27 February 2008

13. Syarat-syarat Wajib Melaksanakan Sholat

1. Islam
2. Suci dari Hadats besar dan kecil bagi Laki-laki
3. Suci dari Haid dan Nifas serta Hadats bagi Wanita
4. Sampai Da’wah Islam kepadanya
5. Ber’akal
6. Baligh
Jika Syarat di atas terkumpul pada diri seseorang, maka wajib ia Sholat ! Dan bagi orang kafir, tidak wajib Sholat. Dan tidak harus mengqodho Sholat, dikala ia masuk Islam. Tetapi bagi orang yang murtad, kemudian ia kembali memeluk Islam. Maka wajib baginya untuk mengqodho Sholat dan mengqodho Puasa yang ditinggalkannya. Ini menunjukkan dan mendidik Iman seseorang.
Terhadap anak kecil, orang gila, orang yang dalam keadaan hilang ingatan disebabkan sakit atau pingsan tidak berkewajiban Sholat. Tunggu sampai pulih akalnya baru dianjurkan Sholat. Karena orang yang melaksanakan Sholat itu harus benar-benar mengerti apa yang dikerjakannya. Sebagaimana yang di Firmankan Allah di dalam Al-Qur-aan :

يـآ اَ يـُّــهَـا الَّـذِ يْـنَ ا مَــنُـوْ ا لاَ تَـــقْــرَ بــُوْا
الـصَّــــــــــــلاَ ةَ وَ اَ نْــتُـم
سُـكَارى حَــتّى تَــعْــلَـمُوا مَـا تَــقُــوْ لُــوْ نَ

“Hai orang yang beriman ! jangan mendekati Sholat, dikala kamu sedang mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan………” (Q.S. An-Nisaa’:43)

Atau memang tidak sampai Da’wah Islam kepada mereka ? Tetapi pada jaman sekarang ini. Bagaimana mungkin orang akan bisa mengatakan, bahwa tidak sampai Da’wah Agama Islam itu ke kampung halaman atau ke daerah kami ? Sebab jaman sekarang, da’wah keliling ada, dari mulai para Ustadz berjalan, berbagai macam media cetak, media elektronik, sehingga sampai Internet sudah mencapai daerah.
Kalaupun masih keberatan, mungkin mereka merasa bahwa ia belum baligh atau mereka merasa belum waktunya melaksanakan Sholat, dikarenakan masih belum berakal. Sebaiknya masukilah Masjid atau Mushollah agar lekas berakal. Dan tinggalkanlah makanan dan minuman yang menghilangkan akal.

Sholat adalah garis pemisah antara Islam & Kafir.
Barangsiapa yang meninggalkan Sholat dengan sengaja atau karena inkar kepada Perintah Allah, maka telah sepakat seluruh Ulama Islam mengkafirkannya.

بَــيْـنَ الــرَّ جُــلِ وَ بَــيْــنَ الْـكُـــفْـرِ تَــرَ كَ الصَّــــلاَ ةِ

“Beda antara seorang Laki-laki (Muslim) dengan Kafir, ialah meninggalkan Sholat”. (H.R. Muslim. Ahmad. Abu Daud. At-Turmudzy.Ibnu Majah)

أَ لـــعَــهْـدُ الَّــذِيْ بـَــيْــنَــنَا وَ بـَــيْــنَــهُـمُ الصَّـــــــلاَ ةُ فَـمَـنْ تَــرَ كَـــهَا فَــقَــدْ كَــفَــرَ

“Janji antara kami dan mereka ialah Sholat. Maka barang siapa yang meninggalkan Sholat. Sungguh telah kafirlah ia”. (H.R. Ahmad)

إِ تَّـــقُــوْا فِــرَ اسَــةَ الْـمُـؤْ مِنْ ، فَــإِ نَّــهُ يَــنْـظُــرُ بِــنُـوْرِالـلّـــهِ

“Waspadalah terhadap Firasat orang Mukmin. Sesungguhnya ia melihat dengan Nuur Allah”. (H.R. At-Turmudzy dan At-Thabrany)

خَــيْــركُـمْ مَـنْ يُـرْجَـى خَــيْــرُ وَ يـُــؤْ مَـنْ شَـرَّ هُ، وَ شَــركُـمْ مَـنْ لاَ يــُـرْجَى خَــيْــرُ وَ لاَ يــُـؤْ مَـنْ شَــرُّ هُ

“Sebaik-baik dari kamu. Ialah yang diharapkan kebaikannya. Dan aman dari kejahatannya. Dan seburuk-buruk dari kamu. Adalah ia tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya”. (H.R. At-Turmudzy)

سِــبَـابُ الْـمُــؤْ مِنْ فُـسُـوْ قٌ وَ قِـــتَـالُـــهُ كُـــفْــرٌ

“Mencaci maki orang Mukmin itu adalah suatu kejahatan. Dan memeranginya adalah suatu Kekufuran”. (H.R. Muslim)

Syarat-syarat Sah Sholat.
1. Suci Badannya dari dua Hadats.
Yaitu Hadats kecil dan Hadats besar.
Yang dimaksud dengan Syarat itu ialah sesuatu hal yang membuat tidak sahnya Sholat seseorang apabila syarat itu tidak ada. Walaupun ia bukan merupakan bagian dari Sholat. Karena syarat itu adalah yang mendahului Sholat. Dan wajib diwujudkan oleh seseorang yang hendak Sholat. Dengan arti kata, jika ditinggalkan salah satu syarat-syarat itu, maka Sholatnya akan batal atau tidak Sah.

يـآ اَ يــُّـهَـاالَّـذِيـْنَ ا مَــنُوْآ إِذَا قُــمْــتُـمْ إِلَى الصَّـلو ةِ فَــغْسِـلُـوْ ا وُجُوْ حَـكُـمْ وَ أَ يــْدِ يَـكُـمْ اِلَى الْـمَـرَ ا فـِـقِ وَ امْـسَـحُـوْ ا بِـــرُءُ وْسِكُـمْ وَ اَرْجُـلَــكُـمْ اِلَى الْـكَــعْــبَــيْـنِ وَ اِنْ كُـــنْــتُـمْ جُــنُــبًا فَاطَّــهَّــرُوْ ا

“Hai orang-orang yang Beriman ! Apabila kamu hendak melaksanakan Sholat. Maka basuhlah mukamu. Tanganmu sampai kesikumu. Dan basuhlah kepalamu dan kakimu hingga sampai kedua mata kaki. Dan jika kamu (dalam keadaan) Junub. Hendaklah kamu mandi (Junub)”. (Q.S. Al-Maidah : 6)

لاَ يـُـقْــبَـــلُ الـلّـــــــــهُ صَـــلاَ ةً بِــغَـــيْــرِ طَـــهُـــوْ رً ا

“Allah tidak menerima Sholat tanpa Bersuci”. (H.R. Muslim. Ibu Majah. Dan lain-lain)

لاَ يـَـقْــبَـلُ الـلّــــهُ صَـلاَ ةً بِــغَــيْـرِطُــهُـوْ رٍ وَ لاَ صَـدَ قَـةً مِنْ غُـلُـوْ لٍ

“Tidak diterima Allah. Sholat tanpa bersuci (dari Hadats Besar atau Kecil). Juga tidak diterima Allah sedekah dari uang korupsi”. (H.R. Al-Bukhari)

2. Bersih badan. Bersih pakaian. Dan bersih tempat dari Najis.

وَ ثـِـــيَـا بَــكَ فَـــطَـــهِّـــرْ

“Dan bersihkanlah Pakaianmu !” (Q.S. Al-Mudatsir : 4)

تَــنَـزَّ هُـوْ امِنَ الْــبَـوْ لِ فَــإِ نَّ عَامَّـةَ عَذَابِ الْـقَــبْـرِمِـنْـه

“Bersihkanlah dirimu dari kencing. Karena sesungguhnya kebanyakan ‘Azab kubur itu adalah dikarenakan kencing (yang tidak dibersihkan)”. (Daroqhutny)

3. Menutup aurat.
Bagi laki-laki antara pusat dan lutut.
Berdasarkan Sabda Rasulullah Saw :

عَـوْ رَ ةُ الـرَّ جُـلِ مَا بَــيْـنَ سُـرَّ تِـهِ إِ لَى رُ كْـــبَــتِــهِ

“Aurat Laki-laki. Antara pusat dan lutut”. (H.R. Daroqhutny dan Baihaqi).
Dan bagi Wanita. Seluruh Badan, kecuali kedua Tapak Tangan dan Muka. Berdasarkan ayat Al-Qur-aan surah An-Nuur :

وَ قُـلْ لّــِلْـمُـؤْ مِـنتِ يَــغْـضُضْنَ مِنْ اَبـْصَارِهِنَّ وَ يـَـحْــفَــظْـنَ فُــرُوْ جِـهِـنَّ وَ لاَ يــُـبْـدِ يْـنَ زِ يْــنَــتَـــهُــنَّ اِلاَّ مَاظَــهَــرَ مِـنْـهَا وَ لْــيَـضْرِ بْـنَ بِـخُـمُـرِ هُنَّ عَــلَى جُــيُــوْ بِــهِــنَّ

“Dan katakanlah kepada Wanita-wanita yang beriman ! Hendaklah mereka membatasi pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya. Kecuali yang nampak. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudungnya sampai ke dadanya” (Q.S. An-Nuur : 31)

Menurut Ahli Tafsir, bahwa kalimat (kecuali apa yang nampak) ialah dua Tapak Tangan dan Wajah. Hal ini disinggung juga dalam Kitab-kitab Tafsir yang terkenal. Disamping itu masih banyak Hadits-hadits yang meriwayatkan hal ini :

لاَ يـُـقْــبَــلُ الـلّــــهُ صَــلاَ ةً حَا ئِـضٍ إِ لاَّ بِــخِـمَـارٍ

“Allah tidak menerima Sholat Wanita yang sudah baligh Kecuali dengan (memakai) Kerudung”. (H.R. Ahmad. Abu Daud. Ibnu Majah. At-Turmudzy)

يَـا بـَـنِيْ آ دَ مَ خُذُّوْ ا زِ يْــنَــتَـــكُـمْ عِـنْـدَ كُـلِّ مَـسْـجِــدٍ

“Hai Anak Adam ! Pakailah Perhiasanmu (Pakaian yang indah) Waktu Sholat (Dan Tawaf keliling Ka’bah). (Q.S. Al-A’raaf : 31)

4.
Telah masuk Waktu Sholat.
Kita dididik Rasulullah Saw. agar menepati ketentuan dan jangan plin-plan, alias lain pagi lain sore. Itu bukan pribadi seorang Muslim. Disiplin dan teratur rapi dalam Islam sangat penting. Dan berdasarkan Hadits :

أ مَّـنِى جِـبْـرِ يْـلَ عِـنْـدَ الْـبَــيْتِ مَـرَّ تَــيْـنِ فَصَـلَّى بِـيَ الـظُّــهْـرَحِـيْـنَ زَا لَـتِ الـشَّــمْـسُ وَ الْــعَـصْــرَحِـيْـنَ كَـانَ ظِــلُّ الـشَّــيْ ءٍ مِــثْـــلَــــهُ وَ الْـمَـغْـرِبَ حِـيْـنَ وَجَــبَـتِ الـشَّـمْسُ وَ الْــعِـشَاءِحِـيْـنَ غَابَ الـشَّـفَـقُ وَ الْـفَجْـرَحِيْـنَ سَـطَــعَ الْــفَجْــرُ فَـلَـمَّا كَـانَ الْـخَدُ صَـلَّى بِـيَ الظُّــهْـرَحِـيْـنَ صَارَظِـلُّ كُـلِّ شَـيْ ءٍ مِثْــلَــيْـهِ وَ الْـمَـغْرِبَ حِيْنَ أَ فْـطَـرَ الصَّائِـــمُ وَالْــعِــشَاءِ عِـنْـدَ ثــلُـثِ الـلَّــيْــلِ وَ الْـفَـجْـرَحِـيْـنَ أَسْـفَــرَوَ قَالَ : هذَا وَ قْتُ اْلأَ نْــبِــيَاءِ مِنْ قَــبْــلِـكَ ، وَ الْـوَ قْتُ مَا بَــيْـنَ هـذَ يْـنَ الْـرَ قْــتَـــيْــنَ

“Saya telah di-Imami oleh Jibril di Batulllah dua kali. Tatkala ia Sholat bersama saya (waktu) Sholat Zuhur, ialah ketika tergelincirnya matahari. Dan waktu ‘Ashar ialah ketika bayang-bayang sesuatu telah sama panjang dengan sesuatu itu. Dan saat Sholat Maghrib ketika terbenamnya matahari. Dan saat Sholat Isya’ ialah ketika terbenamnya Syafa’ (merah). Dan saat Sholat Fajar (Subuh) ialah ketika terbit Fajar pagi”. “Dan besoknya Sholat pulalah Jibril bersama saya (dan saya perhatikan). Sholat “Zuhur” ketika bayang-bayang sesuatu sepanjang dirinya. Dan saat Sholat “’Ashar”. Ketika bayang-bayang sesuatu dua kali panjang badannya. Dan saat Sholat “Maghrib”. Ketika berbuka orang yang Puasa. Dan saat Sholat “’Isya’. Ketika sepertiga Malam. Dan saat Sholat “Subuh”. Ketika menguning cahaya pagi. Dan berkata Jibril : Inilah waktu-waktu Sholat para Nabi-nabi sebelum engkau dan waktu Sholat adalah antara dua waktu”. (H.R. Abu Daud dll)

Kedisiplinan di dalam Islam sangat penting. Dan teratur rapi itu dianjurkan dengan sangat. Dalam segala bidang. Berdasarkan Surah Al-Qur-aan :

اِنَّ الصَّــلـو ةَ كَـا نَـتْ عَــلىَ الْـمُـؤْ مِـنِـيْـنَ كِــتَـا بـًا مَّــوْ قُـوْ تًـا

“Sesungguhnya Sholat itu diwajibkan kepada orang-orang Mukmin melaksanakannya pada waktu-waktu tertentu”. (Q.S. An-Nisaa’ : 103)

Oleh sebab itu. Tidak sah Sholat seseorang, jika dilaksanakan sebelum masuk waktu atau sesudah habis waktu. Ingatlah ! Padahal ini adalah Syarat, bukan Rukun Sholat. Tetapi memegang peran terhadap Sholat itu sendiri. Maka jika ada orang yang berkata : ”Kita tak perlu dengan Syarat-syarat sebagainya. Kerjakan Sholat. Habis perkara. Inilah orang yang dungu, tapi tak bisa diberi tahu.
Khusus mengenai orang yang tertidur atau lupa dari Sholat pada waktunya. Yang demikian ini harus ditilik dengan dua pandangan ilmu, yaitu apakah memang ia malas, atau memang benar-benar tertidur ? Maka untuk mereka ada ketentuan-ketentuan yang dijelaskan oleh Hadits Nabi Muhammad Saw :

إِ نَّــهُ لَــيْسَ فِى الـنَّــوْ مِ تَــفْـرِيـْطٌ إِ نَّـمَا الـتَــفْــرِ يْـطٌ فِى الْــيَــقْـظَـةِ فَـإِذَا نَسِـيَ أَحَـدكُـمْ صَـلاَ ةً أَوْ نَـامَ عَـنْـهَافَــلْــيُصَـلِّـهَا إِذَاذَ كَـرَهَا

“Sesungguhnya di dalam tidur itu tidak ada (unsur) melalaikan Sholat. Sesungguhnya melalaikan Sholat itu hanya terjadi diwaktu jaga. Maka apabila terlupa seseorang kamu akan Sholat atau tertidur dari padanya. Maka hendaklah ia Sholat bila ia teringat (sadar) (H.R. An-Nasa’iy dan At-Turmudzy)

5. Menghadap Qiblat.
Menghadap Qiblat ini juga menunjukkan disiplin yang sangat tangguh. Walaupun dimana kita berada. Wajib sujud pada satu arah menghadap Ka’bah :

فَــوَ لُّ وَجْــهَـكَ شَـطْـرَ الْـمَـسْـجِـدِ الْحَـرَ امِ وَحَــيْثُ مَـاكُـــنْــتُــمْ فَـوَ لُّــوْ ا وُجُـوْ هَـكُـمْ شَـطْــرَ ا هُ

“Arahkanlah mukamu ke Masjidil Haram. Di mana saja kamu berada. Arahkanlah mukamu kesana”………. (Q.S. Al-Baqarah : 144)
وَ اسْــتَـــقْــبِــلَ الْــقِــبْــلَــةَ فَـــكَــبِّــرْ

"Dan menghadaplah ke Qiblat serta Bertakbirlah !"


Menurut riwayat Al-Baraa’. Umat Islam pada jaman Rasulullah Saw. mendirikan Sholat berqiblat ke Baitul Maqdis :

عَـنِ الْــبَـرَ اءِ قَالَ : صَـلَّـــيْــنَا مَـعَ الـنَّـبِـيّ صَــلَّى الـلّـــهُ عَـلَــيْـهِ وَسَـلَّـمَ ، سِـتَـــةَ عَـشَــرَ شَــهْــرًا أوْ سَــبْــعَـةَ عَـشَـرَ شَــهْــرًا نَـحْــوَ بَــيْـتِ الْـمُـقَـدَّ سِ ثــمَّ صُـرِ فْــنَا نَـحْـوَ الْـكَــعْــبَــةِ

“Dari Baraa’, ia berkata : “Kami Sholat bersama Rasulullah Saw. enam atau tujuh belas Bulan (menghadap) kearah Baitul Maqdis. Kemudian kami diperintahkan berpaling ke arah Ka’bah”. (H.R. Muslim)

إِ ذَا قُـمْتَ إِ لَى الصَّــلاَ ةِ فَــأَسْــبْــغِ الْـوُضُـوْ ءَ ثُــمَّ اسْــتُــقْــبِــلِ الْـقِــبْــلَــةَ

“Apabila engkau hendak mendirikan Sholat. Maka sempurnakanlah Wudhu'mu. Kemudian menghadap ke Qiblat”. (H.R. Muslim)

6. Mengetahui Sholat yang Wajib atau Sunat yang sedang didirikan.
7. Jangan bertekad bahwa Sholat Fardhu itu adalah Sunat.
8. Menjauhi segala yang membatalkan Wudhu' dan membatalkan Sholat.

0 comments: