dengan hal Ikhlas dan Khusu' ini, maka kita perlu merenungkan faham pendahulu-pendahulu kita. Dan kita perlu Ta’rif (pengertian) Khusu’ dan Ikhlas. Takut dan Hadir Hati yang menjadi Ruh Sholat, serta yang menjadi sebab yang paling pokok bagi diterimanya Sholat seseorang.

Apa gerangan arti Khusyu' itu ?
1. Kata sebagian ‘Ulama :
“Khusu’ itu ialah memejamkan mata dan merendahkan diri hanya kepada Allah SWT.
2. Kata Ali bin Abi Thalib Ra :
"Khusu’ itu ialah tiada berpaling ke kanan atau ke kiri di dalam Sholat".
3. Kata Amru Ibnu Dinar Ra :
"Khusu’ itu ialah Tenang dan bagus kelakuannya dalam Sholat".
4. Kata Ibnu Sirrin Ra :
"Khusu’ itu ialah tiada mengangkat Pandangan dari tempat Sujud".
5. Kata Ibnu Jubair Ra :
"Khusu’ itu ialah tetap mengarahkan Fikiran kepada Sholat , sehingga tiada mengetahui orang sebelah kanan maupun kiri".
6. Kata Ibnu ‘Atho-illah :
"Khusu’ itu ialah tiada mempermain-mainkan tangan, tidak memegang badan tidak karuan dalam Sholat".
Maka dengan mengumpulkan makna kata-kata orang-orang ‘Arif zaman dahulu sebagaimana yang tersebut di atas, maka kita mendapat faedah dan pengertian bahwa Khusu’ itu, ada yang mengatakan Tenang, ada yang mengatakan ’Amalan Hati. Ada yang mengatakan Jiwa harus merasa takut.
Menurut Ta’rif orang-orang ‘Arif. Bahwa Khusu’ ialah ‘Amalan Hati. Suatu keadaan (kelakuan) yang mempengaruhi Jiwa. Maka ia akan melahirkan bekasnya pada anggota Tubuh, seperti Tenang dan Menundukkan diri kepada Allah.
Nabi Saw. telah bersabda :

لَـوْخَـشَـعَ قَــلْـبُ هذَاالـرَّجُـلِ لَـخَـشَــعَـتْ جَـوَارِحُـــهُ

"Sekiranya Khusu’ Hati (Jiwa) orang ini. Tentu Khusu’ pula seluruh Anggota Badannya". (H.R Al-Hakim. At-Turmudzy dari Abu Hurairah Ra. dalam Kitab Jami’us-Shokhir)

Pendapat orang ‘Arif, "Tegasnya Khusu’ ialah" :

أَ لإِ خْـــبَـاتُ وَ تَــطَا مُنُ الْــقَـــلْـبِ وَ الْـجَــوَ ارِ حِ لـِلّـــهِ تَــعَــلىَ

"Tunduk dan Tawadhuk serta berketenangan Hati dan Anggota Tubuhnya kepada Allah SWT".

أَوَّ لُ شَيْ ءٍ يُـرْ فَــعُ مِنْ هذِ هِ اْلأُ مَّـةِ الْخُـشُـوْ عُ حَــتَّى لاَ يـُرَى فِـيْــهَا خَاشِـعٌ

"Yang pertama-tama diangkat dari Umat ini ialah khusu’. Sehingga tidak terlihat seorangpun yang khusu’. (H.R. Ahmad dan Ath-Thabrani)

لاَ يــَـزَ الُ الـلّــــهُ مَـــقْـــبُــــلاً عَــلَى الْــعَـــبْــدِ وَ هُـوَ فِى صَّــــلاَ تِــهِ مَالَــمْ يَــلْــتَـــفِــتْ فَــإِ ذَ ا الْــتَـــفَـــتَ اَعْــرَ ضَ عَـــنْـــهُ

"Allah Ta’ala tetap berhadapan dengan hamba-Nya yang sedang melaksanakan Sholat dan jika ia mengucapkan Salam (menoleh) maka Allah meninggalkannya". (H.R. Mashohih As-Sunnah)

إِنَّ أوَّ لَ مَـا يـُحَـاسَـبُ بِــهِ الْـعَــبْـدُ يَــوْ مَ الْــقِــيَا مَـةِ مِنْ عَـمَـلِــهِ صَـــلاَ تَــهُ فَــإِنْ صَحَّـتَ فَــقَــدْ أَ فْــلَــحَ وَ أَ نَــجْــحَ وَ إِ نْ فَـسَــدَ تْ فَــقَــدْ خَابَ وَ خَــسِــرَ

“Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari Qiyamat dari ‘amal perbuatannya adalah tentang Sholatnya. Apabila Sholatnya baik, maka ia beruntung dan sukses. Namun apabila Sholatnya buruk, maka ia akan kecewa dan merugi”. (H.R. An-Nasaa’i. dan At-Tirmidzi)

27 March 2008

24. Arti Mendirikan Sholat

Ada beberapa Pendapat atau Definisi tentang arti Mendirikan Sholat ini. Maka ada baiknya kita memperhatikan banyak faham, untuk menambah luasnya pengetahuan kita. Dan tidak terpaut hanya pada satu Faham saja. Pengetahuan kita hanya sedikit. Namun sering kita pertahankan pendirian yang ada pada kita. Eh … Kiranya tanpa disadari kita telah mendirikan benang basah menurut istilah zaman lama.

1. Kata Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya pada Bab yang menerangkan arti Mendirikan Sholat dengan mengemukakan pendapat-pendapat para Sahabat dan Tabi’in. (Tafsir Ibnu Katsir Juz I Hal 42) menerangkan, Berkata Ibnu ‘Abbas Ra :

إِ قَـامَــةُ الـصَّــلاَ ةُ : إِ قَـا مَــةُ فُــرُوْ ضِــهَا

“Mendirikan Sholat ialah melaksanakan segala Fardhu-Fardhunya” “(Rukun-Rukunnya)”

2. Diterangkan oleh Adh-Dhoha. Bahwasanya Ibnu ‘Abbas Ra. berkata :

إِ قَـامَـةُ الصَّــلاَ ةُ إِ تْـــمَامُ الـرُّ كُــوْعٍ وَ السُّـجُـوْ دِ
وَ الـتِّــلاَ وَ ةِ وَ الْخُـشُـوْ عِ وَ اْلإِ قْــبَالُ عَـلَــيْــهَا فِــيْــهَا

“Mendirikan Sholat ialah Menyempurnakan Ruku’, Sujud, Tilawah (bacaan), Khusu’. Dan menghadap Sholat dengan benar-benar sempurna”.

3.
Berkata Qatadah Ra :

إِقَـامَـةُ الصَّــلاَ ةُ الْـمُحَافِـظَـةُ عَـلَى مَـوَ اقِــيْــتِــهَاوَوَضُـوْءِ هَاوَ رُ كُــوْعِـهَا وَسُـجُـوْ دِ هَا

“Mendirikan Sholat ialah tetap memelihara Wudhu’nya. Memelihara Waktu-waktunya serta memelihara Ruku’ dan Sujudnya”.

Menurut pakarnya, jika ketiga-tiga definisi ini disatukan, maka menjadilah seperti sebuah Tiang yang tangguh dan kukuh, menjadi penyangga dalam mendirikan Sholat. Sebagaimana sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi :

أَلـصَّـــلاَ ةُ عِـمَادُ الـدِّ يْـنِ فَــمَـنْ أَ قَا مَــــهَا فَــقَـدْ أَ قَـا مَ الــــدِّ يْـنَ وَ مَنْ تَــرَ كَــــهَا فَــقَــدْ هَـدَ مَ الـدِّ يْـنَ

“Sholat adalah Tiang penyangga Agama. Barang siapa mendirikannya, maka sesungguhnya ia telah mendirikan Agama. Barang siapa yang meninggalkannya. Maka sesungguhnya ia telah merobohkan Agama (H.R. Al-Baihaqi)

Bahan untuk berfikir dalam masalah Sholat.
Dalam melaksanakan Sholat ini hendaknya kita bisa memelihara waktu-waktunya. Menyempurnakan Khusu’nya. Dan melaksanakan Sholat dengan sesempurna-sempurna mungkin. Sempurna Berdirinya, sempurna Takbirnya, sempurna Ruku’nya, sempurna I’tidalnya, sempurna Sujudnya, sempurna Duduk antara dua Sujudnya, sempurna Tasyahudnya, sempurna Kehadiran Hatinya, sempurna Taqwanya kepada Allah SWT, sempurna Tawadhuk dan Tawaruknya, sempurna Do’anya, dan segala Adabnya sempurna. Tegasnya tekankan ke dalam diri bahwa mendirikan Sholat ialah “Mewujudkan Ruh dan Hakiqat Sholat”. Dalam melaksanakannya, sehingga tercermin pada tingkah laku atau sopan santun orangnya di luar Sholat. Semoga mendapat Hikmah dan Rahasia Sholat. Selanjutnya bisa merasakan Ni’matnya Sholat tersebut.
Apabila salah satu dari yang tersebut di atas tidak kita peroleh dengan sebaik-baiknya. Bagaimana mungkin kita bisa merasakan dan memperoleh terjemahan maksud dari Sholat yang sebenarnya ? Mendirikan sesuatu, artinya ialah melaksanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya atau dengan kata lain sesempurna-sempurna mungkin, menurut kadar ilmu yang ada pada kita. Dan setelah kita perbuat, maka besar kemungkinan nantinya kita juga yang akan memperoleh kebaikannya atau manfa’atnya, sehingga kita juga yang akan memperoleh kesan dari perbuatan yang baik tersebut. Ringkasnya arti mendirikan Sholat ialah melaksanakan Sholat dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurna mungkin.
Dengan demikian, semoga kita bisa mewujudkan Ruh dan Hakiqat Sholat ke dalam rupa zahirnya yang sempurna, serta mewujudkan bekas-bekas atau kesan-kesan Sholat tersebut setelah selesai melaksanakan Sholat. Kemudian terlihatlah segala Hikmah-hikmah Sholat tersebut di dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti kukuh pendiriannya dalam menta’ati segala Perintah Allah dan Rasul-Nya dan teguh Imannya ketika menolak segala yang di haramkan Allah dan Rasul-Nya. Ia tetap Zikir kepada Allah.

فَــإِذَا قَـضَــيْــتُــمُ الصَّـلـو ةَ فَاذْكُــرُواالـلّــهَ قِــيَامًاوَ قُـعُـوْدً ا وَعَـلى جُـنُـوْ بِـكُـمْ

"Dan apabila kamu telah selesai Sholat, tetaplah selalu Mengingat Allah pada waktu Berdiri, Waktu Duduk, Waktu Berbaring”. (Q.S. An-Nisaa’ ayat : 103)

Lebih jauh sebaiknya kita perhatikan uraian para pakarnya :
1. Kata Al -‘Allamah As-Sayid Rasyid Ridho :
“Mendirikan Sholat” ialah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, dengan cara yang paling sempurna, yaitu melaksanakan Sholat karena pengaruh rasa “Kebesaran dan Kemuliaan Allah” kemudian menunaikannya dengan khusus’ atau hadir hatinya kepada Allah.
(Dikutip dalam Kitab Tafsir Al-Manaar Juz I halaman 50)

2.
Kata Al - Ustadz ‘Abul ‘Aziz Al-Khuli :
“Yang dikehendaki dengan mendirikan Sholat” ialah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, serta mengupayakan Khusu’ di dalam Sholatnya. Dan memikirkan segala makna-maknanya, dan tetap Mengingat Allah. Dan dengan sebenarnya Sholat itu dilaksanakan hanya karena Allah serta berserah diri hanya kepada Allah”.
(Kitab Al-Adabun Nabawi pada halaman 7)

3. Imam Ahmad Ibnu Hambal berkata :
Sesungguhnya kualitas ke-Islaman seseorang adalah tergantung pada kualitas Ibadah Sholatnya. Kecintaan seseorang kepada Islam juga tergantung pada kecintaaannya dalam melaksanakan Sholat. Oleh karena itu, kenalilah dirimu sendiri. Wahai hamba Allah ! Takutlah kamu jika kamu nanti menghadap Allah ‘Azza Wajalla tanpa membawa kualitas keislaman yang baik. Sebab kualitas keislaman dalam Hatimu ditentukan oleh kualitas Ibadah Sholatmu”.
(Kitab-As-Sholah wa Hukmu Taarikihaa Ibnul Qoyyim 171)

Allah memerintahkan kepada manusia untuk mendirikan Sholat. Bukan mengerjakan Sholat. Maka barangsiapa yang melaksanakan Sholat, walaupun cukup Syarat dan Rukunnya dan cukup pula kaifiat (kelakuan) yang telah ditentukan oleh Syari’at. Tetapi kosong dari makna Sholat itu sendiri, yakni tiada ber-Jiwa dan tiada Ruh yang serta pada Tubuh Sholat itu, maka orangnya akan rugi besar. Karena orang yang mengerjakan Sholat tersebut, Jiwa dan Perhatiannya tidak kepada Sholat itu.
Fikiran dan Perhatiannya melayang-layang menerawang jauh ke ujung dunia. Sementara tubuhnya Sholat. Namun fikiran dan perhatiannya singgah ke tempat kerja atau ke tempat ia berdagang. Bahkan lebih jauh lagi. Hanya orangnya yang tahu kemana perhatian dan fikirannya terbang. Mereka mengira Sholat itu hanya pelengkap hidupnya atau sekedar untuk bayar hutang, atau agar dipandang oleh manusia bahwasanya ia adalah orang ‘Alim yang Wara’.
Wahai insan !
Tidakkah kita perhatikan bahwa diri kita itu terdiri dari dua kategori, yaitu Ruhani dan Jasmani. Dan sekiranya Jasmaninya kelaparan ? Perut akan mulas, kepala ikut pening, ia akan sempoyongan hilang tenaga. Badan akan ikut merajuk dan mogok kerja. Apakah bisa Tubuh yang demikian ini dibawa kerja untuk mencari uang ? Walaupun itu untuk mereka.
Kemudian perhatikan pula Ruhani kita. Contoh yang di atas tersebut, sebetulnya sama dengan tuntutan Ruhani kita. Manakala Ruhani kelaparan, maka fikirannya akan stress. Hatinya akan gelisah resah tak karuan. Semua pekerjaannya akan serba salah. Walaupun orangnya hanya dapat merasakan kekurangan itu. Namun ia tidak mengerti dari mana datangnya keadaan yang demikian tersebut. Sebab ini adalah masalah Ruhani yang tidak kelihatan. Namun dapat dirasakan. Manusia tidak akan tahu, mana sebenarnya yang kurang dari hidupnya. Namun ia dapat merasakan siksaan di dalam batinnya. Dan dapat pula ia rasakan bahwa orang sekelilingnya tidak tahu. Konon pula akan turut merasakannya ???
Hanya ia sendiri yang merasakan keresahan. Kegersangan. Kehampaan dalam dirinya. Ta’rif kebanyakan para Ulama ialah “Melaksanakan Sholat itu ialah menyempurnakan Rukun Suci. Mencukupi Rukun dan Sunnatnya. Yang demikian itu baru hanya mengenal rupa Sholat yang Zahir. Namun belum mengenal Jiwanya. Karena Jiwa Sholat itu ialah menghadapkan Jiwa kita dengan khusu’ serta merasa betul-betul kita berhajat yang sangat kepada Allah SWT. Apabila Jiwa kita kosong dari Jiwa Sholat tersebut, maka sendi yang paling penting hanya berharga pada pandangan di sisi Manusia. Namun tidak berharga dalam pandangan Allah SWT.

25 March 2008

23. Sunnat-sunnat Sebelum dan Sesudah Sholat

1. Azan dan Iqomat.
2. Dalam melakukan Sholat.
3. Sesudah Selesai Sholat.

1. Azan dan Iqomat.
Jika waktu Sholat telah sampai, maka salah seorang diantara mereka yang akan berjama’ah, hendaklah mengumandangkan Azan. Sebagai tanda panggilan kepada teman yang mau melaksanakan Sholat. Dan jika Sholat sudah akan dimulai, maka hendaklah salah seorang dari mereka mengucapkan Iqomat.
Azan dan Iqomat hukumnya Sunnah Muakad bagi Sholat Fardhu. Baik berjama’ah maupun sendirian. Meskipun sudah terlambat waktunya. Dan Azan itu sunnah diserukan dengan suara keras. “Kecuali di Masjid yang telah dilakukan Azan. Dan Sholat berjama’ah” Dan melaksanakan Azan tersebut, harus dengan berdiri menghadap Qiblat. Rasulullah Saw. telah bersabda :

عَنْ مَالـِكِ ابْنِ الْحُـوَ يـْرِثِ رَضِيَ الـلّــهُ عَــنْـهُ قَالَ : قَالَ رَسُـوْ لُ الـلّـــهِ صَـلَّى الـلّـــهُ عَــلَــيْـهِ وَسَـــلَّـمَ : إِذَ احَـضَـرَ ةِ الصَّـلاَ ةُ فَــلْــيُــؤَ ذِنُ لــكُمْ أَحَـدُ كُـمْ

“Dari Malik bin Huwairits Ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw. kepada kami :”Bila waktu Sholat telah sampai. Maka hendaklah salah seorang di antara kamu melakukan Azan bagimu”. (H.R. Al-Bukhari & Muslim)

Azan dan Qomat itu disunatkan hanya untuk Sholat Fardhu saja. Adapun untuk Sholat-sholat sunat yang disunatkan berjama’ah, seperti Sholat Idul Fitri atau Sholat Idul Adha dan Sholat Tarawih atau Sholat Fardhu Kifayah cukuplah dengan seruan :

أَ لـصَّـــــلاَ ةُ الـجَـا مِـــعَــــةٌ

“Marilah kita Sholat berjama’ah (Bersama-sama)”

Wahai saudara-saudaraku yang terhormat. Sekedar cerita..
Pada suatu masa, kami turut mensholatkan salah seorang Jenazah di kampung kami. Dan Ustadz yang mau meng-Imami Sholat tersebut berkata : ”Qomat Qomat”. Tiba-tiba datang sambil berlari kecil seorang yang sudah berusia lanjut. Dan orang itu melantunkan Qomat seperti orang melakukan Sholat Fardhu. Maka yang lain jadi ternganga mulutnya serta terbingung bingung. Maka dengan perasaan segan saya dekati orang tua tersebut. Lalu saya katakan : "Pak, Bukan begitu cara Qomat untuk Fardhu Kifayah”. Untung saja Bapak itu mau mengerti, maka Qomat tersebut digantikan oleh orang lain, sesuai dengan Qomat yang biasa dibawakan pada setiap Sholat mayit. Demikianlah. Jika kita kurang ilmu, tetapi berambisi untuk tampil. Maka sebaiknya pelajarilah seluk beluk Agama itu dengan baik. Baru tampil ke muka umum.

Disyari'atkannya Azan.

Azan disyari’atkan sejak mulai pertama Hijrah. Sebab-sebabnya antara lain :

كَانَ الْـمُسْلِـمُوْنَ يَجْـتَـمِعُـوْ فَــيَـتَحَــيَّــنُـوْنَ الصَّــلاَ ةَ وَ لَــيْـسَ يـُــنَادِى بِــــهَـاأَحَـدٌ، فَــتَــكَـــلَّـمُـوْا يَــوْ مَـافِيْ ذلـِكَ، فَـــقَالَ بَــعْـضُـــهُـمْ : إِ تَّــخَــذُوْا نَـا قُـوْ سًامِـثْــلَ نَـاقَـوْ سٍ الـنَّـصَارى، وَ قَالَ بَــعْـضُـهُـمْ : بَــلْ قَـرْ نَـا مِــثْــلَ قَــرْنِ الْــيَــهُــوْ دِ، فَـــقَالَ عُـمَـرَ : أَوْ لاَ تَـــبْـعَــثُـــوْنَ رَجُـلاً يـُــنَادِى بِـالصَّـــلاَ ةٍ ؟ فَـقَالَ رَسُـوْ لُ الـلّـــــهِ صَــلَّى الـلّــــــهُ عَــلَــيْـهِ وَسَــلَّـمَ : يَـا بِــلاَ لُ قُــمْ فَـــنَـادى بِـالـصَّـــلاَ ةِ

“Pada waktu itu orang-orang Islam berkumpul-kumpul. Dan mengira-ngira waktu Sholat tidak ada seorangpun yang menyerukannya. Pada suatu hari mereka membicarakan hal itu. Maka di antara mereka ada yang berbicara : “Pergunakan saja Genta (Lonceng) seperti Kaum Nashrani. Dan berbicara yang lain : “Lebih baik menggunakan Tanduk (buat) Sangka-kala (Terompet) seperti orang-orang Yahudi. Maka Sahabat ‘Umar Ra. berkata : “Mengapa tidak disuruh saja orang untuk menyeru kepada Sholat ? Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Hai Bilal Bangunlah dan serukan Azan”. (H.R. Al-Bukhari dan Ahmad)

Dalam Hadits yang lain :

عَـنْ عَــبْـدِالـلّـــهِ بْـنِ زَ يْدِ بْـنِ عَـبْـدِ رَ بـِّهِ قَالَ : طَافَ بـِى" وَ أَ نَـا نَـا ئِـمٌ " رَجُـلٌ فَـقَالَ : أَ لـلّـــــهُ أَ كْـــبَــرُ . أَ لـلّـــــهُ أَ كْـــبَــرُ . فَـذَ كَــرَ اْلأَ ذَ انَ بِــتَــرْ بِـــيْــعِ الـتَّــكْــبِــيْــرِ بـِـغَــيْـرِ تَــرْجِـــيْــعِ ، وَ اْلإِ قَامَــةَ فُـرَ ادى ، إِلاَّ قَـدْ قَـا مَتِ الصَّــلاَ ةُ ، قَالَ : فَــلَــمَّا أَ صْــبَـحْـتُ أَ تَـــيْـتَ رَسُـوْ لُ الـلّــــــــهِ صَــلَّى الـلّـــــــهُ عَــلَـــيْــهِ وَ سَــلَّــمَ فَــقَالَ : إِ نَّـــهَا لَــرُ ؤْ يَـاحَــقٍّ

“Dari ‘Abdullah bin Zaid Ra. berkata : “Ketika saya sedang tidur (melihat dalam mimpi), Ada seorang Laki laki berkeliling sambil mengucapkan :”Allahu Akbar-Allahu Akbar”. Kemudian ‘Abdullah bin Zaid menyerukan Azan dengan Empat Takbir. Tanpa di-ulang. Kemudian ia Qomat dengan satu kali-satu kali. Kecuali Lafaz :”Qodqoomatish-Sholah”. Lalu setelah pagi saya menghadap Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. bersabda :”Sesungguhnya mimpi itu adalah mimpi yang benar”.
(H.R. Ahmad. Abu Daud. Disahkan oleh At-Tur mudzy. Dari Ibnu Khuzaimah Ra. Namun ketika kita teliti pada Kitab Bulughul Maram. Pada Hadits Nomor 215 Menyatakan bahwa Hadits tersebut adalah Hadits Dho’if / lemah).
Dalam riwayat yang lain :

عَـنْ أَبِـى مَحْـذُوْرَ ةَ أَنَّ نَّــبِـيَّ الـلّــــهِ صَـلَّى الـلّــــهُ عَـلَــيْــهِ وَسَـــلَّـمَ عَــلَّــمَـهُ هـذَااْلأَ ذَانَ اَلـلّــــهُ أَ كْـــبَــرُ اَ لـلّـــهُ أَ كْـــبَـرُ . أَ شْــهَـدُ أَنْ لاَ اِلـــهَ اِلاَّ الـلّــــــــهُ . أَ شْــهَــدُ أَنْ لاَ اِلـــهَ اِلاَّ الـلّــــــــهُ . أَ شْــهَـدُ أَنَّ مُحَــمَّـدً ا رَّسُـوْ لُ الـلّـــــــــهُ . أَ شْــهَـدُ أَنَّ مُحَـمَّـدًا رَّسُــوْ لُ الـلّــــهُ . حَـيَّ عَـلَى الصَّــلاَ ةَ مَـرَّ تَــيْــنِ.حَـيَّ عَــلَى الْــفَـــلاَ حِ مَـرَّ تَـــيْـنِ. زَادَ ا إِ سْحـقُ أَلـلّـــــهُ أَ كْــبَــرُ الـلّــــهُ أَ كْـــبَــرُ . لاَ اِ لـــــهَ اِ لاَّ الـلّـــــــهُ.

"Dari Abu Mahzurah. Katanya :”Bahwa Nabi. Saw. Mengajarkan kepadanya ini Azan. “Allahu Akbar. Allahu Akbar”. 2 x “Asyhadu allaa-Ilaa- Haillal lah”. 2 x “Asyhadu Anna Muhammadar-Rosulul lah”. 2 x “Haiyya ‘alas-Sholaah”. 2 x “Haiyya ‘alal Falaah”. 2 x “Allahu Akbar. Allahu Akbar 2 x “Laa-Ilaaha-Illallah”. (Shohih Muslim Juz I Halaman : 238)
Hadits yang lain :

عَنِ ا بْـنِ عُـمَـرَ ةَ قَالَ كَانَ لِـرَسُــوْلُ الـلّــــهِ صَـلَّى الـلّــــهُ عَـلَــيْـهِ وَسَـلَّـمَ { مُـؤَ ذِ نَـانِ بِــلاَ لٌ وَ ابْـنِ أ مِّ مَـكْــتُـــوْ مٍ اْلأَ عْـمـى

“Dari Ibnu “Umar Ra. katanya :”Rasulullah Saw. mempunyai dua orang tukang Azan, yaitu : “Bilal dan Ibnu Maktum yang Buta”. (H.R Muslim Juz I :239)

وَ لاِ بْـنِ خُزَ يْـمَـةَ عَنْ أَ نَـسٍ رَضِـيَّ الـلّـــهُ عَــنْـهُ قَالَ : مِنَ السُّــنَــةِ إِ ذَا قَالَ الـمُـؤَ ذِنُ فِى الْــفَـجْـرِ : حَـيَّ عَـلَى الْـفَــلاَ حِ قَالَ : أَ لـصَّـلاَ ةُ خَــيْــرٌ مِنَ الــنَّــوْ مِ

"Dan bagi Ibnu Khuzaimah Ra. dari Anas Ra. berkata ”Termasuk Sunnah jika Mu’azzin Menyerukan Azan Subuh. : Haiyya ‘Alas-Sholaah”. Kemudian dilanjut kan dengan ucapan “Ash-Sholaatu Khoirum-Minan naum”. (H.R. Al-Bukhari)

Keutamaan Azan.
“Tiada makhluq apapun. Baik Manusia, Jin atau lainnya yang mendengar seruan Mu’azin, kecuali ia pasti akan menjadi saksi bagi si Mu’azin pada hari Qiyamat”. (H.R. Al-Bukhari dan An-Nasa’iy)
“Kekuasaan Allah Yang Maha Pengasih senantiasa di atas kepala seorang Mu’azin sampai ia selesai dari Azannya” (H.R.At-Tabrany dalam kitab Al-Aushath)
Jawaban Pendengar Ucapan Mu’azin

اَ لـلّـــــــهُ اَ كْـــبَــرُ اَ لـلّـــــــهُ اَ كْـــبَــرُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

أَ شْــهَـدُ أنْ لاَ اِ لــهَ إِ لاَّ الـلّــــــــــــــــــــــهُ
Sama dengan Ucapan Mu’azin
2 x

أَ شْــهَــدُ اَنَّ مُـحَــمَّــدًارَّسُــوْ لُ الـلّـــــــهُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

حَـيَّ عَــلىَ الـصَّـــــــلاَ ةْ
لاَحَوْ لَ وَ لاَ قُـوَّ اةَ اِلاَّ بِـاللهِ الْـعَـلِـيّ الْـعَـظِــيْـمِ
2 x

حَـيَّ عَــلَى الْــفَـــــــلاَ ةْ
لاَحَوْ لَ وَ لاَ قُـوَّ اةَ اِلاَّ بِـاللهِ الْـعَـلِـيّ الْـعَـظِــيْـمِ
2 x

اَ لـلّـــــــهُ اَ كْــبَــرُ اَ لـلّـــــــهُ اَ كْــبَــرُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

لاَ اِ لـــهَ اِ لاَّ الـلّـــــــهُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

اَلـصَّـــلاَ ةُ خَــيْــرٌ مِّـنَ الـنَّـــوْ مٌ
صَـدَ قْتَ وَ بَـرَرْتَ وَ أَ نَـا عَـلَى ذ لـِكَ مِنَ الــشَّاهِـدِ يْـنَ
Benar engkau telah berbuat baik. Dan saya
diantara orang-orang yang menjadi saksi
2 x

وَ لـِـمُـسْــلِـمٍ عَـنْ عُـمَـرَ رَضِيَّ الـلّــــهُ عَــنْــهُ فِى فَـضْـلِ الْـقَــوْ لِ كَـــمَا يَــقُــوْ لُ الْــمُـؤَ ذِنُ كَــلِــمَــةً - كَـــلِــمَــةً سِــوَى الْـحَــيْــعَــلَـــتَــــيْــنِ فَــيَــقُــوْ لُ : لاَحَـوْ لَ وَ لاَ قُــوَّ ا ةَ إِ لاَّ بِـالــلّـــــــهِ


“Dan pada Riwayat Muslim dari ‘Umar Ra. tentang keutamaan ucapan (pendengar) seperti yang diucapan para Mu’azin. Satu kalimat - satu kalimat. Kecuali pada “Haiyya ‘Alatain”. Harus dengan sambutan “Laa haulaa Walaa Quwwata Illa Billah”. (H.R. Shohih Muslim)

Pelajaran yang demikian ini diterangkan di sini, karena menurut pengalaman, mungkin pada suatu ketika Tulisan ini ditemukan oleh mereka-mereka yang benar-benar ingin mempelajari Islam. Namun untuk belajar ia merasa malu dan enggan. Semoga dengan membaca Risalah ini mereka akan tertarik, dan kemudian mempelajari Islam secara mendalam kepada Mursyidnya. Bahkan tidak kurang orang Islam sendiri masih samar dalam memahami masalah Sunnah sebelum Sholat atau Sunnah sesudah Sholat. Dipersilahkan menambah pengetahuan.

22. Akibat Pribadi Manusia yang Meninggalkan Sholat

يُــنَــبَّــؤُااْلاِ نْـسَانُ يـَـوْ مَــئِـذٍ بِـمَا قَـدَّ مَ وَ اَخَّـرَ . بَــلِ اْلاِ نْـسَانُ عَــلى نَــفْـسِــه بَـصِيْـرَ ةٌ . وَّ لَــوْ اَ لــقى مَــعَـاذِ يْـرَ هُ

“Pada hari (Yaumil Mahsyar) itu. Diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya. Dan apa yang diabaikannya”. “Bahkan manusia itu menjadi saksi atas pribadinya sendiri”. “Meskipun ia mengemukakan beberapa alasan”. (Q.S. Al-Qiyamah : 13 s/d 15)

لاَ تَــزُوْ لُ قَـدَ مَـاعَــبْـدٍ يَــوْ مَ الْــقِــيَـامَـةِ حَــتَّى يُـسْــأَلَ عَنْ اَرْ بَـعٍ خِصَالِ عَـنْ عُـمْـرِ هِ فِــيْـمَ افْــنَا هُ ، وَ عَنْ جَسَـدِهِ فِـــيْـمَ اَ بْـلاَ هُ ، وَ عَـنْ عِـلْـمِــهِ مَـاعَـمِـلَ بـِـهِ ، وَ عَـنْ مَـالِـهِ مِنْ اَ يْـنَ ا كْـــتَـسَــبَــهُ وَ فِــيْـمَ اَ نْــفَــقَــهُ

"Dalam hal ini Mu’az bin Jabal berkata Nabi Saw. bersabda : “Pada Hari Qiyamat nanti. Sebelum dua telapak kaki seorang hamba melangkah. Maka ia akan ditanya tentang empat macam masalah yaitu umurnya untuk apa ia habiskan, tubuhnya untuk apa ia rusakkan, ‘ilmunya untuk apa ia pergunakan, hartanya dari mana didapat & untuk apa ia belanjakan".
(Ibnu Majah dalam Kitab Hadits Hisaanil Mashaabiihi)

Dan sangat baik kita perhatikan Firman Allah :

حَــتَّى اِذَا مَآ ءُوْ هَاشَـهِــدَ عَــلَـــيْــهِـمْ سَـمْــعُــهُـمْ وَ اَ بْـصَارُهُـمْ وَجُـلُـوْ دُهُمْ بِـمَاكَـا نُــوْا يَـعْـمَـلُـوْ نَ . وَ قَالُــوْا لـِجُـلُـوْدِ هِـمْ لـِمَ شَـهِـدْ تُّــمْ عَـلَــيْـنَـا ط قَـالُـوْ آ َا نْــطَــقَــنَاالـلّــــهُ الَّـذِيْ اَ نْـطَـقَ كُلَّ شَـيْ ءٍ وَّ هُوَ خَـلَــقَــكُـمْ اَوَّ لَ مَـرَّ ةٍ وَّ اِلَــيْـهِ تُـرْجَـعُـوْ نَ . وَ مَا كُـــنْــتُــمْ تَـسْــتَـــتِـــرُوْنَ اَنْ يَّــشْــهَـدَ عَـلَــيْـكُـمْ سَـمْـعُـكُمْ وَ لاَ اَ بْـصَارُ كُـمْ وَ لاَجُـلُـوْدُ كُـمْ وَ لـكِـنْ ظَــنَــنْــتُــمْ اَنَّ الـلّــــهَ لاَ يَــعْــلَـمُ كَــثِـــيْــرً ا مِّــمَّا تَــعْــمَـلُـوْ نَ

“Sehingga apabila mereka telah sampai ke dalam Neraka itu. Maka pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi atas tindak-tanduk mereka”. “Dan mereka berkata kepada kulit mereka : ”Mengapa kamu menjadi saksi yang memberatkan kami ?” Kulit mereka menjawab : ”Allah - DIA Maha Kuasa menjadikan segala sesuatu bisa berkata. Dan menjadikan kami bisa berbicara. DIA-lah yang menciptakan kamu pada permulaan. Dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan”. “Dan kamu tidak dapat menyembunyikan kesaksian pendengaran-mu. Dan penglihatanmu, serta kulitmu. Tetapi kamu anggap, bahwa Allah tidak mengetahui segala tindak-tandukmu”. (Q.S. Fussilat : 20 s/d 23)

Sadarlah wahai Saudaraku !
Bahwa seluruh anggota Tubuh kita akan menerangkan dengan lancar segala tindak-tanduk yang pernah kita perbuat. Tidak satupun yang dapat disembunyikan. Anggota-anggota tubuh itu, tidak lagi di bawah kekuasaan kamu. Semua bebas bicara dan menjadi saksi. Sadarlah kamu pasti akan mati !!!
Coba kita perhatikan rincian orang-orang kuno zaman dahulu kala. Mereka menerangkan, bahwa selama satu hari satu malam waktunya adalah 24 (dua puluh empat) jam.
Pada saat itu manusia bernafas sebanyak 180 (seratus delapan puluh) kali dalam waktu satu jam. Jadi dalam sehari semalam manusia bernafas 4320 (empat ribu tiga ratus dua puluh) kali. Dan tiap-tiap sekali bernafas akan ditanya tentang dua masalah, yaitu sewaktu keluar dan masuknya Nafas, akan ditanya :
“Perbutan apakah yang engkau lakukan ketika Nafas itu keluar ? dan Apa pula yang engkau lakukan ketika Nafas itu masuk ?”.
Ini rincian orang dahulu sebelum ada Microscop dan Laboratorium serta alat canggih yang mutakhir seperti pada zaman sekarang. Mungkin penelitian zaman sekarang lebih baik dalam hal ini karena memang zamannya sudah maju.
Apabila kita telah memahami hal ini, maka sudah selayaknya bagi seseorang untuk mengajak dirinya melaksanakan ‘Amal yang baik. Dan menjauhi segala perbuatan munkar yang dilarang Allah ‘Azza Wajalla. Sebab pertanggung jawabannya di Yaumil Mahsyar akan ia rasakan. Semoga kita sadari hal ini !!!

يـآ اَ يـُّــهَاالَّذِِيـْنَ ا مَـنُـوْا لاَ تَـــتَّـبِـعُـوْا خُـطُـوَ اتِ الشَّــيْـطَانِ، وَ مَنْ يَــتَّــبِـعْ خُـطَـوَاتِ الشَّــيْطَـنِ فَـاِنَّــه يــأْ مُرُ بِـالْـفَحْشَآءِوَ الْـمُـنْـكَـرِ وَ لَـوْ لاَ فَـضْلُ الـلّــهِ عَـلَــيْـكُـمْ وَ رَحْـمَــتُــه مَـازَ كـى مِـنْـكُـمْ مِّنْ اَحَـدٍ اَ بــَدًا، وَ لـكِـنَّ الـلّــهَ يُـزَ كِّيْ مَنْ يـَّشَـآءُ وَ الـلّــــهُ سَـمِـيْــعٌ عَـلِــيْـمٌ

“Hai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengikuti bujuk rayu setan ! Barangsiapa yang mengikuti bujukan dan rayuan setan. Padahal sesungguhnya setan itu mendorong kamu agar berbuat pekerjaan keji dan munkar. Sekiranya tidak karena Karunia Allah dan Rahmat-Nya kepadamu semua. Niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih atau suci (dari Dosa) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (Q.S. An-Nuur : 21)

Yang dimaksud dengan “Khutuwatis-Syaitan” ialah perlakuan setan dan jalan setan, artinya janganlah kita menempuh jalan setan dan jangan pula mengikuti jejak bisikan-bisikan setan. Karena setan sering menyebarluaskan perbuatan keji dan munkar. Dan mendengung-dengungkan perkataan dusta dan berbagai kesesatan. Agar manusia terseret masuk ke Neraka.
Dalam Kitab “Tanbihul Ghoofilin” Hadits menerangkan, bahwa apabila datang waktu Azan, maka Iblis La’natullah memerintahkan bala tentaranya agar mereka bertebaran mendatangi manusia. Lalu memberi kesibukan kepada Muslim dan Muslimat, sehingga mereka meninggalkan Sholat.
Maka setanpun mendatangi orang yang belum melaksanakan Sholat, dan menghembuskan sifat malas kepada orang itu, sehingga ia melalaikan Sholat. Dan ada kalanya setan memotong atau mematahkan pekerjaan orang itu, sehingga orang tersebut disibukkan oleh kerja yang tak habis-habisnya. Ia tahu waktu Sholat sudah hampir habis, tetapi bisikan-bisikan setan memberatkan hatinya untuk meninggalkan pekerjaannya, Ah … sebentar lagi siap, sehingga lalai melaksanakan Sholat.
Kemudian ada setan yang mendatangi orang yang sedang melaksanakan Sholat dan menyibukkan fikirannya, sehingga kacaulah fikiran orang itu lalu mempercepat Sholatnya. Apabila setan tidak mampu berbuat demikian itu. Maka setan akan menyibukkan hati orang yang sedang Sholat tersebut, dengan menguris-guriskan rasa was-was, lalu hati orang itu diajak mengembara ke segala macam urusan dunia. Sehingga orang itu tidak tetap pada tempat berdirinya, yakni hilang kekhusu’annya. Fikirannya akan mengembara kesana kemari dalam Sholatnya.
Apabila Setan masih tidak mampu menggoda orang tersebut, maka setan akan kembali dengan tangan hampa. Dan merasa sangat rugi dan terhina. Kemudian Iblis La’natullah akan memerintahkan agar setan tersebut diikat lalu dibuang ke laut. Tetapi jika mampu menggoda manusia, maka setan tersebut, akan disanjung-sanjung serta diagung-agungkan oleh Iblis La’natullah.
Dalam hal ini Allah SWT telah memberikan bimbingan kepada manusia. Tetapi manusia kurang memperhatikan Al-Qur-aan, padahal mereka mengatakan Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta beriman kepada Kitab-kitab-Nya.

اِنَّــمَا يَـأْ مُـرُ كُـمْ بِـالسُّــوْءِ وَ الْـفَحْــشَـآءِ وَ اَنْ تَــقُــوْ لُــوْا عَــلَى الـلّـــهِ مَـا لاَ تَــعْــلَــمُـوْ نَ

“Sesungguhnya Setan itu kerjanya hanya merayumu untuk berbuat kejahatan dan perbuatan keji. Serta merayumu agar kamu mengatakan terhadap Allah, sesuatu yang tidak kamu ketahui”. (Mereka membayangkan Allah itu beranak dan berbentuk dan lain sebagainya) (Q.S. Al-Baqarah : 169)

يَـآ اَ يُّــهَاالَّـذِيـْنَ امَـنُـوْااسْـتَــعِـيْــنُـوْ ا بِـالصَّــبْـرِ وَالـصَّـلــو ةِ اِنَّ الـلّــــهَ مَــعَ الصّــبِــرِ يْـنَ

“Hai orang-orang yang beriman ! Jadikanlah Sabar dan Sholat menjadi pembantu (untuk mencapai cita-citamu). Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Q.S. Al-Baqarah : 153)

Sabar dan Sholat itu menenangkan Jiwa. Menetapkan Hati. Dan menjadi benteng dari perbuatan salah. Dan selalu mendorong agar manusia berbuat kebaikan.

وَ مَنْ يـَّــتَّــقِ الـلّـــــهَ يَـجْــعَــلْ لَّـه مَخْـرَجًا، وَّ يـَـرْزُ قْــهُ مِنْ حَــيْثُ لاَ يَـحْــتَـسِبُ وَّ مَنْ يَّــتَــوَ كَّـلْ عَـلَى الـلّـــهِ فَــهُــوَ حَــسْـــبُـه اِنَّ الـلّــــهَ بَـا لِــغُ اَ مْرِ ه قَـدْ جَــعَــلَ الـلّـــهُ لِـكُــلِّ شَيْ ءٍ قَـدْ رًا

“… Barangsiapa yang bertawakkal hanya kepada Allah. Niscaya DIA akan mengadakan baginya jalan keluar (dari kesulitan). Dan DIA akan memberi Rezeki yang tidak terduga-duga. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah. Niscaya DIA akan mencukupkan (segala keperluannya). Sesungguhnya Allah mengadakan ketentuan (ukuran) pada tiap-tiap sesuatu” (Q.S. At-Tholaaq : 2 - 3)

Wahai Insan !
Telah jelas dan terang Allah menyatakan di dalam Al-Qur-aan sebagaimana ayat-ayat di atas, tetapi mengapa masih saja ada manusia yang suka berteman dan mencari perlindungan kepada setan ?

وَ مَنْ يـَّـعْشُ عَنْ ذِكْـرِالـرَّحْـمنِ نُــقَـيِّـضْ لَـه شَــيْـطَا نًـافَــهُـوَ لَــه قَـرِ يْـنٌ

Dan barangsiapa berpaling dari Zikir kepada (Allah) Yang Maha Pemurah. Maka KAMI berikan kepadanya setan yang menjadi teman akrabnya”. (yang selalu menyesatkannya) (Q.S. Az-Zukhruf : 36)

وَ اَ نَّــهُـمْ لَــيَصُـدُّوْ نَــهُمْ عَنِ اسَّـبِــيْــلِ وَ يَحْسَــبُـوْنَ اَ نَّـــهُـمْ مُّـهْـتَـدُوْ نَ

“Dan sesungguhnya Setan itu merintangi mereka dari jalan yang benar. Namun mereka merasa bahwa merekalah yang mendapat petunjuk”. (Q.S. Az-Zukhruf : 37)

Untuk itu wahai insan !
Perhatikan dan simaklah diri dengan sebaik-baik pengertian, agar jangan merasa pongah dan angkuh terhadap apa yang ada pada kita. Sebab besar kemungkinan itu hanya kamuflase setan terhadap manusia, untuk mengelabui kita, sehingga kita merasa benar sendiri. Orang lain semua salah. Bertawakkallah kepada Allah dengan sebenar-benar Tawakkal.

اِسْـتَـحْـوَ ذَعَـلَــيْــهِمُ الشَّــيْـطَانُ فَـاَ نْـســهُمْ ذِكْـرَ الـلّـــهِط اُولــئِـكَ حِزْبُ الشَّــيْـطَانِط اِلاَّ اِنَّ حِـزْبُ الـشَّــيْــطَانِ هُـمُ الْـخـسِــرُوْنَ

“Setan telah menguasai mereka. Lalu menjadikan mereka lupa Mengingat Allah. Merekalah kelompok golongan setan. Ketahuilah bahwa sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang merugi”. (Q.S. Al-Mujaadalah : 19)

اِنَّ الْـمُـنــفِــقِــيْـنَ يـُخـدِعُـوْنَ الـلّــــــــــــــــــــهَ وَهُـوَخَـادِعُــهُـمْ
وَ اِذَا قَامُـوْ آ اِ لـىَ الصَّـلـو ةِ قَامُـوْا كُسَالى، يُـرَ آءُوْنَ الــنَّاسَ وَ لاَ يـَـذْ كُـرُوْنَ الـلّـــهَ اِلاَّ قَـلِــيْـلاً . مُّـذَ بْـذَ بـِـيْـنَ بـَــيْـنَ ذلـِكَ، لآ اِلى هـؤُ لآءِ وَ لآ إ لى هـؤ لآءٍ وَ مَنْ يُّـضْـلِـلِ الـلّــــهُ فَــلَـنْ تَــجِـدَ لَــه سَــبِــيْــلاً

“Sesungguhnya orang-orang Munafiq itu menipu Allah. (Mereka menyatakan beriman dimulutnya saja) Dan Allah akan menghukum mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk melaksanakan Sholat. mereka berdiri dengan lesu dan bersikap ria kepada orang ramai. Dan mereka sedikiiiit sekali Mengingat Allah”.
“Mereka dalam keadaan bimbang, antara (Iman dan kekafiran) itu. Tidak condong ke arah (Orang Mukmin) dan tidak pula ke arah (Orang kafir). Siapa yang disesatkan Allah. Niscaya engkau (ya Muhammad) tidak akan mendapatkan jalan untuk menunjukinya”. (Q.S. An-Nisaa’:142-143)

Wahai insan !
Takutlah kepada ancaman Allah SWT. Sangat banyak ayat-ayat yang menunjukkan kepada seluruh manusia tentang kabar duka cita ini, salah satunya :

خَــتَــمَ الـلّــــهُ عَــلى قُــلُــوْ بِــهِمْ وَعَــلى سَـمْــعِــهِـمْ وَعَـلى اَ بـْصَارِهِـمْ غِـشَاوَ ةٌ وَ لَـــهُـمْ عَــذَابٌ عَـــظِـــيْــمٌ

”Allah telah menutup Hati mereka dan Pendengaran mereka, serta pada Penglihatan mereka ada penutup (sehingga mereka tidak dapat melihat kebaikan). Untuk mereka-mereka itu siksa ‘Azab yang sangat berat sekali”. (Q.S. Al-Baqarah : 7)

Sadarlah Wahai Insan !
Jika Allah Jalla Wa’azza telah menunjukkan Jalal-Nya. Maka tidak ada seorang Makhluq yang sanggup untuk menolong orang yang terkena musibah tersebut. Sebab Kekuasaan Allah itu mutlaq dan sangat Perkasa.
Untuk itu, peliharalah Hati dan Fuad yang berada di dalam Sudur kita, semoga jangan terkena imbasan-imbasan dan rayuan-rayuan gombal setan yang durjana. Dan carilah Resep untuk terapi Hati dan Fuad tersebut. Sebab apabila Hati dan Fuad itu sakit, maka yang akan berantakan adalah orang yang ditempati Hati yang sudah sakit tersebut. Semoga saja kita diberi Resep yang ampuh dari Allah SWT yang berkenaan dengan penyakit Hati dan Fuad ini.

فَيْ قُــلُــوْ بِــهِمْ مَـرَضٌ فَــزَ ادَ هُـمُ الـلّــــهُ مَـرَضًا، وَ لَـــهُـمْ عَـذابٌ اَ لــِــيْـمٌ ، بِــمَـاكَـا نُــوْ ا يَـكْــذِ بُــوْ نَ

“Didalam Hati mereka ada Penyakit. (Buruk sangka). Maka Allah (akan) menambah Penyakitnya. Dan mereka mendapat ‘Azab yang sangat pedih. Karena mereka berdusta”. (Q.S. Al-Baqarah : 10)

Dengan demikian, maka manusia akan tambah menjadi-jadi dalam praktek kehidupan sehari-harinya. Mereka anggap semua rata, semua halal, semua boleh. Sehingga tidak sedikitpun niat dalam hatinya untuk kembali merenungi kesalahan demi kesalahan yang telah diperbuatnya.

صُــمٌّ بُـكْــمٌ عُـمْـيٌ فَـــهُـمْ لاَ يـَــرْ جِــعُــوْ نْ

“Mereka (itu telah) Tuli. Bisu dan Buta. Sehingga (tak ada ingatan) mereka untuk kembali”. (kepada jalan yang benar) (Q.S. Al-Baqarah : 18)

Wahai Ikhwanul Muslimin !
Pandang dan perhatikanlah Kitab Allah Al-Qur-aan :

يَـآ اَ يُّــهَـاالــــنَّاسُ اعْــبُـدُوْارَ بَّـكُــمُ الَّـذِيْ خَــلَــقَـكُـمْ وَ الَّـذِيـْنَ مِنْ قَـبْــلِـكُـمْ لَــعَــلَّــكُـمْ تَـــتَّـــقُــوْ نَ

“Hai Manusia ! Sembahlah Tuhan yang Menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu. (petunjuk ini diuraikan) agar kamu menjadi Taqwa (kepada Allah)” (Q.S. Al-Baqarah : 21)

14 March 2008

21. Tingkah Laku dan Perangai Umat Islam Terhadap Sholat

Jika diteliti keadaan Umat Islam dewasa ini terhadap pelaksanaan Sholat, maka dapat dibagi dalam tiga bagian :
a. Golongan yang Sholat.
b. Golongan kadang-kadang Sholat. Dan kadang-kadang tidak Sholat.
c. Golongan yang tidak Sholat.
Dari ketiga kelompok ini, sebenarnya memerlukan Terapi atau obat dan resep yang ampuh. Apakah itu merupakan injeksi-injeksi atau suntikan, agar dapat menyembuhkan jiwa dan batinnya yang telah mulai brengsek ? atau erosi oleh keadaan lingkungan yang lebih banyak mempengaruhi jiwa mereka-mereka. Sehingga mereka terlena dan ikut hanyut dibawa oleh arus kemajuan zaman yang sudah mulai menggila sekarang ini.
Apabila kita perhatikan betul-betul keadaan orang yang Sholat, maka terpampang di depan mata kita, bahwasanya kebanyakan manusia melahirkan berbagai macam sifat, tingkah laku dan perangai yang sangat mengecewakan. Kemudian jika kita renungkan sejenak, maka secara refleks kita akan menarik nafas dan mengurut dada, karena merasa sedih dan pilu, terenyuh bercampur gundah. Mengingat betapa nasib Sholat yang disia-siakan oleh umat yang melaksanakan Sholat itu sendiri.

Kelompok a-1.
Kelompok yang Sholat. Tetapi semau-maunya saja. Tidak memperdulikan kesempurnaan Syarat dan Rukunnya. Juga tidak mengacuhkan yang Sunat-sunat dalam Sholat. Serta tidak memperhatikan urusan yang Makruh-makruh dalam pelaksanaan Sholat tersebut.
Tegasnya ! mereka tidak mau tahu.
Apakah perbuatannya itu Rukun ?
Ataukah perbuatannya itu Syarat ?
Apakah ucapannya itu Wajib.
Atau ucapan Sunat ? Mereka kira kalau sudah melaksanakan Sholat, kemudian membaca Surah Al-Fatihah dan Ayat. Kemudian Rukuk dan Sujud, kemudian Salam. Maka pelaksanaannya sudah cukup sempurna Sholatnya. Dan beres persoalan Sholat, yang penting sudah masuk ke Masjid lalu Sholat berjama ’ah. Kelompok demikian ini telah diterangkan Allah dalam Firman-Nya :

يـآ اَ يُّــهَا الَّـذِ يْـنَ امَــنُـوْ الاَ تَــقْـرَ بــُوْا الصَّــلاَ ةَ وَ اَ نْــتُــمُ سُـكَـارى حَـتَّى تَــعْــلَــمُوْ ا مَا تَــقُــوْ لُــوْ نَ

"Hai orang-orang yang Beriman ! Janganlah kamu dekati Sholat jika kamu dalam keadaan mabuk. Hingga kamu mengerti apa yang kamu katakan".
(Q.S. An-Nisaa’ : 43)

Kalimat mabuk di atas, menurut kebiasaan orang mabuk maka ia tidak mau tahu tentang apa yang dikerjakannya. Dan tidak peduli apa hasilnya, yang penting beres untuk saat itu, lantas ia tidur pulas di parit.
perhatikanlah ayat :

وَ لاَ تَــكُــنْ مِّنَ الْـــغَا فِـــلِــيْــنَ

"Dan janganlah kamu menjadi orang-orang yang lalai". (Q.S. Al-A’raaf : 205)

Kelompok a-2.
Kelompok Orang yang Sholat karena pengaruh kebiasaan dan pengaruh tradisi. Karena itu Sholatnya sama saja dikala ia masih muda belia sampai tua renta. Mereka samakan sewaktu ia masih dikepit Ibu-Bapaknya, saat ia berdiri di samping Ayahnya ketika Sholat di Masjid atau Musholla.
Kelompok Orang yang Sholat menurut cara yang diperolehnya sewaktu belajar di waktu kecil dahulu, yakni jauh dari sempurna ! Namun mereka malu atau tidak mau mengulang belajar untuk menambah ilmu tentang Sholat dan mendalami cara-cara Sholat yang baik.

عَن أَبِـى هُـرَ يْـرَ ةَ رَضِيَ الـلّـــهُ عَـنْـهُ قَالَ : قَالَ رَسُـوْ لُ الـلّـــهِ صَـلَّى الـلّـــهُ عَـلَــيْــهِ وَسَــلَّـمَ : أُسْـوَ أَلــنَّـاسِ سَــرِقَــةً الَّـذِيْ يـَسْـرِقُ صَــلاَ تَــهُ ، قَالَ : وَ كَـــيْـفَ يـَسْـرِقُ صَـلاَ تَـــهُ ؟ قَالَ : لاَ يــُـتِــمُّ رُ كُــوْ عَــهَا وَ لاَ سُـجُــوْ دَ هَـا

"Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata : Rasulullah Saw. bersabda : "Orang yang paling jahat dalam melakukan kejahatan adalah orang yang mencuri (dalam) Sholatnya. (Abu Hurairah) bertanya : "Bagaimana orang mencuri Sholatnya itu ? Sabda Beliau : "Yaitu orang yang tidak menyempurnakan Rukuk dan Sujudnya". (H.R. Ibnu Hibban)

Tegasnya ! Mereka tidak memahami sedikitpun pengertian tentang Sholat. Ia tidak tahu untuk apa ia laksanakan setiap hari. Mereka anggap itu sudah menjadi kebiasaan Ayah dan Ibu semasih hidupnya, aku hanya meneruskannya saja. Dan mereka tidak ingin tahu apa makna yang diperbuatnya itu. Kelompok demikian ini termasuklah yang diperingatkan. Firman :

فَـوَ يْـلٌ لّـِلْـمُصَــلِّــيْـنَ ، ا لَّـذِ يْـنَ هُمْ عَنْ صَــلاَ تِــهِـمْ سَاهُـوْ نَ

"Celakalah bagi orang-orang yang Sholat. Yang mereka itu lalai dari (meneliti dan memantapkan) Sholatnya”. (Q.S. Al-Ma’uun : 4 - 5)

Dimaksud lalai disini ialah tidak mau memahami apa yang dikerjakannya. Mereka tidak mau mengulang pelajaran, untuk apa kebenaran Rukuk dan I’tidal, Sujud serta Salam. Mereka mengira gerakan-gerakan dalam Sholat itu sama saja dengan gerakan-gerakan di luar Sholat.

Kelompok a-3.
Kelompok yang Sholat. Tetapi dengan cara meniru-niru kerja orang lain. Diawali Sholat di Masjid saat orang Sholat berjama’ah, maka iapun ikut serta, lalu terfikir olehnya. Oh… Begini kiranya cara Sholat itu ! Lalu perhatiannya dicurahkan untuk melanjutkannya dalam praktek Sholat berikutnya. Orang Ruku’, iapun ikut Ruku’. Namun ia tidak mau belajar kepada Guru-guru atau Ustadz-ustadz maupun Faqih yang faham mengenai hal-hal Sholat dan yang dapat membimbing untuk Sholat yang baik. Maka sudah tentu dalam pelaksanaan Sholatnya terjadi tunggang balik serta awut-awutan. Dan pada saat yang demikian, anaknya turut pula ber-Imam kepadanya. Lantas Anaknyapun menuruti apa yang dikerjakan Ayahnya. Demikian berlanjut terus menerus ke anak cucu. Maka tanggungkanlah ‘Azab Api Neraka Wail………

Kelompok a-4.
Kelompok Orang yang Sholat. Namun Wudhu'nya kurang sempurna. Bahkan jauh dari sempurna. Jika kita perhatikan Perintah Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 6 menyatakan bahwa orang berwudhu' itu seharusnya membasuh dari jari tangan ke siku. Tetapi kebanyakan manusia malah terbalik. Mereka menyiramnya dari siku ke tangan. Demikian pula kaki. Diperintahkan Allah dari jari kaki ke mata kaki. Namun orang membasuhnya dari mata kaki ke jari kaki. Allah memerintahkan agar membasuh atau menyapu kepala. Namun manusia menyapu dahinya. Yang demikian ini kita perhatikan pada tayangan Televisi-televisi yang dipantau mereka pada Masjid-masjid yang ternama di seluruh kota besar. Dan ditayangkan pada saat Azan Maghrib tiba atau pada Masjid-masjid ketika hari Jum’at. Bahkan perbuatan demikian itu, mereka lakukan sehingga sampai tua renta. Apakah mereka tidak mau belajar, atau malu bertanya, atau memang blo'on kian dari sononya.
Sadarlah ! Jika perbuatan kita terasa tidak serasi dengan orang lain, sebaiknya robahlah. Boleh-boleh saja kita belajar dari keadaan. Tetapi yang baik adalah bertanya kepada Guru, Ustadz dan Ulama yang meng ’amalkan ilmunya.

Kelompok a-5.
Kelompok Orang yang Sholat. Tetapi mereka condong membenarkan Golongan yang mereka sanjung-sanjung dan mereka Kultur. Mereka menganggap bahwa Kelompok dan Golongan merekalah yang paling baik dalam pelaksanaan Sholat. Sehingga mereka tidak mau masuk ke dalam Masjid orang lain. Karena mereka anggap Masjid tersebut hanya tempat pelaksanaan Bid’ah-bid’ah. Penghuninya lebih banyak berbuat syirik. Demikian anggapan orang yang tinggi hati, congkak dan sombong.
Dan yang sangat tragis. Pada tahun 1986. Suatu ketika Penulis pernah memasuki suatu Masjid di pinggiran Kota Medan. Ingin menumpang untuk melaksanakan Sholat ‘Ashar, kebetulan para Jama’ah telah selesai melaksanakan Sholat ‘Ashar. Penulis juga sadar diri, bahwa setiap orang menumpang harus menghormati manusia-manusia yang ada di dalam Masjid. Maka dengan mengucapkan Salam seadanya, kemudian berwudhu', lantas berjalan dari tempat berwudhu' ke tempat yang telah tersedia. Kemudian Sholat Fardhu ‘Ashar hingga selesai. Namun aneh bin ajaib Penulis rasakan, begitu penulis selesai Sholat, kiranya di belakang Penulis telah berdiri Nazir Masjid. Ia membawa seember air dan alat pengepel, berupa sebatang kayu yang ujungnya terikat sumbu kompor, lalu membersihkan tapak bekas Penulis Sholat tadi. Kemudian mengikuti ke mana Penulis berjalan sembari menyorong alat pel tersebut, tidak berhenti menyapu bekas tapak kaki yang Penulis lewati hingga sampai ke luar Masjid. Apakah begini cara-cara Muslim ………?
Setelah Penulis sampai di luar Masjid. Kemudian Penulis bertanya kepada Nazir.
“Mengapa Tuan pel bekas yang saya lewati, padahal tidak ada kotoran di sana.
Jawabnya, ”Masjid golongan kami, tidak boleh dimasuki oleh orang-orang yang ber-Najis. Jika mereka memaksa masuk juga, maka kewajiban kami untuk menyamaknya”.
Tanya : "Dari sudut mana Tuan lihat saya ber-Najis ?"
Jawab :“Yang bukan satu golongan dengan kami berarti Najis !”. Kemudian Penulis jawab,
“Pandanglah diri Anda. Bukankah itu gentong tai ! Apakah bukan Najis ? Dari mulai ketombe, tai kuping, tai mata, tai hidung, tai badan namanya daki. Tai dubur dan qubul”.
Matanya melotot memandang kepada Penulis.
Penulis sadar, rasanya tidak perlu diteruskan dialog, sebab hanya akan menimbulkan pertengkaran. Penulis beranjak pulang dengan berfikir panjang ……. Kiranya masih ada Kelompok dan Golongan-Golongan di dalam Islam ? Dan mereka menganggap bahwa Golongan dan Kelompoknya yang paling benar. Orang lain semua salah. Apakah demikian kebenaran Islam itu ???????Setelah ditanya, kiranya adalah Masjid Kelompok Ahmad Qadian yaitu Kelompok Gulam Ahmad.

Kelompok a-6.
Kelompok Orang yang Sholat dengan berkeyakinan bahwa apabila dilaksanakan secara rutin, niscaya Allah akan menerimanya. Maka tidak perlu lagi belajar untuk urusan-urusan yang sepele. Bukankah Allah itu Maha Pengampun kepada hamba-Nya ?! Inilah suatu keyakinan yang lebih buta dari orang yang paling buta !!!
Sebab manakala manusia berfikiran demikian ini, maka tidak akan pernah tumbuh keinginannya untuk belajar mendalami ilmu-ilmu tentang masalah Sholat. Walaupun ia pasrah kepada Allah. Tetapi kepasrahannya tersebut pasrah yang tidak berilmu, alias pasrah bodoh. Maka termasuk ke dalam golongan Munafiq.

Kelompok a-7.
Kelompok Orang yang Sholat. Tetapi tidak memerlukan Khusu’ dalam Sholat. Mereka Sholat dengan tergesa-gesa seakan-akan sedang dikejar Setan. Atau seperti orang yang sedang menahan buang hajat, sebagaimana kita ketahui, orang begini akan berjuang mati-matian, dari desakan yang akan memancar keluar. Maka dengan sendirinya hilanglah Khusu’nya dalam melaksanakan segala sesuatu perbuatan. Yang tinggal dalam pekerjaan itu, hanya rupa dan gerakan yang tidak indah. Orang lain melaksanakan Sholat, disertai dengan Wirid-wiridnya akan memakan waktu lima menit. Tetapi ia melaksanakan Sholat hanya sekitar dua menit. Maka pekerjaan itu semua, tidak akan mendapat nilai tambah dari Allah. Besar kemungkinan malah akan mendapat Murka-Nya. karena pelaksanaannya tidak mengikuti seperti yang di perintahkan Allah dan Rasul.

Kelompok a-8.
Kelompok Orang yang Sholat dikarenakan oleh suatu tujuan keperluan dunia. Seperti mereka Sholat agar diperhatikan oleh orang lain. Kemudian orang banyak akan mengatakan bahwa ia sangat Ta’at dan Wara’ dan akan menganggap ia adalah orang yang jujur, lantas akan mendapat kepercayaan untuk memegang suatu jabatan yang tertentu dikalangan manusia. Padahal tujuan orang yang semacam ini, adalah agar ia lekas naik jabatan atau memangku jabatan-jabatan penting. Lalu bisa diselewengkannya untuk kekayaan pribadinya.
Atau dalam angan-angannya, agar nanti ia diberi fasilitas modal oleh Investor. Dengan demikian ia akan mudah menjadi kaya raya. Padahal menurut kebiasaannya, setelah kaya-raya ia enggan untuk berinfaq dan bersedekah, persis seperti Tsak Labah pada zaman Nabi Saw. Malah ia pergunakan kekayaannya untuk membunuh kemerdekaan lawan politiknya, dengan menghambur-hamburkan uangnya membiayai Gangster dan Sindikat Mafia yang memang sudah menjamur di seluruh kota-kota besar dunia. Padahal jika ia baca sejarah bagaimana matinya Onasis Siraja Minyak Italia yang terkenal, yang menikahi mantan istri Presiden Kennedy. Maka ia tidak akan sanggup berbuat demikian.
Kemudian ada kelompok yang Sholat, agar dilihat oleh orang kaya atau bakal mertuanya bahwa ia adalah orang yang ta’at. Sehingga dinikahkan dengan anaknya, kemudian hidupnya menjadi senang. Demikianlah seterusnya.

Kelompok b-1. Yang tidak Sholat.
1. Seandainya kita pandang dengan Haqikat ‘Ilmu, maka terlihat kesibukan demi kesibukan pada zaman sekarang, yang dikatakan orang sudah semakin maju dalam tatanan hidup dan didampingi dengan ilmu pengetahuan yang canggih. Sehingga manusia tidak pernah tidak sibuk. Walaupun itu pada waktu Sholat Maghrib maupun pada waktu Sholat Jum’at. Manusia masih saja hilir mudik kesana kemari, sesuai tujuannya masing-masing.
Mereka tidak perduli dengan seruan Azan. Baik Azan Zuhur maupun ‘Ashar. Kita perhatikan mereka berdagang di muka atau di samping Masjid. Namun pada hari Jum’at, mereka tetap tidak beranjak dari tempat mereka berjualan. Mereka seenaknya saja melelang dagangannya, seakan-akan tiada beban untuk melaksanakan Sholat Jum’at. Ketika kita bertanya kepada mereka. ”Apakah Anda Muslim ? ”Mereka menjawab dengan pesat “Ya. Saya Muslim sedari kakek-kakek saya”. Lalu sambil melangkahkan kaki kitapun berfikir. Bagaimana mungkin seorang Muslim, pada hari Jum’at mereka tidak mau melangkahkan kakinya masuk ke dalam Masjid ? Apakah sudah dapat keringanan ? Tetapi kapan pula ada keringanan bagi Laki-laki. Bukankah lelaki tidak pernah dapat Bulan ? Begitulah manusia dunia. Kendatipun mereka setiap saat membawa-bawa Nikmat Allah Jalla Wa’azza. Kemana mereka pergi, yaitu nikmat mata bisa melihat. Nikmat telinga bisa mendengar. Nikmat mulut bisa makan, minum dan berbicara. Nikmat otak bisa dibawa berfikir. Nikmat tangan bisa memegang. Nikmat kaki bisa melangkah. Dan setiap detik mereka menghirup udara. Setiap waktu mereka mereguk air. Setiap saat mereka memakan makanan yang ditumbuhkan Allah di muka bumi. Setiap waktu mereka memijak bumi. Tetapi … mereka enggan menghambakan diri kepada Allah. Pencipta seluruh Alam.
Bukankah mereka telah diberi Allah nikmat kesehatan sehingga dengan kesehatan itu, mereka bisa berusaha. Dan mereka diberi tenaga dan kekuatan. Dengan tenaga dan kekuatan tersebut, mereka bisa bekerja walau pun berat.
Selayang pandang mengarahkan perhatian. Maka sadarlah kita. Bahwa sudah banyak manusia terjangkit penyakit kronis. Jiwa mereka sudah terkena virus yang sangat ganas dan membahayakan keselamatan Haqikat Islam. Agama yang disanjung-sanjungnya.
Ke-Islaman mereka hanya tertera pada KTP. Mereka membaca Dua Kalimah Syahadat hanya satu kali saja, itupun di muka P 3 N Kadhi untuk Nikah. Dalam Mengucapkannyapun dengan terbata-bata. Seandainya mereka tidak Nikah. Mungkin selama hidupnya tidak pernah membaca Dua kalimah Syahadat. Golongan demikian ini jika Menyunat Rasulkan Anaknya, atau Kematian keluarganya baru nampak bahwa mereka adalah orang Islam. Jika tidak ada sesuatu yang terjadi di dalam keluarganya, mereka tidak pernah dekat dengan Islam. Apakah mereka ini yang tergolong dinamakan orang “Nat - Win - Ti”, yakni Sunat - Kawin - Mati. Dalam hal demikian ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur-aan :

يـَآ اَ يُّـهَاالَّـذِ يْـنَ امَـنُواادْخُـلُـوْا فِى السِّـلْمِ كـآ فَّــةً ، وَ لاَ تَــــَّبِـعُـوْا خُطُـوَ اتِ الـشَّــيْـطَانِ اِ نَّـــه لَــكُـمْ عَـدُوٌ مـٌّـبِــيْــنَ


“Hai orang-orang yang beriman ! Masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh. Janganlah kamu turutkan rayuan gombal setan. Sesungguhnya setan itu musuhmu yang sangat nyata. (Q.S. Al-Baqarah : 208)

2. Salah sangka dan salah persepsi kemudian salah menilai. Ada kelompok yang tidak mau Sholat. Disebabkan mereka berpendapat bahwa Sholat itu Ibadah yang dilaksanakan untuk meluruskan Akhlaq dan Budi pekerti bagi orang-orang yang tidak mempunyai kecerdasan sama sekali. Justru yang berpendapat begini adalah manusia-manusia yang telah menyetorkan uangnya keperguran tinggi di Eropa (Barat).
Kemudian mereka mendapat Titel ilmuwan. ”Prof. Falsafah Timur dan Barat”.“Prof. Ilmu Teknologi Barat”. “Prof. Dr. Luar Angkasa Barat”. Prof. Dr. Kandungan Tanah dan Air dari Barat”. Apakah ini yang digambarkan oleh legendaris Tiongkok Sun-Go-Kong yang juga mengambil Kitab ke Barat ?
Pokoknya bagi mereka sangat takjub dengan urusan dari Barat. Mereka menyangka, seakan-akan ilmu dari Barat itu bisa membuat orang menjadi kaya raya, sehingga ilmu-ilmu dari Timur tidak perlu di pusingkan.
Dengan demikian, bagi mereka-mereka yang telah memiliki ilmu dari Barat. Tidak memerlukan Sholat lagi. Karena Sholat itu hanya untuk orang-orang Surau, seperti Pak Haji dan Pak Kiyai. Pak Tani dan Nelayan. Pak Qadhi dan Masyarakat Jembel-jembel yang tidak mempunyai pengetahuan alias Dungu-Bodoh-Kumuh dan Kampungan …….
Yang sangat menyengat fikiran kita, ialah masih ada kelompok yang mengatakan bahwa Sholat itu untuk menghubungkan diri kepada alam gaib. Mereka tidak perlu mempunyai kepercayaan yang berhubungan dengan alam gaib. Mereka telah tertipu oleh kebendaan yang menyesatkan mereka ke lembah Neraka Jahannam. Sungguh mereka tertipu ! Kelompok ini tidak saja meninggalkan Sholat. Bahkan mencibirkan bibir dengan urusan yang berkaitan dengan pelaksanaan Sholat.
3. Kelompok tidak Sholat, tetapi tidak merasa berdosa. Berhubung mereka tidak mengerti sama sekali dengan kepentingan Ibadah Sholat. Oleh karena itu mereka berani meninggalkan Sholat. Sebab mereka dilahirkan, hidup dan dibesarkan dalam masyarakat yang tidak pernah melaksanakan Sholat. Mereka tidak pernah melihat orang tuanya melaksanakan Sholat. Demikian pula masyarakatnya. Hanya sesekali mereka wirid atau membaca do’a selamat di rumahnya. Hanya itu, selebihnya tidak. Kemudian mereka terbawa arus berlomba-lomba mengejar kekayaan materi dan kemewahan dunia lainnya, selanjutnya, itulah yang menjadi dambaan hatinya sehingga ajal melabrak nyawanya. Orang yang demikian ini, tidak akan pernah merasa berdosa jika mereka tidak Sholat. Walaupun cerita dan berita dosa itu sering di dengarnya di kafe-kafe atau di dalam media televisi. Para Ustadz menyampaikan masalah dosa, itu semua dianggap angin lalu. Karena tak ada yang harus difikirkan tentang dosa itu. Hidup bersenang-senang. Mati ditanam. Habis perkara.
4. Kelompok Tidak Sholat, karena pengaruh Malas.
Mereka mengakui ada Fardhu atau Wajib Sholat. Namun oleh karena pengaruh malas lebih dominan di dalam dirinya, maka hilanglah keinsyafan dan kesadarannya untuk menghubungkan diri kepada Allah. Sehingga mereka tidak memperdulikan akibat yang akan dihadapinya nanti di Yaumil Mahsar. Kalaupun ada datang rasa insaf yang menggebu-gebu ke dalam dirinya. Maka mereka mencari pelarian kepada minuman memabukkan.
5. Tidak Sholat, karena pengaruh masa muda.
Sebagian Muda-Mudi merasa bahwa urusan Sholat adalah urusan orang Tua-tua. Itu adalah pakaian orang yang telah veteran dan pensiun. Sholat adalah pakaian bagi mereka-mereka yang sudah tidak suka kepada dunia lagi. Kelompok ini berpendapat bahwa masa muda itu harus dipergunakan sesuai dengan forsinya, yaitu untuk mencapai kenikmatan dan semua keinginan syahwat, dan mencapai segala yang diinginkan oleh fitrah diri. Mumpung masih muda. Selagi masih boleh dimakan dan diminum, maka makan-minumlah. Selagi bisa dipakai, maka pakailah walaupun pakaian itu transparan. Mereka tidak perduli apa kata orang, dan mereka anggap Ayah-Ibunya sebagai Tunggul lapuk yang sedikit lagi ambruk digerogoti oleh masa.
Setelah tua renta. Setelah bangkotan beruban. Barulah mereka mau taubat. Seakan-akan disanalah alam mereka untuk membayar hutang-hutang yang telah dilewatkan selagi masih muda dahulu. Dan disitulah mereka akan berkifrah dalam Agama sebanyak mungkin untuk menebus kesilapan dan kesalahan yang telah lalu. Demikian buah fikiran yang tumbuh dalam benak mereka.
Bukankah itu fikiran dan perasaan mereka ? Apakah mereka sudah dapat mengkalkulasikan usia yang ada pada mereka ? Bukankah besok seseorang bisa mengalami maut ? Lalu kapan kesempatan untuk Taubat seperti yang diimpi-impikannya itu ? Dan sering kita lihat, orang yang demikian terlanjur sering durhaka kepada Allah SWT sehingga maut datang menjeput. Karena telah merasa keenakan dengan tidak melaksanakan Sholat tersebut. Pada hari tua mereka tinggal makan dan minum menghabiskan materi yang telah dikumpulkan. Sesekali kita lihat mereka membuka-buka Kitab kecil, kita kira itu adalah Surah Yaa-Siin. Kiranya kitab Erek-erek Jakarta. Demikianlah jika Allah hendak menyesatkan seseorang, mereka tidak akan mendapat petunjuk :

لَـه مُـعَــقِّـبتٌ مِّنْ بـَــيْـنِ يَـدَ يــْهِ وَمِنْ خَـلْـفِـه يَـحْـفَـظُـوْ نَـه مِنْ اَمْرِ الـلّـهِ اِنَّ الـلّــهَ لاَ يــُـغَــيِّـرُ مَـابِـقَـوْ مٍ حَـتَّى يُــغَــيِّــرُوْ ا مَـابـِـأَ نْــفُـسِــهِـمْ وَ اِذآ اَرَ ادَ الـلّــهُ بِـقَـوْ مٍ سُوءً فَـلاَ مَرَ دَّ لَــه ، وَ مَا لَــهُمْ مِّنْ دُوْ نِـه مِنْ وَّ الٍ

“Bagi manusia ada Malaikat-malaikat yang menjaganya bergiliran. Di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya dengan Perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan merobah keadaan sesuatu kaum. Sehingga kaum itu merobah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki kehancuran sesuatu kaum. Maka tidak ada yang sanggup mencegahnya. Dan tidak ada Pelindung mereka selain Allah”. (Q.S. Ar-Ra’d : 11)

Perhatikan dan simaklah ayat Al-Qur-aan di atas. Semoga bisa membangkitkan semangat belajar bagi kita yang masih memerlukan ilmu pengetahuan. Tidak ada masalah kedaluarsa dalam bidang menuntut ilmu. Walaupun sudah tua. Namun kita masih memerlukan bimbingan dalam segala bidang. Dan tidak tertutup kemungkinan, bahwa kita memang belum punya ilmu.
6. Kelompok Tidak Sholat, karena pengaruh fikiran yang kacau.
Manusia pada zaman sekarang sangat banyak bermasalah dengan fikirannya, sehingga fikirannya selalau kacau balau. Dan Hatinya sedih tidak karuan. Apakah itu dikarenakan tertimpa musibah. Kematian Orang tua atau Anak. Ada juga yang keluarganya Broken Home, karena narkoba maupun keretakan hubungan Suami-Istri, sehingga keluarga jadi berantakan. Dan masih banyak masalah keluarga yang dijadikan kambing hitam, sebagai alasan meninggalkan Sholat tersebut.
Jika ditanya oleh Anaknya, "Ayah, mengapa tak mau Sholat ?", jawabnya, "Susah fikiran Ayah memikirkan Ibumu ! sudah pergi sana, engkau saja Sholat dahulu”
Lalu kitapun turut berfikir. Apakah musibah atau urusan rumah tangga yang berantakan dan lain sebagainya itu adalah Cobaan dan Ujian Allah, atau Laknat Allah ? Untuk selanjutnya Penulis serahkan kepada Anda pelaku semua Pemikir ………
7. Kelompok tidak Sholat karena takut akan hilang kesaktiannya.
Sewaktu usianya masih muda mereka telah menerima ilmu magic seperti ilmu Bolo Sewu, ilmu Kebal Panglima Nayan, Ilmu Ringin Sunsang, Ilmu Rawe Rontek, Ilmu Andam Dewi, Ilmu Gelap ngampar, Pupuh Bayu dan lain sebagainya. Pokoknya ilmu yang bukan lahir dari Al-Qur-aan dan Hadits. Manakala mereka Sholat, seakan-akan di tunjangkan orang dari belakang. Kemudian kepala akan pusing, semua tulang belulang akan terasa mendenyut tidak terkira. Maka merekapun berani meninggalkan Sholat.
Termasuk insan yang tak tahu diuntung ! Sebab ia lebih takut kehilangan kedigjayaannya. Daripada kehilangan Allah SWT yang telah menciptakan dirinya dan seluruh alam yang ada.
Barang siapa yang telah terbiasa.
Dikala mudanya berkawan dengan jembalang.
Meninggalkan kebiasaan buruk, tidak kuasa.
Walau nyawanya sudah hampir melayang !

c. Golongan Kadang-kadang Sholat Kadang tidak.
Sebab-sebabnya banyak pula. Di antaranya disebabkan oleh kawan seiring jalan tidak Sholat. Maka iapun enggan melaksanakan Sholat sendirian, yang demikian ini menurut biasanya, mereka agak risih juga. Tetapi setelah beberapa waktu ditinggalkannya, maka ia sendiri ketagihan bahkan merasa enak tak Sholat. Katanya ini partisipasi kepada kawan. Tak disadari perbuatannya itu malah akan mendapat Laknat dari Allah.
Ada yang sibuk dan repot oleh ikatan Pekerjaan atau Dinas. Jika ditinggalkan sejenak untuk melaksanakan Sholat, maka akan tersita waktu kerjanya. Kemudian akan didamprat oleh atasan, atau dipecat dari pekerjaan.
Ingatlah !
Mukmin yang ta’at itu, tidak takut dipecat oleh Atasan. Ia lebih takut jika di pecat Allah selaku hamba-Nya. “Renungkanlah ……… “
Kemudian ada yang menyangka bahwa Sholat itu adalah sebuah alat untuk mencapai kesenangan dan kekayaan harta yang berlimpah ruah. Jika ini tidak didapatkannya, lalu ia tinggalkan Sholat dengan sengaja. Maka Sholatnya bubar ………
Karena capek malam nunggging siang nungging, buka buku tak ada debit kreditnya.
Bagaimana mungkin ada debit dan kreditnya, sebab buku yang dibukanya adalah Al-Qur-aan dan Hadits. Siang malam Rukuk dan Sujud di dunia ini tidak akan nampak hasilnya. Tetapi nanti di Yaumil Mahsyar hasilnya Surga Jannatun Na’iim.

Wahai insan !
Sholat itu bukanlah alat untuk menjadikan orang kaya raya. Kegunaan Sholat itu adalah menjalin hubungan antara hamba kepada Tuhan-Nya. Dan merupakan terjemahan ucapan Syukur kepada Allah yang telah menciptakan seluruh alam dan semua yang ada, termasuklah dirinya.
Ada segolongan wanita, alasannya sibuk dan repot karena heboh menyusui anaknya yang masih bayi. Sering basah kuyub oleh air kencing dan beol si anak. Itu bukan suatu alasan. Sebab anak dan harta itu adalah suatu ujian bagimu. Apakah kamu termasuk golongan Beriman atau Fasiq ?!
Kemudian ada wanita yang berani meninggalkan Sholat dengan alasan karena suaminya Fasiq. Kemudian iapun meninggalkan Sholatnya. Wahai Wanita ! Ayah atau Ibu atau Suami yang membawa kepada kefasikan, tidak perlu kita ikuti tingkah lakunya. Karena kita tidak mau diseretnya ke dalam Neraka Jahannam. Yang baik, coba tunjukkan kepada mereka kegigihan kita dalam melaksanakan Ajaran Allah dan Rasul-Nya. Sehingga mereka menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan.
Contohnya adalah Nabi Ibrahim As. Beliau tidak sungkan-sungkan meninggalkan kedua orang tuanya, jika memang disuruh menyembah patung-patung Berhala buatan tangan mereka sendiri. "Allah lebih pantas untuk disembah"
Seribu satu alasan yang dikemukakan oleh manusia. Padahal itu semua hanya untuk mendustai dirinya sendiri. Allah Maha Tahu Zahir dan Batin.

Demikian secuil gambaran kehidupan manusia yang Hatinya berpenyakit !
Apa Resep Obat atau Terapi khusus, bagi yang Sholat tapi kurang sempurna ?
Apa Resep Obat atau Terapi khusus, bagi yang tidak melaksanakan Sholat ???
Apa Resep Obat atau Terapi khusus, bagi yang sekali Sholat sekali tidak ?????
Kami serahkan kepada Pakarnya. Para Ulama dan Ustadz-Ustadz serta para Mu’alimah … …

08 March 2008

20. Pembagian Rukun Sholat

Rukun Sholat itu Terbagi Tiga Bagian :
Rukun Qolbi
Rukun Qouli
Rukun Fi‘li

1. Qolbi.
Takluknya kepada sifat ‘Ilmu, yaitu :
a. Niat.
b. Tertib.
Ketiganya itu semuanya takluk kepada sifat ‘Ilmu, karena letaknya di dalam batin. Niat dan Tertib ini, keduanya terbit dari “Hati” dan lahirnya yang wajib dalam Niat Sholat itu ada tiga bagian pula :


قَـــصَـــدْ Sengaja memperbuat sesuatu

Maka tidak akan menjadi Sah Sholat, bagi orang yang tidak ada unsur kesengajaannya untuk Sholat. Umpamanya ia rasa itu hanya untuk main-main, lalu ia berbuat acak-acakan saja.

تَــعَــرَ ضْ Menyatakan Sifat Sholat Fardhu atau Sunat

Ini mesti diperbuat. Karena ia akan menunjukkan perbedaannya apakah Sholatnya itu Fardhu atau Sunat dan menyatakan Sholat Ber-Imam atau Sholat sendiri-sendiri.

تـعْـيـنْ Menegaskan Sholat apa

Umpamanya ia Sholat Subuh, Zuhur, ‘Ashar, Maghrib, ‘Isa, atau Sholat Idul Fitri, Sholat Idul Adhha, Tarawih, Tahajjut, Witir, Dhuha dll.

Tiga unsur inilah yang wajib dinyatakan dalam Niat. Dan di samping itu masih ada lagi unsur-unsur lain yang sunat dikemukakan dalam Sholat, yaitu :
1. Menyatakan raka’atnya 2, 3 atau 4. Supaya tentu kedudukannya.
2. Menyatakan Menghadap Qiblat. Ini agar meyakinkan bahwa kita benar-benar Sholat. Menghadap Qiblat yang telah ditetapkan Allah SWT.
3. Menyatakan Tunai atau Qodhoan. Ini untuk menjelaskan. Apakah Sholat itu adalah Sholat pada waktunya atau Sholat untuk membayar yang kelupaan. (Diluar waktunya).
4. Menyatakan semata-mata hanya karena Allah. Ini menunjukkan keikhlasan orang yang melaksanakannya. Dengan demikian, jelaslah apa yang sering diperdebatkan oleh mereka-mereka yang kurang memahami Metoda demikian ini. Sehingga Umat Islam saling tuding menyalahkan antara satu dengan yang lainnya.

Jika dijumlah yang wajib dengan yang Sunat dalam Ber-Niat itu ada Tujuh.

Perhatikan kembali Pelajaran yang di atas.
Dan sekiranya dituliskan Niat tersebut dalam Bahasa Arab maka berbunyi :

أُ صَــلِّى فَـرْضَ الـظُّــهْـرِأَ رْ بَــعَ رَ كَــعَاتٍ مُسْــتَــقْـبِــلَ الْــقِــبْــلَـةِ أَدَ آ ءً لــِلَّــهِ تَــعَالَى

“Sengaja aku Sholat Fardhu Zuhur empat Raka’at Menghadap Qiblat tunai karena Allah Ta’ala”


Kalimat inilah yang mengorbit dari dalam Hati selaku Niat yang kita laksanakan sewaktu kita mau mendirikan Sholat wajib. Dan bacaan yang diucapkan di bibir tersebut adalah untuk mendorong kerja Hati belaka, agar mantap dan teguh melaksanakan Niatnya.
Namun ada sebagian orang yang tidak mau dengan cara begini, silahkan saja bagaimana Metoda yang ia ketahui. Yang penting ia mau mendirikan Sholat.

2. Rukun Qouli. Perkataan Lidah. Takluknya kepada sifat Sama’ (Mendengar).
a. Takbirotul Ihram.
b. Membaca Al-Fatihah.
c. Tahyat Akhir.
d. Shalawat atas Nabi Saw.
e. Salam.
Kelimanya ini terbit dari pekerjaan "Lisan".

3. Rukun Fi’li.
Gerakan Anggota Tubuh. Takluknya kepada sifat Bashar (Melihat).
a. Berdiri betul.
b. Rukuk.
c. I’tidal.
d. Sujud.
e. Duduk antara dua Sujud.
f. Duduk Tahyat Akhir.
Keenamnya ini terbit dari pekerjaan anggota "Tubuh".

Demikianlah jalannya Metoda Maqronah ‘Urufiyah tersebut. Lantas, apabila terhimpun dan hadir yang tiga tersebut terlebih dahulu, Lalu disertakan ia tatkala menyebut "Allahu Akbar". Dengan Qoshod – Ta'arodh - Ta’yin.
Maka sangat jelas bagi kita, bahwa manakala disebut "Allahu Akbar", maka ketiga Rukun tersebut bekerja sama sekaligus atau serentak yaitu :
"Kerja "Lidah". Kerja "Gerakan Tubuh". Kerja "Hati". Umpama kita pergi ke pasar atau "Super Market" untuk berbelanja. Maka tidaklah mungkin harus berulang-ulang, pergi balik hanya untuk membeli sebuah bahan saja, seperti membeli gula, kemudian pulang mengantarkan gula tersebut ke rumah. Kemudian pergi lagi untuk membeli beras. Dan pulang mengantarnya. Kemudian pergi lagi ke Super Market untuk membeli ikan. Lalu pulang mengantarkannya dan seterusnya.. Lalu jika begini, kapan habisnya kita berbelanja ? Bisa-bisa satu hari pulang balik hanya untuk mengerjakan belanja bahan pangan saja.
Agar jangan ruwet, maka ambillah keranjang atau plastik, kemudian semua barang perbelanjaan itu dimasukkan ke dalam keranjang menjadi satu. Maka sekali angkat semua sudah terangkat. Dan akan beres semua. Demikianlah perumpamaan kerja Niat tersebut. Ia bisa sekaligus dengan kerja anggota tubuh dan kerja lidah. Tanpa susah payah berulang-ulang mengangkat Takbiratul Ihram.
Seandaiya Metoda di atas kurang memuaskan, maka dipersilahkan untuk meluaskannya kepada Metoda yang lebih rinci. Sesuai dengan pola fikir masing-masing, yang penting bisa meluruskan ke arah tujuan yang sebenarnya.

Keterangan :
Rukun Fi’li itu, harus dilaksanakan dengan Thuma’ninah yakni Berhenti sejenak sekedar ucapan "Shubhanallah". Thuma’ninah tersebut, harus dilaksanakan berdasarkan dan berpegang kepada Sabda Rasulullah Saw :

عَنْ أَبِـى هُرَ يـْرَ ةَ رَضِيَ الـلّـــهُ عَــنْـهُ أَنَّ الـنَّـبِـيَّ صَــلَّى الـلّـــهُ عَـلَـيْـهِ وَسَــلَّـمَّ ، قَالَ : إِذَ اقُـمْتَ إِلَى الصَّــلاَ ةَ فَــأَسْــبِــخِ الْــوُضُـوْ ءَ ، ثُــمَّ اسْـتَــقْـبِـلِ الْـقِـبْـلَـةَ فَـكَــبِّـرْ، ثُـمَّ أَ قْـرَ أَمَا تَــيَـسَّـرَ مَـعَـكَ مِنَ الْـقُـرْآنِ
ثُــمَّ ارْ كَــعْ حَــتَّى تَــطْــمَــئِــنَّ رَ اكِـــعًـا، ثُــمَّ ارْ فَـعْ حَـتَّى تَـــعْــتَــدِلَ قَـائِــمًا، ثُــمَّ اسْـجُـدْحَــتَّى تَــطْــمَــئِــنَّ سَاجِـدًا، ثُــمَّ ارْفَــعْ حَــتَّى تَــطْــمَــئِـنَّ جَـالـِـسًا، ثُــمَّ اسْـجُـدْ حَــتَّى تَــطْــمَــئِـنَّ سَـاجِـــــــــــدً ا، ثُــمَّ افْــعَــلْ ذلـِكَ فِى صَــلاَ تِــكَ كُـــلِّـــهَـا

"Dari Abu Hurairah Ra. Bahwasanya Nabi Saw. Bersabda : "Jika engkau melaksanakan Sholat. Maka sempurnakanlah Wudhu'nya. Lantas menghadap ke Qiblat. Kemudian Takbir. Kemudian Bacalah ayat-ayat Al-Qur-aan yang mudah menurut pendapatmu. Kemudian Rukuklah "sehingga Thuma’ninah Rukuknya”. Kemudian bangun I’tidal sehingga benar-benar tegaknya. Kemudian Sujudlah. Sehingga Thuma’ ninah Sujudnya”. Kemudian bangkit dan Duduk. Sehingga Thuma’ninah". kemudian Sujudlah. Sehingga Thuma’ninah Sujudnya yang kedua”. Kemudian laksanakanlah yang demikian itu di dalam Sholatmu" . (Tujuh Ahli Hadits. Redaksi Al-Bukhari dan Muslim)

Demikian sekelumit keterangan tentang anjuran untuk Thuma’ninah tersebut. Bukan hanya sekedar numpang lewat. Dan letaknya Berhenti sejenak itu adalah pada Anggota Tubuh orang yang Sholat. Bukan di Lidah atau di Hati. Untuk itulah dianjurkan kepada semua Muslimin. Agar jika Sholat jangan mudah terbawa arus orang yang dungu. Kemudian mereka Sholat dengan terburu-buru, seakan-akan ada yang dikejarnya. Lantas perbuatan yang demikian itu kita ikuti, sebab cepat selesainya. Berfikirlah Wahai Insan !...................
Pengetahuan demikian ini kita lampirkan di dalam pelajaran ini adalah sebagai bahan ingat-ingatan. Dan tambahilah dengan belajar kepada para Ustadz-ustadz dan para Alim Ulama yang ‘Arif dalam hal ini. Karena tidaklah cukup memadai apa yang sudah diterangkan di atas.

Renungan sejenak.
Namun tidak secara rinci. Di dalam Kitab "Sabilal Muhtadiin" karangan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Terbitan Pulau Pinang. Menyatakan :
"Bahwa Rukun Sholat itu 19 Perkara".
Dan di dalam Kitab "Risalah Muqoronah, ’Urufi yah, Tauhidiyah dan Kamaliyah. Karangan Syekh Isma’il ’Abdullah Al-Minangkabawi Al-Kholidi. Beliau adalah orang yang pertama membawa Thariqat Naqsabandiyah ke Indonesia. Beliau menerangkan :
Bahwa "Rukun Sholat itu - 17 perkara".
Kita kutip keterangan Beliau dalam masalah ini : "Tidak Sah Takbir dan Sholat seseorang jika ia berucap dengan lidahnya "Allahu Akbar". Namun Hatinya tiada khabar, yaitu Fana atau hilang ingatan. Dan lupa segala-galanya. Maka sekali-kali tidak Sah Takbir dan Sholatnya !"
Wahai semua orang yang ber’amal ! Janganlah kamu dengar dan jangan di ikuti Pengajaran "Ahli Tasawwuf" yang jahil (bodoh). Yang mengatakan “siapa yang merinci ajaran "Qoshod" "Ta’arodh" "Ta’yun" itu adalah keji dan orang rendah serta Martabatnya masih kurang sempurna. Kata orang Jahil itu selanjutnya Martabat yang tinggi ialah begini! "Apabila ia mengucapkan “Allahu Akbar" "Maka Hatinya kosong". "Wujudnya Fana". "Karena karam di dalam memandang Wujud Allah". "Tidak ada yang Maujud selain Maujudnya Allah".
Jika demikian itu, perbuatan orang yang Sholat, menurut pandangan Syekh Ismail MinangKabawi Al-Kholidi, "Tidak Sah Sholatnya".
Selanjutnya jika ada golongan yang mengatakan Muqoronah Niat itu ialah begini, "Apabila Lidah mengucapkan Allahu Akbar", Hati mengingat sebenar-benar diri yaitu Ruh kita yang berdampingan dengan Allah SWT.
Menurut Syekh Ismail MinangKabawi Al-Kholidi, "Ini juga tidak Sah !"
Dan setengah dari mereka yang jahil mengatakan bahwa Muqoronah Niat itu pada orang yang sampai. Ialah manakala ia mengucapkan kalimat Allahu Akbar, maka Hatinya memandang sebenar-benar Tubuh Muhammad di dalam dirinya yaitu Ruh.
Menurut pandangan ’ilmu Syekh Ismail Al-MinangKabawi Al-Kholidi, Takbir dan Sholat seseorang yang berbuat demikian "Tidak Sah !". Kemudian ada segolongan dari mereka yang Jahil mengatakan "Bahwa Muqoronah Niat yang benar itu demikian, “Apabila Lidah mengucapkan Allahu Akbar, maka Hatinya menilik jalan Allah serta dirupakannya seperti cahaya sesuatu seperti emas yang berkilau-kemilau dan berbinar-binar cemerlang.
Menurut pandangan ‘ilmu Syekh Ismail Al-MinangKabawi Al-Kholidi, Takbir dan Sholat orang yang demikian ini modelnya "Tidak Sah !".
Dan ada pula yang mengatakan "Bahwa Muqoronah Niat itu begini "Apabila Lidah menyebut “Allahu Akbar, maka Hatinya mengingat Allah Yang Maha Besar atau Allah Yang Maha menjadikan". Menurut pandangan ’ilmu Syekh Ismail Al-MinangKabawi Al-Kholidi, Takbir dan Sholat yang demikian "Tidak Sah !".
Ada lagi perkataan orang jahil yang dimurkai Allah SWT. mereka berkata, "Apabila Lidah mengucapkan “Allahu Akbar, maka Hatinya memandang kepada Nur Muhammad adalah asal dari seluruh Makhluq. Dan kejadiannya di atas ‘Arsy. Dan Allah SWT pun di dalam itulah di-Musyahadahkan". Menurut pandangan ‘ilmu Syekh Ismail Al-MinangKabawi Al-Kholidi, yang demikian itu jelas-jelas Tidak Sah!. Karena mereka menyembah Allah bukan menurut Sunnah Rasulullah Saw. Bahkan terkesan tidak menentu. Dan nyata-nyata kufur kepada Allah SWT. Maka wajiblah mereka Taubat dengan segera !!!

Kemudian pada jaman yang canggih sekarang ini, banyak orang yang apabila lidahnya mengucapkan "Allahu Akbar". Maka Hatinya melayang-layang ke pasar dan ke plaza gedung pencakar langit. Sambil menghitung uang laba yang bertumpuk di hadapannya, atau sambil menghitung-hitung utang, karena sudah mulai bangkrut usahanya. Dan kadang-kadang teringat anak dan istri yang selalu bentrok setiap mata terbuka. Interfalnya hanya di waktu tidur.

Wahai Insan.....!!! Tuan Syekh Ismail Al-Minang Kabawi Al-Kholidi, beliau telah wafat ratusan tahun yang silam. Masih beruntung kita dapatkan secuil Tulisan Tangan Beliau yang masih tertinggal. Dan Beliau menunjukkan kepada kita. Bahwa pada jaman dahulu pun sudah banyak urusan-urusan, yang menyalahgunakan fikiran dan lintasan Hati. Dan telah banyak berkembang ajaran-ajaran yang menyimpang. Yang menjadi perhatian khusus bagi Beliau serta orang-orang ‘Arif Billah pada jamannya, seperti uraian Beliau di atas. Pada jaman sekarang ini, kita hanya tinggal memetik buahnya saja, itupun masih saja lintang pukang.
Renungkanlah diri ini mau dibawa kemana ?

Menurut Beliau. Muqoronah Niat yang benar adalah sebagaimana yang menjadi pegangan Mazhab Asy-Syafi’iyah. Yang mencantumkan "Qoshod-Ta’arodh"-Ta’yun”. Dan inilah Muqoronah Niat yang dipilih oleh Hujjatul Alam Islami Imam Al-Ghozali. Beliau menyatakan, memadailah bagi orang yang awam. Menerima Muqoronah Niat ’Urufiyah yang terhimpun makna yang Tiga itu. "Dari mulai - Alif - Allah hingga Roo - Akbar".
Berkata Imam Haromain, adapun Muqoronah Niat Kamaliyah itu, jauh Tasyau’urnya. Dan Imam As-Subki berkata, adapun Muqoronah Niat ’Urufiyah yang dipilih oleh Imam Haromain dan Imam Al-Ghozali. Itulah yang benar !
Qoshod - Ta’arodh - Ta’yun. Inilah Muqoronah Niat "Kamaliyah" yaitu dikekalkan makna yang tiga itu dari mulai "Alif - Allah hingga Roo - Akbar". Maka Muqoronah ini sudah dijatuhkan oleh Imam Haromain pada "Tiada Kuasa Manusia" Dan Niat Kamaliyah itu terbagi dua :
a. Bastiyah.
b. Tafsiliyah.
Dan masih ada yang dinamakan Muqoronah Tau zi’iyah. Yang tiga itu disuku-sukukan ketika mengucapkan "Allahu-Akbar". Untuk ini, dipersilahkan bertanya kepada para Guru dan Ustadz atau para Ulama yang ‘Arif tentang hal ini.
Diatas telah diterangkan ada yang memakai Metoda :
1. Memakai Metoda Rukun Sholat itu : 19
2. Memakai Metoda Rukun Sholat itu : 17
3. Hanafi. Metoda Rukun Sholat itu : 15
4. Maliki. Metoda Rukun Sholat itu : 15
5. Hanbali. Metoda Rukun Sholat itu : 14
6. Asy-Syafi’iy. Metoda Rukun Sholat itu : 13
Demikian dikutip dari Kitab Terjemah Fiqih Empat Madzhab. Jilid II. Bagian Ibadat Sholat I. Halaman 59 s/d 109. Alih Bahasa : Prof. H. Chatibul Ummam & Abu Hurairah. Penerbit : Darul Ulum Press. Cetakan pertama 1994.