07 April 2008

27. Ta'rif - Takut kepada Allah SWT

“Takut kepada Allah ‘Azza Wajalla ialah terasa benar benar Kekuasaan dan Kekuatan Allah serta tembusan Iradah-Nya”.
Mari kita perhatikan surah di dalam Al-Qur-aan :

وَجَـعَــلَ فـِـيْــهَارَوَ اسِـيَ مِنْ فَـوْ قِــهَا وَ بَـارَ كْ فِــيْـهَا وَ قَـدَّ رَ فِــيْــهَآ اَ قْـوَ ا تَــهَا فِيْ اَرْ بـَـعَــةِ اَ يَّـامٍ سَـوَ آ ءً لـِلّــسَّآ ئِــلِــيْـنَ. ثُـمَّ اسْـتَــوى اِلَى السَّـمَآءِ وَ هِـيَ دُخَانٌ فَــقَالَ لَـــهَا وَ لــِلا رْضِ أْ تِـــيَا طَــوْ عًـا اَوْ كَــرْ هًا قَـالَـــتَـآ اَ تَــيْــنَا طآ ئِــعِــيْـنَ

“Dan DIA menciptakan gunung-gunung (yang mengokohkan bumi) serta diberi-Nya keberkahan di bumi itu dan di tentukan-Nya makanan penghuninya dalam empat tahap. (Demikian penjelasan) bagi orang-orang yang bertanya”. “Maka DIA melanjutkan menciptakan ruang angkasa dan ruang angkasa itu (selagi) masih merupakan asap. Kemudian diperintahkan-Nya kepada mereka (asap) Dan kepada bumi. ”Datanglah kamu keduanya untuk mematuhi perintah-KU. Dengan suka hati (rela) atau karena terpaksa”. Maka keduanyapun menjawab: ”Kami datang dengan suka hati (rela)”. (Q.S. Fussilat : 10-11)

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa menciptakan Alam semesta. Pendapat para Ahli Astronomi tentang Alam semesta, mereka mengatakan bahwa Bumi yang kita pijak sekarang ini adalah salah satu Planet dari sekian banyak kelompok Planet. Bumi beserta Planet-planet Mercury, Venus, Mars, Jupiter, Saturnus, Neptunus, Pluto. Mereka berputar mengelilingi Matahari. Matahari dengan pengiring-pengiringnya itu hanyalah sebahagian kecil dari Bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya. Dan kumpulan itu dinamakan Galaxy. Galaxy ini diduga semulanya hanya satu, tetapi ternyata kemudian berjuta-juta yang belum dapat dipastikan berapa jumlahnya. Dalam satu Galaxy diperkirakan seratus ribu juta Bintang. Galaxy-galaxy itu diperkirakan memenuhi ruang angkasa sampai jarak Sepuluh ribu juta Tahun cahaya. Jika dalam satu detik cahaya menempuh jarak kira-kira 300.000 km. Kita semua akan menggeleng-gelengkan kepala memikirkan berapakah luasnya ruang angkasa itu sebenarnya ? Alam semesta adalah suatu misteri yang belum terungkap oleh manusia. (Demikian Buku “The Night Sky by Mary”. T. Bruch).

Kita perhatikan Ayat yang lain :

لَـه مَافِى السَّــمـوَ ا تِ وَمَافِى اْلاَرْضِط وَهُوَ الْـعَـلِـيُّ الْـعَـظِـيْمٌ . تَـكَادُالسَّـموَ اتُ يَـتَــفَطَّـرْنَ مِنْ فَـوْ قِـهِنَّ وَ الْـمَلـئِـكَـةُ يُسَــبِّحُـوْنَ بـِحَـمْدِرَ بِّــهِمْ وَ يـَسْـتَــغْـفِـرُوْنَ لـِمَـنْ فِى اْلاَرْضِ اَ لاَ اِنَّ الـلّــــهَ هُـوَ الْـغَـفُــوْرُ الـرَّحِـيْـمٌ . وَ الَّذِ يْـنَ الـتَّـخَـذُوْا مِنْ دُوْ نــِه اَوْ لــِيَـآءَ الـلّــــهُ حَـفِــظٌ عَـلَـــيْــهِـمْ وَ مَآ َا نْـتَ عَـلَــيْــهِـمْ بِــوَ كِـــيْــلٍ


“Kepunyaan-Nya apa yang ada di Ruang angkasa dan Bumi. Dan DIA-lah Yang Maha Tinggi dan Maha Besar”. “Hampir saja seluruh Ruang angkasa pecah belah di bagian atasnya (karena Kebesaran Allah). Sementara para Malaikat Bertasbih memuji Tuhan-nya serta memohonkan Ampun bagi orang-orang yang ada di Bumi. Ingatlah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. “Dan orang-orang yang mengambil Pelindung selain dari Allah. Allah pasti mengawasi mereka. Dan engkau (Hai Muhammad) bukanlah pengawas bagi mereka”. (Q.S. Asy-Syuura 4, 5, 6)

لَـه مَــقَالِــيْـدُ السَّــمـوَ اتِ وَاْلاَرْضِ، يَــبْـسُـطُ الـرِّزْقَ لـِمَـنْ يَّــشآءُ وَ يَــقْـدِرُ اِ نَّــه بِـكُـلِّ شَـيْ ءٍ عَــلِــيْــمٌ

“Kepunyaan-Nya-lah Perbendaharaan Ruang angkasa dan Bumi. Dilapangkan-Nya Rezki bagi siapa saja yang kehendaki-Nya. Dan dibatasi bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya DIA Maha Mengetahui segala sesuatu”. (Q.S. Asy-Syuura : 12)

Menghadirkan Hati dalam segala masalah sungguh sangatlah berat, karena di celah-celah keinginan manusia untuk berbuat baik, disana pula Iblis memainkan peranannya. Iblis tidak senang jika manusia itu bisa mantap dalam menghadirkan Hati di dalam Sholatnya. Maka kerja Iblis yang menggoda, tidak tercapai dengan sempurna. Oleh karena itu, diputarnya keadaan ‘Ilmu, yang sesungguhnya ‘Ilmu itu akan membawa ke arah kebenaran, kiranya digoreskan Iblis kepada orang-orang yang berilmu suatu rasa bangga dan tinggi hati. Maka dengan sendirinya manusia akan berpecah belah setelah sampai ilmu kepadanya.

وَ مَا تَـفَـرَّ قُـوْآ اِلاَّ مِنْ بَـعْدِ مَاجَآءَ هُمُ الْـعِـلْـمُ بَـخْــيًا بـَـيْـنَــهُـمْ وَ لَــوْ لاَ كَـلِــيْـمَـةٌ سَــبَـقَـتْ مِنْ رَّ بِّـكَ اِلىَ اَجَـلٍ مُّسَــمًّى لَّــقًضِيَ بَــيْــنَــهُـمْ وَ اِنَّ الَّـذِ يْنَ اُوْرِ ثُــوْاالْـكِــتَابَ مِنْ بَـعْدِ هِمْ لَــفِـيْ شَـكٍّ مِّـنْـهُ مُرِ يْـبٍ

“Dan mereka berpecah belah sesudah sampai kepada mereka ‘Ilmu Pengetahuan, disebabkan mereka saling mendengki. Kalau tidaklah karena keputusan yang telah terdahulu (untuk menunda ‘Azab) sampai saat yang telah ditentukan, niscaya mereka sudah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang telah di wariskan Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka. Selalu dalam keragu-raguan yang membingungkan”. (Q.S. Asy-Syuura : 14)

Orang-orang yang menerima Kitab dari Allah. Mereka semua mengetahui Kebenaran Al-Qur-aan namun mereka membantah dengan dorongan Hawa Nafsunya. Yang demikian itu sering kita lihat dan perhatikan dimanapun kita berada. Apakah itu ilmu Duniawi maupun ilmu Ukhrowi. Sama saja. Mereka akan saling membanggakan diri, meninggikan derajat. Bahwa kelompoknyalah yang paling benar. Dan Metoda merekalah yang paling baik. Ketekunan dan ta’at cara mereka yang paling benar. Walaupun masih terlihat banyak kekurangan-kekurangannya.

اَ لَـمْ يَـأْنِ لـِلَّـذِ يْـنَ ا مَــنُـوْآ اَنْ تَـخْـشَـعَ قُــلُـوْ بُــهُـمْ لِـذِكْـرِ الـلّــــهِ وَ مَا نَــزَ لَ مِنَ الْحَــقِّ ، وَ لاَ يـَـكُـوْ نُـوْا كَـالَّـذِ يْـنَ اُوْ تُـواالْـكِــتَـابَ مِنْ قَــبْـلُ فَـطَالَ عَـلَــيْــهِمُ اْلاَ مَـدُ فَــقَسَتْ قَــلُـوْ بـُـهُمْ وَ كَــثِـــيْــرٌ مِّــنْــهُـمْ فَا سِقُـوْ نَ

“Apakah belum datang waktunya bagi orang-orang Beriman untuk tunduk Hatinya mengingat Allah ? Dan kebenaran yang turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang telah diturunkan kepada mereka Kitab sebelumnya. Kemudian setelah lama masa yang mereka tempuh, lalu Hati mereka menjadi kesat. Dan kebanyakan mereka menjadi orang-orang fasiq”. (Q.S. Al-Hadiid : 16)

Menghadirkan Hati di dalam segala keadaan. Terutama di dalam melaksanakan Sholat, tidak bisa tidak harus kita buat. Karena dengan kehadiran Hati inilah perasaan gelisah akan hilang. Rasa susah akan kembali menjadi senang. Rasa bimbang akan kembali menjadi tenang. Rasa marah dan gundah akan sirna dan kembali menjadi tenteram. Sehingga dalam mendirikan Sholat terasa kesejukan dan kenyamanan berada di dalamnya. Karena hadir Hati dalam pelaksanaan tersebut. Kemudian setelah keluar dari Sholat kita seakan-akan dapat merasakan bagaimana Syahdunya Sholat yang kita laksanakan tersebut. Dan yang demikian ini menjadi kewajiban buat kita untuk melusurinya. Parhatikan Firman :

حَافِـظُـوْاعَلىَ الصَّـلـواتِ وَ الصَّـلـواةِ الْــوُسْطـى وَ قُـوْ مُـوْالـِلّـــهِ قـنِتِــيْنَ

"Peliharalah semua Sholatmu dan Sholat Wustho (yang paling baik - ‘Ashar yang banyak gangguannya). Dan berdirilah (Hadapkan Wajahmu kepada Allah) dengan kekhusu’an yang penuh". (Q.S. Al-Baqarah : 238)

Setelah kita dapat melatih diri agar bisa hadir Hati saat di dalam Sholat, maka kita harus pula mencobanya di luar Sholat dan di dalam segala keadaan. Agar semua yang kita laksanakan senantiasa dalam keadaan hadir Hati atau dalam bahasa lainnya, kita akan tekun - menekuni segala sesuatu yang dikerjakan.
Sehingga jiwa kita termasuk ke dalam kategori Jiwa "Muthmainah" yaitu Jiwa yang tenang dan terundang untuk kembali kepada Allah dan masuk ke dalam surga-Nya. Orang yang demikian ini akan tetap ingat kepada Allah Jalla Wa’azza ………

اَ لَّـذِ يْنَ اِذَاذُ كِـرَ الـلّـــهُ وَجِـلَتْ قُــلُــوْ بـُــهُـمْ وَ الصَّابِـرِيْـنَ
عَـلى مَـآ اَصَا بَــهُمْ وَ الْــمُـقِــيْـمِـى الصَّـلـوا ةِ ، وَ مِـمَّارَزَ قْــنــهُـمْ يُــنْــفِــقُــوْ نَ

Yaitu orang-orang yang apabila disebut Nama Allah. Gemetar Hatinya. Orang-orang yang sabar waktu tertimpa musibah. Dan orang-orang yang mendirikan Sholat. Serta orang-orang yang menafkahkan sebagian dari Rezqinya yang diberikan Allah kepadanya”.(Q.S. Al-Hajj : 35)
Renungkan … … … … … …

اِ نَّــمَا الْـمُـؤْ مِنُـوْنَ الَّـذِ يْنَ اِذَاذُ كِـرَ الـلّــهُ وَجِـلَتْ قُــلُـوْ بـُـهُمْ وَ اِذَا تُُـلِــيَتْ عَـلَــيْـهِمْ ايـتُــهُ زَادَ تْــهُمْ اِ يْـمَا نًـا وَعَـلىَ رَ بِّـــهِمْ يَـتَـوَ كَّــلُـوْنَ الَّـذِ يْنَ يـُـقِـيْـمُوْ نَ الصَّـلـو ةَ وَ مِـمَّارَزَ قْــنَا هُمْ يـُـنْــفِــقُــوْ نَ

"Sesungguhnya orang yang beriman. Ialah orang yang apabila disebut Allah. Maka Gemetarlah Hatinya Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Allah. Bertambahlah imannya dan kepada Tuhan mereka bertaqwa". "(Yaitu) orang-orang yang mendirikan Sholat dan menafkahkan sebagian Rezqi yang KAMI berikan kepadanya". (QS.Al-Anfaal : 2 – 3)

Melihat Ayat demi Ayat yang ditampilkan di atas, semoga dapat kita raba kemana maksud dan makna ayat-ayat tersebut. Dan menjadi teladan yang baik bagi orang yang ingin menghadirkan Hati dalam Sholatnya. Sebab bagaimana mungkin akan hadir hati seseorang, jika Imannya goyah. Perhatikan ayat :

قَـدْ اَ فْــلَـحَ الْـمُـؤْ مِـنُـوْنَ. اَ لَّذِ يْـنَ هُمْ فِيْ صَـلو تـِـهِمْ خَاشِعُوْنَ وَ الَّـذِ يْـنَ هُمْ عَنِ الـلَّـغْـوِ مُـعْـرِضُـوْ نَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang Beriman"(Yaitu) orang-orang yang Khusus’ dalam Sholatnya". "Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (Perbuatan dan Perkataan) yang tidak berguna". (Q.S. Al-Mukminuun : 1 s/d 3)

Sangat jelas maksud Ayat di atas, bahwa orang yang Beriman itu adalah orang yang Khusu’ dalam Sholatnya. Tetapi bagaimana mau Khusu’ jika Hatinya tidak hadir ketika melaksanakan Sholat ? Bahkan hatinya melayang-layang entah kemana-mana.
Kehadiran Hati dalam pelaksanaan Sholat ini sangat dituntut kepada yang mendirikan Sholat, agar Sholatnya utuh. Kemudian melahirkan sifat-sifat yang baik kepada orangnya. Sehingga aman dan tenteramlah masyarakat di sekelilingnya.

اُ تْــلُ مَآ اَوْحِيَ اِلَــيْـكَ مِنَ الْـكِــتَابِ وَ اَ قِــيْـمِ الصَّـلو ةَ اِنَّ الصَّــلـو ةََ تَــنْــهى عَنِ الْــفَــهْـشَآءِ وَ الْـمُـنْـكَـرِ وَ لَـذِكْــرُالـلّـــهِ اَ كْــبَـرُ وَ الـلّـــهُ يَـعْـلَـمُ مَا تَـصْــنًــعُوْ نَ


"Bacalah (selalu) Al-Qur-aan yang telah di-Wahyukan kepadamu ! Dirikan Sholat ! Sesungguhnya Sholat itu (bisa) menghalangi dari perbuatan Keji dan Munkar. Sesungguhnya Mengingat Allah itu lebih besar (Faedah dan kesannya). Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu lakukan".(QS. Al-Ankabuut : 45)

Sangat jelas bahwa pegangan untuk menghadirkan Hati di dalam melaksanakan Sholat tersebut adalah dari Firman Allah SWT. Dan Hadits Nabi Saw bukan Rakitan para Ulama dahulu kala.

Buah Khusyu' dalam Sholat.
Wahai saudaraku.. Sangat baik kita ketahui bahwa setelah hadir Hati dalam melaksanakan Sholat, dan itu semua adalah untuk memancarkan cahaya di dalam Hati. Yang selanjutnya akan merupakan kunci bagi ‘ilmu -‘ilmu "Mukasyafah". Dan untuk mencapai itu semua, diperlukan beberapa persyaratan yang harus terpenuhi :
1. Menghindarkan diri dari berbagai penyakit Hati.
2. Pengikhlasan segala ‘Amal yang kita perbuat semata-mata hanya karena Allah.
3. Seluruh pelaksanaan ‘Amal-Perbuatan mengikuti Rukun dan Syaratnya.
4. Jangan tinggalkan rasa malu di dalam diri kita.

Wali-wali Allah yang dikasyafkan (disingkapkan) baginya Kerajaan Langit dan Bumi serta Rahasia-raha sia Rububiyah, selalu mengalaminya sewaktu dalam keadaan Khusu’ pada saat Sholat. Itu semua bisa terjadi, disebabkan Hadirnya Hati sewaktu melaksanakan Sholat. Terutama di saat ia sedang Sujud. Karena pada waktu Sujud seorang hamba berada sangat dekat dengan Tuhan-nya.

……… وَ ا سْــجُــدْ وَ ا قْـــتَـــرِ بْ

"…Dan Sujudlah serta dekatkan (diri kepada Allah)”

Mukasyafah (tersingkap) yang dialami oleh seseorang yang sedang Sholat adalah sesuai dengan kadar kejernihan Hati dari kekeruhan duniawi. Hal itu bisa dirasakan kuat atau lemahnya. Banyak atau sedikitnya. Yang nyata atau tersembunyi dalam memalingkan wajah Hati ke arah urusan-urusan dunia ini. Sehingga sesuatu dapat tersingkap Haqikatnya bagi seseorang. Namun bagi orang lain terkadang hanya tersingkap sebagian dari Tamsilan atau Ibaratnya saja, seperti tersingkapnya kasyaf seseorang yang menggambarkan dunia ini seperti bangkai, dan setan seperti anjing yang duduk di atas bangkai. Kemudian kedua-duanya mengundang Manusia agar dekat kepada mereka. Maka menzahirlah ke dalam perbuatannya sehari-hari, yaitu ia tidak lagi menginginkan urusan dunia ini karena Haqikat Dunia ini telah tersingkap baginya pada saat Mujahadah kepada Allah ketika Sholat.
Demikian pula terdapat perbedaan dalam obyek yang tersingkap. Beberapa dari mereka tersingkap baginya sebagian dari sifat dan ke-Agungan Allah. Kemudian bagi beberapa orang yang lain lagi, tersingkap sebagian Tindakan Allah. Dan bagi yang lain tersingkap sebagian ‘Ilmu Mu’amalah (kelakuan) Allah yang mustahil-mustahil dalam pandangan manusia.
Sangat banyak sebab tersembunyinya tersingkapnya Tabir Tajallinya hal-hal tersebut. Yang terpenting di antaranya ialah Himmah seseorang. Jika Himmahnya sedang terpusat pada suatu masalah tertentu, maka hal itulah besar kemungkinan dapat Terkasyaf.

أَ نَـاعِـنْدَ ظَـنِّ عَــبْـدِى بِـى وَ أَ نَـامَـعَـهُ حـيَـنَ يَـذْ كُــرُ نـِى فَـإِنْ ذَ كَـرَ نـِى فِى نَــفْسِـهِ ذَكَـرْ تُــهُ فِى نَــفْـسِى وَ إِ نْ إِ لَـــيْــهِ ذِرَ اعًا وَ إِنِ اقْــتُــرَ بَ إِ لَـيَّ ذِرَ اعًا اَ قْــتَــرَ بْتُ إِ لَـــيْـــهِ بَـاعًا وَ إِ نْ أَ تَـا نِى يَـمْـشِى أَ تَـــيْــتُــهُ هَـرْوَ لَــةً

"AKU sesuai dengan dugaan hamba-KU kepada-KU. Dan AKU bersama dengannya ketika ia ingat kepada-KU. Jika ia ingat kepada-KU di dalam Hatinya. AKU pun ingat kepadanya di dalam Hati-KU. Dan jika ia ingat kepada-KU dalam lingkungan khalayak ramai. Niscaya AKU pun ingat kepadanya dalam lingkungan khalayak yang lebih ramai lagi baik. Dan jika ia mendekat kepada-KU sejengkal. AKU pun mendekat pula kepadanya sehasta. Dan ia jika mendekat kepada-KU sehasta. Niscaya AKU mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-KU dengan berjalan. Maka AKU mendatanginya dengan berlari". (HQR. Syaikhani dan At-Turmudzy dati Abu Hurairah Ra)

Mengingat hal-hal penyingkapan ini tidak akan terpantul, kecuali pada cermin-cermin bersih mengkilap. Sementara cermin-cermin yang yang ada semua berkarat. Maka dengan sendirinya Hidayah pun tetap terselubung. Hal ini bukan karena kebakhilan Sang Pelimpah Hidayah, tetapi semata-mata disebabkan karat yang melekat pada saluran Hidayah ! Karat tersebut adalah Kejahilan manusia itu sendiri. Renungkan ucapan :

إِذَاذَاق الـشَّـخَـصُ حَــرَّ مُـخَـا لَــفَـةِ الْـهَــوى فِى الـدُّ نْـــيَا، لَــمْ يُــذِ قْــهُ الـلّـــهُ تَــعَـلىَ كُــرَ بَ فِى الْــعُــقْــبِـىذَ كَــرَ نـِى فِى مَــلإٍ خَــيْـرٍ مِـنْــهُ وَ إِ نِ اقْــتُــرَ بَ إِلَى شِـبْـرًا اَ قْــتَــرَ بْـتُ

"Apabila seseorang telah dapat menahan diri, sehingga merasakan panasnya (tersiksa) melawan hawa nafsu di dalam dunia. Maka ia akan diselamatkan Allah SWT dari dahsyatnya panas di hari kemudian".

Untuk meninggalkan dan menjauhi segala macam Kebakhilan dan Kejahilan yang akan menjurus kepada perbuatan durhaka. Ada pesan-pesan dari ‘Umar bin ‘Abdul Aziz. Khalifah Umayyah ketujuh yang sangat Adil. Hampir sama adilnya dengan ‘Umar bin Kahattab R a :

أَ يُّــهَاالــنَّاسُ ِلأَ تَـسْـتَـصْغِـرُواالـذُّ نُــوْبَ وَالـتَّـمِسُـوْا تَـمْحَــيْصَ مَاسَــلَــفَ مِـنْــهَا بِـالـتَّــوْ بَــةِ إِنَّ الْـحَسَــنَـاتِ يُـذْ هِــيْـنَ السَّـــيِّــأَتِ ذلـِكَ ذِكْـرى لـِلـذَّاكِـر ِيـْنَ ، وَ قَالَ أَ يــْضَاخَابَ وَخَسِـرَ مـَنْ خَـرَ جَ مِنْ رَحْـمَـةِ الـلّـــهِ الَّــتِـى وَ سِعَـتْ كُـلِّ شَيْ ءٍ وَحُـرِّ مَ الْجَـــنَّــةُ الَّـتِـى عَـرْضُـهَاالسَّـمـوَ اتِ وَ الأَرْضُ وَ أَعْــلَــمُوْا أَنَّ اْلأَ مَانَ غَــدً ا لِـمَنْ خَافَ رَ بـَّــهُ وَ بَـا عَ قَــلِــيْــلاً بِـكَــثِــيْــرٍ وَ فَـا نِــيَا بِــبَاقٍ

"Wahai seluruh Manusia ! Janganlah kamu menganggap kecil dosa-dosa itu. Selidiki dan berikhtiarlah untuk mengikis habis apa-apa yang telah di-lakukan. Dengan jalan melakukan Taubat". (Allah telah ber-Firman:"Sesungguhnya Perbuatan-perbuatan baik itu akan menghilangkan segala perbuatan jahat. Itulah Peringatan bagi orang yang mau Ingat !!!,, selanjutnya Beliau berkata : "Telah sia-sia dan merugi orang-orang yang keluar dari Rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu, dan telah di haramkan untuk masuk surga yang luasnya seluas Langit dan Bumi".
"Ketahuilah ! Bahwa Perasaan aman pada hari esok (hari Qiyamat) nanti telah tersedia bagi orang yang takut kepada Rob-nya, (Orang yang tidak takut kepada Rob-Nya) ialah orang yang suka menjual barang yang sedikit untuk ditukarkan dengan yang banyak. Orang yang suka menukar yang Fana’ dengan yang kekal abadi !!!

Ingatlah ! Seandainya janin yang baru terpancar dari Sulbi orang tuanya memiliki akal, niscaya ia akan mengingkari keberadaan manusia dalam udara yang luas ini. Dan sekiranya anak bayi memiliki suatu daya nilai, walaupun terbatas yang dimiliki anak usia Tiga atau Empat tahun, mungkin saja mereka akan mengingkari pengakuan orang-orang dewasa tentang hal-hal yang berkaitan dengan Kerajaan Allah di Langit dan Bumi. Sebab mereka belum tertutup oleh tirai hijab yang dikasyafkan Allah kepadanya.
Demikianlah keadaan manusia pada setiap tahapan hidupnya selalu saja cenderung mengingkari apa-apa yang akan terjadi pada tahapan selanjutnya. Anak-anak yang masih bersih dari hijab, memandang dengan Himmahnya bahwa para orang-orang tua sudah jadi Bodoh dan Tolol mengimani Allah dan Rasul-Nya. Itu semua bisa terjadi karena manusia itu tertutup oleh segala hijab hasil dari segala perbuatannya ketika lapang maupun sempit.

Barang siapa mengingkari Wilayah Kewalian, ia akan terpaksa pula mengingkari Tahapan Nubuwah (Kenabian). Sementara semua makhluq telah diciptakan bertahap-tahap. Maka, jika sikap tersebut dapat dibenarkan, niscaya setiap orang akan mengingkari segala yang berada dibalik tingkatan pengetahuannya sendiri. Inilah manusia yang persis Katak di bawah Tempurung, ia kira hanya seluas itulah dunia itu. Setelah ia keluar dari kungkungan tempurung, baru ia sadar bahwa dunia itu sangat luas. Ini suatu sindiran buat kita semua.
Kita faham benar, bahwa ada orang-orang tertentu yang mencari Haqikat kebenaran melalui cara perdebatan dan pembahasan yang kacau balau. Sehingga kaji Haqikat tercermin buruk perangai dalam kenangan masyarakat banyak. Bukan melalui cara Pensucian Qolbi dari segala sesuatu yang selain Allah. Maka akibatnya mereka telah kehilangan Haqikat dan kemudian mengingkarinya. Ini adalah suatu peringatan bagi kita semua, bahwa Haqikat itu sangat mudah hilangnya dari Qolbi manusia. Mana kala ia ditunggangi oleh hal-hal dunia.
Oleh sebab itu, siapa saja yang tidak termasuk dalam kalangan Ahli Mukasyafah, setidak-tidaknya ia beriman kepada yang gaib dan mempercayainya sampai ia mampu menyaksikannya sendiri melalui berbagai Metoda. Maka termasuklah ia orang-orang yang beruntung di Dunia dan Akhirat.
Dalam suatu Hadits Nabi Saw. disebutkan :”Apabila seseorang hamba sedang berdiri di dalam Sholatnya. Allah SWT mengangkat Tirai yang menghalangi antara DIA dan hamba-Nya itu, lalu DIA menghadapi-Nya. Para Malaikat berbaris, mulai dari kedua bahunya sampai ke langit. Malaikat juga Sholat mengikuti Sholatnya, dan mengucapkan Amiin atas doa orang itu. Dan sesungguhnya, seorang yang sedang Sholat ditaburi segala kebajikan dari puncak langit sampai garis pembatas rambut di kepalanya.
Di saat itu pula akan terdengar suara : "Sekiranya hamba yang sedang Sholat ini menyadari siapa yang diajaknya bermunajat, niscaya ia tidak akan menoleh ke arah manapun. Dan sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka bagi orang-orang yang Sholat. Sedangkan Allah SWT. menunjukkan kebanggaan-Nya kepada para Malaikat-Nya. Terutama Malaikat yang berkenan dengan hamba-Nya yang sedang Sholat".
(Hadits ini disebutkan oleh pengarang Kitab "Quthul Qulub". Dan oleh As-Sahruwardi dalam Kitab Al-Awarif).

Demikianlah terbukanya pintu-pintu langit bagi si hamba yang sedang Sholat dan saat itu si hamba langsung berhadapan dengan Wajah Allah SWT. Adalah isyarat tentang Mukasyafah yang dikarenakan hadirnya Hati seseorang sewaktu melaksanakan Sholat.
Jika kita renungkan secara makna atau arti yang tersirat, maka dapatlah kita ketahui yang dimaksud langit disini adalah Hijab atau tirai yang mendinding antara hamba dengan Allah SWT. Antara Makhluq dengan Tuhan-nya.
Bahwa tertulis di dalam Kitab Taurat yang berbunyi :"Hai Anak Adam ! janganlah engkau terhalang dari berdiri dihadapan-KU. Laksanakanlah Sholat seraya menangis. AKU-lah Allah yang menghampiri Hatimu. Dan dengan cara gaib engkau melihat Cahaya-KU".
Banyak para Ahli Ma’rifah berkata : "Kami menilai bahwa kerawanan Hati, ratapan yang terurai dari Hati sanubari akan menghasilkan Penyingkapan kegaiban oleh seseorang yang Sholat dengan Tawadhu’, Tawaruk, dan Khusu’.
Orang yang Sholat sehingga dapat mencapai rasa yang sedemikian rupa adalah disebabkan penghampiran Allah SWT kepada Hati orang tersebut. Dan mengingat penghampiran itu bukanlah suatu penghampiran yang memerlukan ruang dan waktu. Maka tidak ada arti lain. Kecuali penghampiran dengan Hidayah dan Inayah serta Rahmat dari Penyingkapan Tirai selaku Hijab.
Diriwayatkan pula. Apabila seseorang hamba melaksanakan Sholat, perbuatannya itu dikagumi oleh sepuluh baris Malaikat, setiap baris terdiri atas Sepuluh ribu Malaikat. Allah SWT pun menyanjung-nyanjung dihadapan Seratus ribu Malaikat tersebut. Hal ini disebabkan si hamba telah menghimpun beberapa gerakan-gerakan, dari mulai Berdiri, Ruku’, Duduk, Sujud dan Salam. Serta membaca Ummul Kitab dan Ayat Al-Qur-aan yang mulia di sisi Allah SWT. Dan saat itu pula Allah SWT. membagi-bagikan gerakan-gerakan itu di antara Empat puluh ribu Malaikat. Para Malaikat yang berdiri tidak Ruku’ sampai hari Qiyamat. Dan ada yang hanya Sujud tidak akan berdiri sampai hari Qiyamat. Demikian pula yang Duduk tidak akan bergerak hingga hari Qiyamat. Kedekatan dan Derajat yang diberikan Allah SWT. kepada para Malaikat itu akan terus berlaku secara ketat dalam keadaan yang sama. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Karena itulah Allah ber-Firman :

وَ مَامِـنَّا اِلاَّ لَــه مَــقَا مٌ مَّـعْــلُـوْ مٌ . وَ اِ نَـا لَـــنَــحْــنُ الـصَّافُــوْ نَ . وَ اِ نَّـا لَـــنَــحْــنُ الْــمُــسَـــبِّــحُــوْ نَ


"Setiap dari kami (para Malaikat) mempunyai tugas tertentu". "Dan sesungguhnya kami berbaris (menunaikan Perintah Allah)". "Dan sesungguhnya kami tetap Bertasbih Memuji-Nya". (Q.S. Ash-Shoffaat : 164 - 166)

Namun manusia berbeda dengan Malaikat. Manusia meningkat dari tingkat yang satu ke tingkat yang lebih tinggi. Dan terus menerus mendekatkan diri kepada Allah Jalla Wa’azza. Serta manusia akan memperoleh tambahan dari kedekatannya kepada Allah. Sedangkan pintu tambahan untuk Malaikat tertutup. Masing-masing Malaikat sudah memiliki satu tingkatan saja, yang tidak dapat dilampauinya. Malaikat tidak akan berpindah dari jenis ibadah yang dijalaninya dan tidak akan berhenti melakukannya. Firman :

وَ لَـه مَنْ فِى السَّـموَاتِ وَ اْلاَرْضِ وَمَنْ عِـنْدَ هُ لاَ يَـشْــتَــكْـبِرُوْ نَ عَنْ عِــبَادَ تِــــه وَ لاَ يــَسْــتَـحْــسِــرُوْنَ يُــسَـــبِّـحُـوْنَ الَّــيْــلَ وَ الـنَّـــهَارَ لاَ يـَــفْـــتَــرُ وْ نَ

"Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang ada di langit maupun yang di bumi. Dan para Malaikat yang ada di dekat-Nya. Mereka tidak merasa Angkuh menyembah-Nya. Dan tidak pula merasa letih". "Mereka tetap bertasbih Siang dan Malam tidak ada henti-hentinya". (Q.S. Al-An-Biyaa’ : 19 - 20)

Pada haqikatnya kunci tambahan itu adalah Sholat. sebagaimana Firman-Nya :

قَـدْ اَ فْــلَــحَ الْــمُــؤْ مِــنُـوْ نَ . ا لَّـذِ يْـــنَــهُـمْ صَــلـو تِـــهِـمْ خَاشِـعُـوْ نَ

"Sesungguhnya beruntung orang yang Beriman". "(yaitu) orang-orang yang Khusu’ dalam Sholatnya. (Q.S. Al-Mukminuun : 1 - 2)

Dalam ayat tersebut Allah SWT memuji mereka-mereka yang Sholat, selain karena Iman kepada Allah mereka juga khusu’ dalam Sholatnya. Kemudian Allah mengakhiri pelukisan sifat orang-orang yang beruntung tersebut karena Sholatnya :

وَ الَّـذِ يْـنَ هُـمْ عَــلىَ صَــلـو تــِـهِـــمْ يـُحَا فِـظُــوْ نَ

"Dan orang-orang yang yang memelihara Sholat nya". (Q.S. Al-Mukminuun : 9)

Selanjutnya Allah menyebutkan di dalam Al-Qur-aan. Hasil yang akan mereka peroleh, disebabkan adanya sifat-sifat tersebut dengan Firman-Nya :

اُولــئِـكَ هُـمُ الْــوَ ارِ ثُــوْ نَ . ا لَّـذِ يْـنَ يَـرِ ثُــوْنَ الْــفِــرْدَ وْسَ هُـمْ فِــيْــهَا خــلـِدُوْ نَ

"Mereka itulah orang-orang yang akan menjadi pewaris". "(yang) Mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya". (Q.S. Al-Mukminuun : 10 - 11)

Dalam ayat-ayat tersebut, Allah melukiskan bahwa mereka bersama-sama menerima keberuntungan dan mendapat Anugerah kemenangan dan pada akhirnya menikmati surga yang tak pernah terlihat oleh mata di dunia. Dan tak pernah terdengar oleh Telinga. Serta sedikitpun tak pernah tersirat dalam ingatan.

29 March 2008

26. Ta'rif (Defenisi) Ikhlas

Maksud Ikhlas itu ialah melaksanakan Ibadat hanya semata-mata karena ingin mendekatkan diri kepada Allah. Bukan karena melahirkan ta’at di hadapan umum. Dan bukan pula mengharap pujian dan sanjungan orang, agar disayang dan mendapat perhatian dari masyarakat.
Jika ditegaskan, bahwa Ikhlas itu ialah mebersihkan ‘Amal dalam beribadah dari perhatian umum. Agar Hati tidak Riya dan merasa ‘Ujub (heran kepada diri). Sebagaimana yang di Perintahkan Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya :

قُــلْ اِ نّـِيْ اُمِـرْ تُ اَنْ اَ عْـــبُــدَ الـلّـــهَ مُخْــلِـصًالَّـــهُ الـدِّ يْـنَ

“Katakanlah !!! Saya diperintah (hanya) menyembah Allah dan ber-Agama dengan tulus ikhlas karena-Nya”. (Q.S. Az-Zumar : 11)

وَ اُمِرْتُ ِلأَنْ اَ كُــوْنَ اَوَّ لَ الْـمُسْـلِـمِـيْـنَ. قُـلْ اِ نِّـيْ اَخَافُ اِنْ عَصَــيْتُ رَ بِّـيْ عَـذَابَ يـَـوْ مٍ عَـظِــيْمٍ. قُـلِ الـلّـــهَ اَعْــبُـدُ مُخْــلِـصًالَّــهُ دِ يْـنِـيْ . فَاعْـــبُـدُوْا مَاشِـئْــــتُــمْ مِّـنْ دُوْ نـِــــه قُـلْ اِنَّ الْـخسِـرِ يْـنَ الَّـذِ يْـنَ خَسِـرُوْآ اَ نْــفُسَـــهُـمْ وَ اَ هْـلِــيْــهِـمْ يـَوْ مَ الْــقِــيَا مَـةِ اَلاَ ذ لـِكَ هُـوَ الْـخُـسْــرَ انُ الْــمُــبِـــيْــنُ

“Saya disuruh menjadi orang pertama berserah diri”.“Katakanlah ! Sesungguhnya saya takut terhadap ‘azab pada hari Qiyamat. Jika saya durhaka kepada-Nya”.* “Katakanlah !!! hanya Allah saja yang aku sembah dengan Ikhlas dalam menjalankan Agamaku”. “Maka sembahlah Hai orang-orang Musyriq apa saja yang kamu sukai selain dari Allah ! “Katakanlah !!! “Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang yang merugikan dirinya sendiri dan keluarganya pada hari Qiyamat. “Ingatlah !!! Yang demikian itu adalah kerugian yang sangat nyata”.* (Q.S. Az-Zumar : 12 s/d 15)

اِلاَّ الَّـذ ِيْـنَ تَـابـُـوْا وَ اَصْــلَحُـوْ ا وَ اعْــتَــصَــمُـوْا بِـالـلّــــهِ وَ اَخْــلَــصُـوْ ا دِ يْــنَـــهُـمْ لـِلّــــهِ فَــأُو لــئِـكَ مَـعَ الْــمُـؤْ مِــنِــيْــنَ، وَ سَــوْ فَ يُــؤْ تِ الـلّـــــــهُ الْـمُــؤْ مِـنِــيْـنَ اَجْــرًا عَـظِــيْــمًا

“Kecuali orang-orang yang Taubat. Dan melakukan islah (Tidak lagi mengulangi kesalahan yang lama, kemudian berbuat baik dan benar). Dan berpegang teguh kepada Agama Allah dan dengan Ikhlas mematuhi (Agamanya) karena Allah. Maka mereka akan bersama-sama orang-orang yang beriman. Dan Allah akan memeberi orang-orang yang beriman Pahala yang sangat besar”. (Q.S. An-Nisaa’ : 146)

Orang yang tidak ikhlas, akan melihat situasi dan kondisi. Dimana yang enak, kesanalah ia akan pergi. Mereka kira itu adalah sikap yang baik dan bisa menipu Allah.
فَـادْ عُـواالـلّـــهَ مُخْــلِـصِـيْـنَ لَــهُ الـدِّ يْـنَ وَ لَـوْ كَــرِهَ الْـكــفِــرُوْنَ

“Serulah Allah saja. Dengan beribadah yang Ikhlas kepada-Nya. Walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya”. (Q.S. Al-Mukmin : 14)

اِنَّـآ اَ نْزَ لْــنَآ اِلَــيْـكَ الْـكِــتَابَ بِـالْحَـقِّ فَاعْــبُدِالـلّــهَ مُخْـلِصًالَّـهُ الدِّ يْنَ

“Sesungguhnya KAMI menurunkan Kitab (Al-Qur-aan) kepadamu berisi kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan Ikhlas”. (Q.S. Az-Zumar : 2)

وَ مَآ اُمِرُوْآ اِلاَّ لِـيَـعْــبُـدُ الـلّـــهَ مُخْـلِـصِيْـنَ لَــهُ الـدِّ يْـنَ ، حُــنَــفَـآ ءَ وَ يـُـقِــيْمُـوْاالـصَّـلاَ ةَ وَ يـُـؤْ تُــواالـزَّ كــو ةَ وَ ذ لـِـكَ دِ يْـنُ الْــقَــيِّــمَـةِ

“Padahal mereka hanya disuruh menyembah Allah. Mengikhlaskan Agama bagi-Nya (mengharap Ridho-Nya) Mendirikan Sholat. Dan membayar Zakat. Demikianlah Agama yang benar”. (Q.S. Al-Baiyinah : 5)

قُـلْ اَ تـُحَـآجُّـوْ نَـــنَـا فِى الـلّـــهِ وَ هُــوَ رَ بُّــنَا وَ رَ بُّـكُـمْ ط وَ لَــــنَآ اَعْــمَالُـــنَا وَ لَــكُـمْ اَعْـمَا لُـكُـمْ ج وَ نَـحْـنُ لَــه مُـخْــلِـصُـوْ نَ

“Katakanlah ! “Apakah kamu mau Berdebat dengan kami, tentang (Ketunggalan) Allah ?”. “Padahal DIA-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami pahala ‘Amalan kami. Dan bagimu pahala ‘Amalan kamu. Dan hanya kepada-Nya kami menyembah dengan Ikhlas”. (Q.S. Al-Baqarah : 139)

Pendapat ‘Abdul Qosim ‘Abdul Karim Al-Qusyai riy. Dalam Risalahnya :

أَ ْلإِخْـلاَصُ إِفْـرَدُالْحَـقِّ سُــبْحَا نَــهُ وَ تَــعَـالىَ فِى الـطَّاعَــةِ بِـالْـقَـصْدِ

“Ikhlas itu ialah Mendahulukan Ta’at Ibadat hanya untuk Allah Yang Haq saja”.
(atau membulatkan tekad dan tujuan dalam Beribadah kepada Allah saja)”.

Maksudnya ikhlas itu ialah Melaksanakan Ibadah semata-mata hanya karena hendak mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Bukan karena Ria dan ingin dilihat oleh masyarakat banyak. Berpegang kepada Hadits Nabi Saw :

مَنْ أَعْطَى لـِلّــهِ تَــعَـلىَ وَ مَــنَـعَ لـِلّــهِ تَــعَـلىَ وَ أَحَـبَّ لـِلّـــهِ تَـعَـلىَ وَ أَ بـْـغَـضَ لـِلّــــهِ تَــعَــلىَ وَ أَ نْــكَــحَ لـِلّــــهِ تَـعَـلىَ فَــقَــدِ سْــتَــكْــمَــلَ إِ يْــمَا نُـــهُ

“Barangsiapa memberi karena Allah. Menolak karena Allah. Mencintai karena Allah. dan Menikah karena Allah. Maka sempurnalah Imannya”. (H.R. Abu Daud)

Maksudnya ialah segala sesuatu wajib dengan karena Allah. Ia marah karena Allah, tidak marah karena Allah. Segala urusan atau pekerjaan hanya karena Allah.

Ulama besar Abu ‘Ali - Ad-Daqqoq berpendapat :

أَ ْلإِ خْـلاَصُ الـتَّــوَ قِّى عَنْ مَــلاَحَـظَــةِ الْـخُــلْــقِ ، وَ الـصَّــدْ قُ الـتَّــنَــقِى عَنْ مَـطَا وَ عَـةِ الــنَّــفْـسِ

“Ikhlas itu ialah memelihara Ibadah dari perhatian manusia. Dan benar itu ialah bersih Hatinya dari mengikuti hawa nafsu”.

Tegasnya, orang yang Mukhlis itu, tidak hadir rasa riya di dalam Hatinya. Dan setiap ia melaksanakan Ibadah apakah perbuatannya itu dilihat orang atau tidak, sama saja. Dengan kata lain :

أَ ْلإِخْـلاَ صُ أَنْ تَـسْــتَــوِيْ أَ فْـعَـلُ الْــعِــبَادِ فِى الـظَّاهِـرِ وَ الْـــبَاطِــنِ

“Ikhlas itu ialah “Bersamaan perbuatan pada zahir dan batin”. (Melaksanakan sesuatu di muka orang, sama saja dengan melakukannya di belakang orang)”.

Kita perhatikan Hadits di bawah ini :

إِنَّ الـلّـــهَ تَــعَـلىَ لاَ يَــنْـظُــرُ إِلىَ أَجْـسَادِكُـمْ ( أَ وْصُـوَ رِكُـمْ ) وَ لاَ إِ لىَ أحْــسَا بِـكُـمْ وَ لاَ إِلىَ أ مْــوَا لِـكُـمْ وَ لـكِـنْ يَــنْـظُــرُ إِلىَ قُــلُــوْ بِـكُـمْ . فَـمَـنْ كَـانَ لَــهُ قَـــلْـبِ صَالِــحٌ تَـحَــنـَّـنَ الـلّـــهِ عَــلَــيْـهِ. وَ أَ مَّا أَ نْـــتُــمْ بَـــنِى آ دَ مَ فَــأَحَــبُّـكُـمْ إِلىَ الـلّــــهِ أَ تْــقَا كُــمْ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak memandang postur tubuhmu dan tidak pula (memandang) kedudukanmu maupun harta kekayaanmu. Tetapi Allah menilik pada Hatimu. Barangsiapa memiliki Hati yang Sholeh maka Allah menyukainya. Bani Adam yang sangat dicintai Allah adalah yang paling Taqwa”. (H.R. Ad-Dailami dan Muslim)

مَنْ أَسْـخَـطَ الـلّــــهَ فِى رِضَاالـــنَّا سِ سَـخِـطَ الـلّــــهُ عَــلَـــيْــهِ وَ أَسْـخَـطَ عَــلَـــيْــهِ مَـنْ أَرْضَا هُ . وَ مَـنْ أَ رْضَى الـلّــــهَ فِى شَـخَـطِ الـــنَّا سِ رَضِـيَ الـلّــــهُ عَــنْــهُ وَ أَ رْضَى عَــنْـهُ مَنْ أَسْخَـطَ فِى رِضَا هُ حَــتَّى يُـزَ يِّــنَــهُ وَ يُـزَ يِّـنَ قَــوْ لُــهُ وَ عَـمَــلُــهُ فِى عَــيْــنِــهِ

“Barangsiapa meraih murka Allah untuk meraih kerelaan manusia. Maka Allah murka kepadanya. Dengan murka itu maka menjadikan orang yang semula senang jadi murka kepadanya*. Namun barangsiapa yang meraih Ridho Allah. (Meski dengan itu) akan menarik kemurkaan manusia. Maka Allah akan meridhoinya. Dan menyenangkan orang yang pernah memurkainya. Sehingga Allah memperindahnya. Memperindah ucapannya dan perbuatannya dalam pandangan-Nya”. (Ath-Thabrani)

مَنْ أَحْسَـنَ فِــيْـمَا بَــيْــنَـهُ وَ بَــيْـنَ الـلّــــهِ كَـــفَا هُ الـلّــــهُ مَا بَــيْــنَــهُ وَ بَــيْـنَ الـــنَّا سِ وَ مَـنْ أَصْــلَـحَ سَــرِ يْــرَ نَــهُ أَصْــلَــحَ الـلّــــهُ عَــلاَ نِـــيَــتَـــهُ


“Barangsiapa memperbaiki hubungan dengan Allah, maka Allah akan menyempurnakan hubungannya dengan manusia. Barangsiapa memperbaiki apa yang dirahasiakannya, maka Allah akan memperbaiki apa yang dizahir kannya”. (H.R. Al-Hakiim)

Kalimat Orang ‘Arif yang Bijaksana :
‘Amal perbuatan tanpa Niat adalah suatu kesukaran. Dan Niat tanpa Ikhlas adalah Riya. Sementara Riya itu sebanding dengan Munafiq. Dan Riya dengan Durhaka itu adalah sama. Ikhlas tanpa kebenaran dan pembuktian adalah bagaikan debu yang beterbangan.

وَ قَـدِمْـنَآ اِلىَ مَاعَـمَـلُـوْ ا مِنْ عَـمَــلٍ فَـجَــعَــلْــنــهُ هَــبَآ ءً مَّــنْــثُــوْ رًا

“Dan KAMI hadirkan (diperlihatkan) ‘Amalan yang mereka lakukan. Kemudian KAMI jadikan (‘amalan) itu menjadi Debu yang beterbangan (Sehingga sedikit pun tidak berguna bagi mereka)”. (Q.S Al-Furqoon : 23)

Bagaimana mungkin orang yang tidak mengetahui Haqikat Niat itu bisa membetulkan Niatnya atau memperbaiki ikhlasnya, sementara ia sendiri tidak mengetahui Haqikat Ikhlas itu sendiri. Dan bagaimana orang yang Ikhlas menuntut dirinya masuk ke dalam kategori kebenaran ? apabila ia sendiri tidak mengetahui arti kebenaran itu dengan sebenar-benarnya.
Maka tugas yang pertama bagi setiap individu, hamba yang ingin ta’at kepada Allah SWT adalah wajib belajar tentang Niat dengan sebenarnya sehingga faham betul Haqikat Niat tersebut. Kemudian ia harus membetulkannya dengan perbuatan setelah memahami Haqikat kebenaran. Dan Ikhlas itu adalah jalan kedua menjadi perantara hamba menuju keselamatan dan kemurnian fitrahnya.

إِذَاالـتَّــقـى الصَّــفَّانِ نَــزَ لَـتِ الْــمَــلاَ ئِـكَــةُ تَــكْـــتُـبُ الْـخَــلْــقَ عَـلَى مَـرَ تِــبِــهِمْ فُلاَنِ يُـقَـا تِــلُ لـِلـدُ نْــيَـافُــلاَنِ يـُـقَا تِــلُ حَـمِـيَّـةَ فُــلاَنِ يـُــقَاتِــلُ عَـصَـبِــيَّــةً ، أَ لاَ فَــلاَ تَــقُــوْلُــوْا فُــلاَنٌ قُــتِــلَ فِى سَـبِــيْــلِ الـلّــــهِ فَـمَـنْ قَا تَــلَ لــِتَــكُــوْنَ كَــلــِمَــةُ الـلّــــهِ هِيَ الْــعُــلْـــيَا فَــهُــوَ فىِ سَــبِــيْــلِ لـلّـــــهِ

“Apabila dua Barisan Perang bertemu. Maka Malaikat turun untuk menulis kerja manusia menurut tingkatan mereka. Si fulan berperang karena dunia. Si fulan berperang karena marah. Si fulan berperang karena fanatik golongan. Ingatlah ! Janganlah kamu berkata. ”Si fulan terbunuh di jalan Allah. Sebenarnya ialah barangsiapa yang berperang hanya untuk meninggikan Agama Allah. Itulah yang di jalan Allah”. (H.R. Ibnu Mubarak hadits dari Ibnu Mas’ud)

28 March 2008

25. Berlaku Benar dalam Beribadah

Berlaku benar dalam beribadah menurut Al-Qusyairi adalah “Tiang ‘Amalan. Bahkan Sendi ber-ibadah”. Yang dimaksud dengan benar di sini, ialah melaksanakan Ibadah hanya karena Allah. Metodanya ialah Bersamaan Zahir dan Batin. Sabar zahir karena Allah dan sabar batin karena Allah. Orang yang benar dalam beribadah, ialah semua pelaksanaan ibadahnya hanya karena Allah. Bukan karena malu terhadap manusia atau malu terhadap mertua. Dan lain-lain.
Orang yang tidak memperdulikan hilangnya pandangan manusia terhadap dirinya. Dan ia lebih mementingkan kebersihan jiwanya, dengan cara melaksanakan Ibadah tidak suka memperlihatkan ikhtiar ibadahnya kepada manusia. Dan tidak benci kepada orang yang mencerca (mencaci) dan mengecam dirinya. Karena ia tidak sedikitpun menginginkan puji-pujian dari mulut manusia.
Jelasnya orang yang ber-Ibadah itu wajib benar-benar hanya karena Allah. Ia akan senantiasa terus menerus mengutamakan Ibadah. Inilah Haqikat Niat yang dimaksud Hadits :

إِ نَّــمَا اْلأَ عْــمَالُ بِـا نِّــيَاتِ وَ إ ِنَّــمَا لِكُــلِّ امْرِ ئٍ مَا نَــوى

“Sesungguhnya ‘amal-‘amal perbuatan tergantung dengan Niatnya. Dan bagi tiap orang (yang ber-Ibadah/Ber’amal) tergantung dengan apa yang diniatkannya”.

Tegasnya, menurut penggerak yang digerakkan seseorang dalam melaksanakan Ibadah atau dalam melaksanakan ‘Amalannya. Apakah segenap ‘Amalan atau Ibadahnya itu benar-benar karena Allah SWT atau hanya karena malu kepada masyarakat sekelilingnya. Yang demikian ini hanya orangnya yang tahu dengan segala pekerjaan Hatinya. Orang disebelahnya tidak akan tahu apa yang di-Niatkan Hati orang tersebut. Maka pulang terserah kepada orang yang ber’amal.
Ingatlah ! Bahwa Sholat adalah merupakan suatu bentuk ritual yang sangat agung. Di dalamnya terdapat rangkaian Ibadah yang mampu menjalin kontak langsung antara hamba kepada Kholiq-nya. Dalam salah satu rangkaian Ibadah, Sholat inilah seorang hamba bisa dalam posisi yang sangat dekat dengan yang Maha Pencipta. Ibadah Sholat memiliki kedudukan khusus dalam Syari’at Islam. Hal ini dapat diketahui dari awalnya. Sebab proses pengambilan Sholat, Allah langsung memanggil Rasul-Nya Muhammad lewat Isra’ dan Mi’raj untuk menerima langsung Perintah Sholat. Ketika serah terima Perintah Sholat terjadi di Forum yang sangat tinggi, hanya Allah dan Muhammad saja yang menghadiri farum khusus ini. Sehingga Malaikat Jibril As. harus undur diri dari Forum istimewa dan khusus tersebut. Menunjukkan keagungan ritual Sholat. Siapa saja yang melaksanakannya, ia wajib suci Hatinya dan bersih Tubuhnya dari hadats besar dan hadats kecil. Nanti di Akhirat Ibadah Sholat ini juga akan dipertanyakan terlebih dahulu, ketimbang ’Amal ‘amal yang lain. Jika Sholat seseorang dianggap baik, maka semua ’amal perbuatan yang lain akan dianggap baik oleh Allah Jalla Wa’azza. Maka semua ’amalan yang lain akan beres.

Kedudukan Khusyu' dalam Sholat.
Agar seseorang bisa melaksanakan Sholat dengan baik, maka ia harus mengetahui segala ’ilmunya. Karena ’Amal tanpa ’ilmu adalah batal (Niscaya tidak diterima Allah). Dan ’Ilmu tanpa ’Amal adalah sesat yang nyata.
Setelah mengerti bahwa Jiwa Sholat itu adalah Ikhlas dan Khusu’ serta mendirikan Sholat itu sebenarnya adalah untuk mewujudkan Jiwa Sholat tersebut dari Haqikat kepada rupa yang Zahir. Yaitu secara otomatis akan menjalar ke dalam darah dan daging orang yang Sholat, suatu adab yang baik kepada Allah maupun kepada manusia. Karena setara dengan selesainya melaksanakan Sholat maka Sopan dan Santun di dalam Sholat akan tercermin kepada perbuatan di luar Sholat.
Telah nyata kedudukan Khusu’ sesuai dengan ilmu yang ada pada kita, yaitu Khusu’ dan Ikhlas itu ibarat kedudukan Ruh atau Jiwa di dalam tubuh manusia. Tanpa mereka kita tidak akan dikatakan hidup. Tanpa mereka manusia akan jadi bangkai. Tanpa Ruhani dan Jiwa, manusia tidak akan bisa melihat dan mendengar. Tanpa Ruh dan Jiwa, manusia tidak akan bisa bergerak. Apa lagi mau berfikir ? Jatuh kata pasti, bahwa manusia yang tidak mempunyai Ruh dan Jiwa, Insya Allah tidak ada gunanya bagi manusia yang lain. Untuk itu, dalam menata pemahaman kita yang berkaitan dengan hal Ikhlas dan Khusu' ini, maka kita perlu merenungkan faham pendahulu-pendahulu kita. Dan kita perlu Ta’rif (pengertian) Khusu’ dan Ikhlas. Takut dan Hadir Hati yang menjadi Ruh Sholat, serta yang menjadi sebab yang paling pokok bagi diterimanya Sholat seseorang.

Apa gerangan arti Khusyu' itu ?
1. Kata sebagian ‘Ulama :
“Khusu’ itu ialah memejamkan mata dan merendahkan diri hanya kepada Allah SWT.
2. Kata Ali bin Abi Thalib Ra :
"Khusu’ itu ialah tiada berpaling ke kanan atau ke kiri di dalam Sholat".
3. Kata Amru Ibnu Dinar Ra :
"Khusu’ itu ialah Tenang dan bagus kelakuannya dalam Sholat".
4. Kata Ibnu Sirrin Ra :
"Khusu’ itu ialah tiada mengangkat Pandangan dari tempat Sujud".
5. Kata Ibnu Jubair Ra :
"Khusu’ itu ialah tetap mengarahkan Fikiran kepada Sholat , sehingga tiada mengetahui orang sebelah kanan maupun kiri".
6. Kata Ibnu ‘Atho-illah :
"Khusu’ itu ialah tiada mempermain-mainkan tangan, tidak memegang badan tidak karuan dalam Sholat".
Maka dengan mengumpulkan makna kata-kata orang-orang ‘Arif zaman dahulu sebagaimana yang tersebut di atas, maka kita mendapat faedah dan pengertian bahwa Khusu’ itu, ada yang mengatakan Tenang, ada yang mengatakan ’Amalan Hati. Ada yang mengatakan Jiwa harus merasa takut.
Menurut Ta’rif orang-orang ‘Arif. Bahwa Khusu’ ialah ‘Amalan Hati. Suatu keadaan (kelakuan) yang mempengaruhi Jiwa. Maka ia akan melahirkan bekasnya pada anggota Tubuh, seperti Tenang dan Menundukkan diri kepada Allah.
Nabi Saw. telah bersabda :

لَـوْخَـشَـعَ قَــلْـبُ هذَاالـرَّجُـلِ لَـخَـشَــعَـتْ جَـوَارِحُـــهُ

"Sekiranya Khusu’ Hati (Jiwa) orang ini. Tentu Khusu’ pula seluruh Anggota Badannya". (H.R Al-Hakim. At-Turmudzy dari Abu Hurairah Ra. dalam Kitab Jami’us-Shokhir)

Pendapat orang ‘Arif, "Tegasnya Khusu’ ialah" :

أَ لإِ خْـــبَـاتُ وَ تَــطَا مُنُ الْــقَـــلْـبِ وَ الْـجَــوَ ارِ حِ لـِلّـــهِ تَــعَــلىَ

"Tunduk dan Tawadhuk serta berketenangan Hati dan Anggota Tubuhnya kepada Allah SWT".

أَوَّ لُ شَيْ ءٍ يُـرْ فَــعُ مِنْ هذِ هِ اْلأُ مَّـةِ الْخُـشُـوْ عُ حَــتَّى لاَ يـُرَى فِـيْــهَا خَاشِـعٌ

"Yang pertama-tama diangkat dari Umat ini ialah khusu’. Sehingga tidak terlihat seorangpun yang khusu’. (H.R. Ahmad dan Ath-Thabrani)

لاَ يــَـزَ الُ الـلّــــهُ مَـــقْـــبُــــلاً عَــلَى الْــعَـــبْــدِ وَ هُـوَ فِى صَّــــلاَ تِــهِ مَالَــمْ يَــلْــتَـــفِــتْ فَــإِ ذَ ا الْــتَـــفَـــتَ اَعْــرَ ضَ عَـــنْـــهُ

"Allah Ta’ala tetap berhadapan dengan hamba-Nya yang sedang melaksanakan Sholat dan jika ia mengucapkan Salam (menoleh) maka Allah meninggalkannya". (H.R. Mashohih As-Sunnah)

إِنَّ أوَّ لَ مَـا يـُحَـاسَـبُ بِــهِ الْـعَــبْـدُ يَــوْ مَ الْــقِــيَا مَـةِ مِنْ عَـمَـلِــهِ صَـــلاَ تَــهُ فَــإِنْ صَحَّـتَ فَــقَــدْ أَ فْــلَــحَ وَ أَ نَــجْــحَ وَ إِ نْ فَـسَــدَ تْ فَــقَــدْ خَابَ وَ خَــسِــرَ

“Yang pertama-tama dipertanyakan (diperhitungkan) terhadap seorang hamba pada hari Qiyamat dari ‘amal perbuatannya adalah tentang Sholatnya. Apabila Sholatnya baik, maka ia beruntung dan sukses. Namun apabila Sholatnya buruk, maka ia akan kecewa dan merugi”. (H.R. An-Nasaa’i. dan At-Tirmidzi)

27 March 2008

24. Arti Mendirikan Sholat

Ada beberapa Pendapat atau Definisi tentang arti Mendirikan Sholat ini. Maka ada baiknya kita memperhatikan banyak faham, untuk menambah luasnya pengetahuan kita. Dan tidak terpaut hanya pada satu Faham saja. Pengetahuan kita hanya sedikit. Namun sering kita pertahankan pendirian yang ada pada kita. Eh … Kiranya tanpa disadari kita telah mendirikan benang basah menurut istilah zaman lama.

1. Kata Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya pada Bab yang menerangkan arti Mendirikan Sholat dengan mengemukakan pendapat-pendapat para Sahabat dan Tabi’in. (Tafsir Ibnu Katsir Juz I Hal 42) menerangkan, Berkata Ibnu ‘Abbas Ra :

إِ قَـامَــةُ الـصَّــلاَ ةُ : إِ قَـا مَــةُ فُــرُوْ ضِــهَا

“Mendirikan Sholat ialah melaksanakan segala Fardhu-Fardhunya” “(Rukun-Rukunnya)”

2. Diterangkan oleh Adh-Dhoha. Bahwasanya Ibnu ‘Abbas Ra. berkata :

إِ قَـامَـةُ الصَّــلاَ ةُ إِ تْـــمَامُ الـرُّ كُــوْعٍ وَ السُّـجُـوْ دِ
وَ الـتِّــلاَ وَ ةِ وَ الْخُـشُـوْ عِ وَ اْلإِ قْــبَالُ عَـلَــيْــهَا فِــيْــهَا

“Mendirikan Sholat ialah Menyempurnakan Ruku’, Sujud, Tilawah (bacaan), Khusu’. Dan menghadap Sholat dengan benar-benar sempurna”.

3.
Berkata Qatadah Ra :

إِقَـامَـةُ الصَّــلاَ ةُ الْـمُحَافِـظَـةُ عَـلَى مَـوَ اقِــيْــتِــهَاوَوَضُـوْءِ هَاوَ رُ كُــوْعِـهَا وَسُـجُـوْ دِ هَا

“Mendirikan Sholat ialah tetap memelihara Wudhu’nya. Memelihara Waktu-waktunya serta memelihara Ruku’ dan Sujudnya”.

Menurut pakarnya, jika ketiga-tiga definisi ini disatukan, maka menjadilah seperti sebuah Tiang yang tangguh dan kukuh, menjadi penyangga dalam mendirikan Sholat. Sebagaimana sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi :

أَلـصَّـــلاَ ةُ عِـمَادُ الـدِّ يْـنِ فَــمَـنْ أَ قَا مَــــهَا فَــقَـدْ أَ قَـا مَ الــــدِّ يْـنَ وَ مَنْ تَــرَ كَــــهَا فَــقَــدْ هَـدَ مَ الـدِّ يْـنَ

“Sholat adalah Tiang penyangga Agama. Barang siapa mendirikannya, maka sesungguhnya ia telah mendirikan Agama. Barang siapa yang meninggalkannya. Maka sesungguhnya ia telah merobohkan Agama (H.R. Al-Baihaqi)

Bahan untuk berfikir dalam masalah Sholat.
Dalam melaksanakan Sholat ini hendaknya kita bisa memelihara waktu-waktunya. Menyempurnakan Khusu’nya. Dan melaksanakan Sholat dengan sesempurna-sempurna mungkin. Sempurna Berdirinya, sempurna Takbirnya, sempurna Ruku’nya, sempurna I’tidalnya, sempurna Sujudnya, sempurna Duduk antara dua Sujudnya, sempurna Tasyahudnya, sempurna Kehadiran Hatinya, sempurna Taqwanya kepada Allah SWT, sempurna Tawadhuk dan Tawaruknya, sempurna Do’anya, dan segala Adabnya sempurna. Tegasnya tekankan ke dalam diri bahwa mendirikan Sholat ialah “Mewujudkan Ruh dan Hakiqat Sholat”. Dalam melaksanakannya, sehingga tercermin pada tingkah laku atau sopan santun orangnya di luar Sholat. Semoga mendapat Hikmah dan Rahasia Sholat. Selanjutnya bisa merasakan Ni’matnya Sholat tersebut.
Apabila salah satu dari yang tersebut di atas tidak kita peroleh dengan sebaik-baiknya. Bagaimana mungkin kita bisa merasakan dan memperoleh terjemahan maksud dari Sholat yang sebenarnya ? Mendirikan sesuatu, artinya ialah melaksanakan sesuatu dengan sebaik-baiknya atau dengan kata lain sesempurna-sempurna mungkin, menurut kadar ilmu yang ada pada kita. Dan setelah kita perbuat, maka besar kemungkinan nantinya kita juga yang akan memperoleh kebaikannya atau manfa’atnya, sehingga kita juga yang akan memperoleh kesan dari perbuatan yang baik tersebut. Ringkasnya arti mendirikan Sholat ialah melaksanakan Sholat dengan sebaik-baiknya dan sesempurna-sempurna mungkin.
Dengan demikian, semoga kita bisa mewujudkan Ruh dan Hakiqat Sholat ke dalam rupa zahirnya yang sempurna, serta mewujudkan bekas-bekas atau kesan-kesan Sholat tersebut setelah selesai melaksanakan Sholat. Kemudian terlihatlah segala Hikmah-hikmah Sholat tersebut di dalam kehidupannya sehari-hari. Seperti kukuh pendiriannya dalam menta’ati segala Perintah Allah dan Rasul-Nya dan teguh Imannya ketika menolak segala yang di haramkan Allah dan Rasul-Nya. Ia tetap Zikir kepada Allah.

فَــإِذَا قَـضَــيْــتُــمُ الصَّـلـو ةَ فَاذْكُــرُواالـلّــهَ قِــيَامًاوَ قُـعُـوْدً ا وَعَـلى جُـنُـوْ بِـكُـمْ

"Dan apabila kamu telah selesai Sholat, tetaplah selalu Mengingat Allah pada waktu Berdiri, Waktu Duduk, Waktu Berbaring”. (Q.S. An-Nisaa’ ayat : 103)

Lebih jauh sebaiknya kita perhatikan uraian para pakarnya :
1. Kata Al -‘Allamah As-Sayid Rasyid Ridho :
“Mendirikan Sholat” ialah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, dengan cara yang paling sempurna, yaitu melaksanakan Sholat karena pengaruh rasa “Kebesaran dan Kemuliaan Allah” kemudian menunaikannya dengan khusus’ atau hadir hatinya kepada Allah.
(Dikutip dalam Kitab Tafsir Al-Manaar Juz I halaman 50)

2.
Kata Al - Ustadz ‘Abul ‘Aziz Al-Khuli :
“Yang dikehendaki dengan mendirikan Sholat” ialah melaksanakannya dengan sebaik-baiknya, serta mengupayakan Khusu’ di dalam Sholatnya. Dan memikirkan segala makna-maknanya, dan tetap Mengingat Allah. Dan dengan sebenarnya Sholat itu dilaksanakan hanya karena Allah serta berserah diri hanya kepada Allah”.
(Kitab Al-Adabun Nabawi pada halaman 7)

3. Imam Ahmad Ibnu Hambal berkata :
Sesungguhnya kualitas ke-Islaman seseorang adalah tergantung pada kualitas Ibadah Sholatnya. Kecintaan seseorang kepada Islam juga tergantung pada kecintaaannya dalam melaksanakan Sholat. Oleh karena itu, kenalilah dirimu sendiri. Wahai hamba Allah ! Takutlah kamu jika kamu nanti menghadap Allah ‘Azza Wajalla tanpa membawa kualitas keislaman yang baik. Sebab kualitas keislaman dalam Hatimu ditentukan oleh kualitas Ibadah Sholatmu”.
(Kitab-As-Sholah wa Hukmu Taarikihaa Ibnul Qoyyim 171)

Allah memerintahkan kepada manusia untuk mendirikan Sholat. Bukan mengerjakan Sholat. Maka barangsiapa yang melaksanakan Sholat, walaupun cukup Syarat dan Rukunnya dan cukup pula kaifiat (kelakuan) yang telah ditentukan oleh Syari’at. Tetapi kosong dari makna Sholat itu sendiri, yakni tiada ber-Jiwa dan tiada Ruh yang serta pada Tubuh Sholat itu, maka orangnya akan rugi besar. Karena orang yang mengerjakan Sholat tersebut, Jiwa dan Perhatiannya tidak kepada Sholat itu.
Fikiran dan Perhatiannya melayang-layang menerawang jauh ke ujung dunia. Sementara tubuhnya Sholat. Namun fikiran dan perhatiannya singgah ke tempat kerja atau ke tempat ia berdagang. Bahkan lebih jauh lagi. Hanya orangnya yang tahu kemana perhatian dan fikirannya terbang. Mereka mengira Sholat itu hanya pelengkap hidupnya atau sekedar untuk bayar hutang, atau agar dipandang oleh manusia bahwasanya ia adalah orang ‘Alim yang Wara’.
Wahai insan !
Tidakkah kita perhatikan bahwa diri kita itu terdiri dari dua kategori, yaitu Ruhani dan Jasmani. Dan sekiranya Jasmaninya kelaparan ? Perut akan mulas, kepala ikut pening, ia akan sempoyongan hilang tenaga. Badan akan ikut merajuk dan mogok kerja. Apakah bisa Tubuh yang demikian ini dibawa kerja untuk mencari uang ? Walaupun itu untuk mereka.
Kemudian perhatikan pula Ruhani kita. Contoh yang di atas tersebut, sebetulnya sama dengan tuntutan Ruhani kita. Manakala Ruhani kelaparan, maka fikirannya akan stress. Hatinya akan gelisah resah tak karuan. Semua pekerjaannya akan serba salah. Walaupun orangnya hanya dapat merasakan kekurangan itu. Namun ia tidak mengerti dari mana datangnya keadaan yang demikian tersebut. Sebab ini adalah masalah Ruhani yang tidak kelihatan. Namun dapat dirasakan. Manusia tidak akan tahu, mana sebenarnya yang kurang dari hidupnya. Namun ia dapat merasakan siksaan di dalam batinnya. Dan dapat pula ia rasakan bahwa orang sekelilingnya tidak tahu. Konon pula akan turut merasakannya ???
Hanya ia sendiri yang merasakan keresahan. Kegersangan. Kehampaan dalam dirinya. Ta’rif kebanyakan para Ulama ialah “Melaksanakan Sholat itu ialah menyempurnakan Rukun Suci. Mencukupi Rukun dan Sunnatnya. Yang demikian itu baru hanya mengenal rupa Sholat yang Zahir. Namun belum mengenal Jiwanya. Karena Jiwa Sholat itu ialah menghadapkan Jiwa kita dengan khusu’ serta merasa betul-betul kita berhajat yang sangat kepada Allah SWT. Apabila Jiwa kita kosong dari Jiwa Sholat tersebut, maka sendi yang paling penting hanya berharga pada pandangan di sisi Manusia. Namun tidak berharga dalam pandangan Allah SWT.

25 March 2008

23. Sunnat-sunnat Sebelum dan Sesudah Sholat

1. Azan dan Iqomat.
2. Dalam melakukan Sholat.
3. Sesudah Selesai Sholat.

1. Azan dan Iqomat.
Jika waktu Sholat telah sampai, maka salah seorang diantara mereka yang akan berjama’ah, hendaklah mengumandangkan Azan. Sebagai tanda panggilan kepada teman yang mau melaksanakan Sholat. Dan jika Sholat sudah akan dimulai, maka hendaklah salah seorang dari mereka mengucapkan Iqomat.
Azan dan Iqomat hukumnya Sunnah Muakad bagi Sholat Fardhu. Baik berjama’ah maupun sendirian. Meskipun sudah terlambat waktunya. Dan Azan itu sunnah diserukan dengan suara keras. “Kecuali di Masjid yang telah dilakukan Azan. Dan Sholat berjama’ah” Dan melaksanakan Azan tersebut, harus dengan berdiri menghadap Qiblat. Rasulullah Saw. telah bersabda :

عَنْ مَالـِكِ ابْنِ الْحُـوَ يـْرِثِ رَضِيَ الـلّــهُ عَــنْـهُ قَالَ : قَالَ رَسُـوْ لُ الـلّـــهِ صَـلَّى الـلّـــهُ عَــلَــيْـهِ وَسَـــلَّـمَ : إِذَ احَـضَـرَ ةِ الصَّـلاَ ةُ فَــلْــيُــؤَ ذِنُ لــكُمْ أَحَـدُ كُـمْ

“Dari Malik bin Huwairits Ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah Saw. kepada kami :”Bila waktu Sholat telah sampai. Maka hendaklah salah seorang di antara kamu melakukan Azan bagimu”. (H.R. Al-Bukhari & Muslim)

Azan dan Qomat itu disunatkan hanya untuk Sholat Fardhu saja. Adapun untuk Sholat-sholat sunat yang disunatkan berjama’ah, seperti Sholat Idul Fitri atau Sholat Idul Adha dan Sholat Tarawih atau Sholat Fardhu Kifayah cukuplah dengan seruan :

أَ لـصَّـــــلاَ ةُ الـجَـا مِـــعَــــةٌ

“Marilah kita Sholat berjama’ah (Bersama-sama)”

Wahai saudara-saudaraku yang terhormat. Sekedar cerita..
Pada suatu masa, kami turut mensholatkan salah seorang Jenazah di kampung kami. Dan Ustadz yang mau meng-Imami Sholat tersebut berkata : ”Qomat Qomat”. Tiba-tiba datang sambil berlari kecil seorang yang sudah berusia lanjut. Dan orang itu melantunkan Qomat seperti orang melakukan Sholat Fardhu. Maka yang lain jadi ternganga mulutnya serta terbingung bingung. Maka dengan perasaan segan saya dekati orang tua tersebut. Lalu saya katakan : "Pak, Bukan begitu cara Qomat untuk Fardhu Kifayah”. Untung saja Bapak itu mau mengerti, maka Qomat tersebut digantikan oleh orang lain, sesuai dengan Qomat yang biasa dibawakan pada setiap Sholat mayit. Demikianlah. Jika kita kurang ilmu, tetapi berambisi untuk tampil. Maka sebaiknya pelajarilah seluk beluk Agama itu dengan baik. Baru tampil ke muka umum.

Disyari'atkannya Azan.

Azan disyari’atkan sejak mulai pertama Hijrah. Sebab-sebabnya antara lain :

كَانَ الْـمُسْلِـمُوْنَ يَجْـتَـمِعُـوْ فَــيَـتَحَــيَّــنُـوْنَ الصَّــلاَ ةَ وَ لَــيْـسَ يـُــنَادِى بِــــهَـاأَحَـدٌ، فَــتَــكَـــلَّـمُـوْا يَــوْ مَـافِيْ ذلـِكَ، فَـــقَالَ بَــعْـضُـــهُـمْ : إِ تَّــخَــذُوْا نَـا قُـوْ سًامِـثْــلَ نَـاقَـوْ سٍ الـنَّـصَارى، وَ قَالَ بَــعْـضُـهُـمْ : بَــلْ قَـرْ نَـا مِــثْــلَ قَــرْنِ الْــيَــهُــوْ دِ، فَـــقَالَ عُـمَـرَ : أَوْ لاَ تَـــبْـعَــثُـــوْنَ رَجُـلاً يـُــنَادِى بِـالصَّـــلاَ ةٍ ؟ فَـقَالَ رَسُـوْ لُ الـلّـــــهِ صَــلَّى الـلّــــــهُ عَــلَــيْـهِ وَسَــلَّـمَ : يَـا بِــلاَ لُ قُــمْ فَـــنَـادى بِـالـصَّـــلاَ ةِ

“Pada waktu itu orang-orang Islam berkumpul-kumpul. Dan mengira-ngira waktu Sholat tidak ada seorangpun yang menyerukannya. Pada suatu hari mereka membicarakan hal itu. Maka di antara mereka ada yang berbicara : “Pergunakan saja Genta (Lonceng) seperti Kaum Nashrani. Dan berbicara yang lain : “Lebih baik menggunakan Tanduk (buat) Sangka-kala (Terompet) seperti orang-orang Yahudi. Maka Sahabat ‘Umar Ra. berkata : “Mengapa tidak disuruh saja orang untuk menyeru kepada Sholat ? Kemudian Rasulullah Saw. bersabda: “Hai Bilal Bangunlah dan serukan Azan”. (H.R. Al-Bukhari dan Ahmad)

Dalam Hadits yang lain :

عَـنْ عَــبْـدِالـلّـــهِ بْـنِ زَ يْدِ بْـنِ عَـبْـدِ رَ بـِّهِ قَالَ : طَافَ بـِى" وَ أَ نَـا نَـا ئِـمٌ " رَجُـلٌ فَـقَالَ : أَ لـلّـــــهُ أَ كْـــبَــرُ . أَ لـلّـــــهُ أَ كْـــبَــرُ . فَـذَ كَــرَ اْلأَ ذَ انَ بِــتَــرْ بِـــيْــعِ الـتَّــكْــبِــيْــرِ بـِـغَــيْـرِ تَــرْجِـــيْــعِ ، وَ اْلإِ قَامَــةَ فُـرَ ادى ، إِلاَّ قَـدْ قَـا مَتِ الصَّــلاَ ةُ ، قَالَ : فَــلَــمَّا أَ صْــبَـحْـتُ أَ تَـــيْـتَ رَسُـوْ لُ الـلّــــــــهِ صَــلَّى الـلّـــــــهُ عَــلَـــيْــهِ وَ سَــلَّــمَ فَــقَالَ : إِ نَّـــهَا لَــرُ ؤْ يَـاحَــقٍّ

“Dari ‘Abdullah bin Zaid Ra. berkata : “Ketika saya sedang tidur (melihat dalam mimpi), Ada seorang Laki laki berkeliling sambil mengucapkan :”Allahu Akbar-Allahu Akbar”. Kemudian ‘Abdullah bin Zaid menyerukan Azan dengan Empat Takbir. Tanpa di-ulang. Kemudian ia Qomat dengan satu kali-satu kali. Kecuali Lafaz :”Qodqoomatish-Sholah”. Lalu setelah pagi saya menghadap Rasulullah Saw. Maka Rasulullah Saw. bersabda :”Sesungguhnya mimpi itu adalah mimpi yang benar”.
(H.R. Ahmad. Abu Daud. Disahkan oleh At-Tur mudzy. Dari Ibnu Khuzaimah Ra. Namun ketika kita teliti pada Kitab Bulughul Maram. Pada Hadits Nomor 215 Menyatakan bahwa Hadits tersebut adalah Hadits Dho’if / lemah).
Dalam riwayat yang lain :

عَـنْ أَبِـى مَحْـذُوْرَ ةَ أَنَّ نَّــبِـيَّ الـلّــــهِ صَـلَّى الـلّــــهُ عَـلَــيْــهِ وَسَـــلَّـمَ عَــلَّــمَـهُ هـذَااْلأَ ذَانَ اَلـلّــــهُ أَ كْـــبَــرُ اَ لـلّـــهُ أَ كْـــبَـرُ . أَ شْــهَـدُ أَنْ لاَ اِلـــهَ اِلاَّ الـلّــــــــهُ . أَ شْــهَــدُ أَنْ لاَ اِلـــهَ اِلاَّ الـلّــــــــهُ . أَ شْــهَـدُ أَنَّ مُحَــمَّـدً ا رَّسُـوْ لُ الـلّـــــــــهُ . أَ شْــهَـدُ أَنَّ مُحَـمَّـدًا رَّسُــوْ لُ الـلّــــهُ . حَـيَّ عَـلَى الصَّــلاَ ةَ مَـرَّ تَــيْــنِ.حَـيَّ عَــلَى الْــفَـــلاَ حِ مَـرَّ تَـــيْـنِ. زَادَ ا إِ سْحـقُ أَلـلّـــــهُ أَ كْــبَــرُ الـلّــــهُ أَ كْـــبَــرُ . لاَ اِ لـــــهَ اِ لاَّ الـلّـــــــهُ.

"Dari Abu Mahzurah. Katanya :”Bahwa Nabi. Saw. Mengajarkan kepadanya ini Azan. “Allahu Akbar. Allahu Akbar”. 2 x “Asyhadu allaa-Ilaa- Haillal lah”. 2 x “Asyhadu Anna Muhammadar-Rosulul lah”. 2 x “Haiyya ‘alas-Sholaah”. 2 x “Haiyya ‘alal Falaah”. 2 x “Allahu Akbar. Allahu Akbar 2 x “Laa-Ilaaha-Illallah”. (Shohih Muslim Juz I Halaman : 238)
Hadits yang lain :

عَنِ ا بْـنِ عُـمَـرَ ةَ قَالَ كَانَ لِـرَسُــوْلُ الـلّــــهِ صَـلَّى الـلّــــهُ عَـلَــيْـهِ وَسَـلَّـمَ { مُـؤَ ذِ نَـانِ بِــلاَ لٌ وَ ابْـنِ أ مِّ مَـكْــتُـــوْ مٍ اْلأَ عْـمـى

“Dari Ibnu “Umar Ra. katanya :”Rasulullah Saw. mempunyai dua orang tukang Azan, yaitu : “Bilal dan Ibnu Maktum yang Buta”. (H.R Muslim Juz I :239)

وَ لاِ بْـنِ خُزَ يْـمَـةَ عَنْ أَ نَـسٍ رَضِـيَّ الـلّـــهُ عَــنْـهُ قَالَ : مِنَ السُّــنَــةِ إِ ذَا قَالَ الـمُـؤَ ذِنُ فِى الْــفَـجْـرِ : حَـيَّ عَـلَى الْـفَــلاَ حِ قَالَ : أَ لـصَّـلاَ ةُ خَــيْــرٌ مِنَ الــنَّــوْ مِ

"Dan bagi Ibnu Khuzaimah Ra. dari Anas Ra. berkata ”Termasuk Sunnah jika Mu’azzin Menyerukan Azan Subuh. : Haiyya ‘Alas-Sholaah”. Kemudian dilanjut kan dengan ucapan “Ash-Sholaatu Khoirum-Minan naum”. (H.R. Al-Bukhari)

Keutamaan Azan.
“Tiada makhluq apapun. Baik Manusia, Jin atau lainnya yang mendengar seruan Mu’azin, kecuali ia pasti akan menjadi saksi bagi si Mu’azin pada hari Qiyamat”. (H.R. Al-Bukhari dan An-Nasa’iy)
“Kekuasaan Allah Yang Maha Pengasih senantiasa di atas kepala seorang Mu’azin sampai ia selesai dari Azannya” (H.R.At-Tabrany dalam kitab Al-Aushath)
Jawaban Pendengar Ucapan Mu’azin

اَ لـلّـــــــهُ اَ كْـــبَــرُ اَ لـلّـــــــهُ اَ كْـــبَــرُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

أَ شْــهَـدُ أنْ لاَ اِ لــهَ إِ لاَّ الـلّــــــــــــــــــــــهُ
Sama dengan Ucapan Mu’azin
2 x

أَ شْــهَــدُ اَنَّ مُـحَــمَّــدًارَّسُــوْ لُ الـلّـــــــهُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

حَـيَّ عَــلىَ الـصَّـــــــلاَ ةْ
لاَحَوْ لَ وَ لاَ قُـوَّ اةَ اِلاَّ بِـاللهِ الْـعَـلِـيّ الْـعَـظِــيْـمِ
2 x

حَـيَّ عَــلَى الْــفَـــــــلاَ ةْ
لاَحَوْ لَ وَ لاَ قُـوَّ اةَ اِلاَّ بِـاللهِ الْـعَـلِـيّ الْـعَـظِــيْـمِ
2 x

اَ لـلّـــــــهُ اَ كْــبَــرُ اَ لـلّـــــــهُ اَ كْــبَــرُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

لاَ اِ لـــهَ اِ لاَّ الـلّـــــــهُ
Sama dengan ucapan Mu’azin
2 x

اَلـصَّـــلاَ ةُ خَــيْــرٌ مِّـنَ الـنَّـــوْ مٌ
صَـدَ قْتَ وَ بَـرَرْتَ وَ أَ نَـا عَـلَى ذ لـِكَ مِنَ الــشَّاهِـدِ يْـنَ
Benar engkau telah berbuat baik. Dan saya
diantara orang-orang yang menjadi saksi
2 x

وَ لـِـمُـسْــلِـمٍ عَـنْ عُـمَـرَ رَضِيَّ الـلّــــهُ عَــنْــهُ فِى فَـضْـلِ الْـقَــوْ لِ كَـــمَا يَــقُــوْ لُ الْــمُـؤَ ذِنُ كَــلِــمَــةً - كَـــلِــمَــةً سِــوَى الْـحَــيْــعَــلَـــتَــــيْــنِ فَــيَــقُــوْ لُ : لاَحَـوْ لَ وَ لاَ قُــوَّ ا ةَ إِ لاَّ بِـالــلّـــــــهِ


“Dan pada Riwayat Muslim dari ‘Umar Ra. tentang keutamaan ucapan (pendengar) seperti yang diucapan para Mu’azin. Satu kalimat - satu kalimat. Kecuali pada “Haiyya ‘Alatain”. Harus dengan sambutan “Laa haulaa Walaa Quwwata Illa Billah”. (H.R. Shohih Muslim)

Pelajaran yang demikian ini diterangkan di sini, karena menurut pengalaman, mungkin pada suatu ketika Tulisan ini ditemukan oleh mereka-mereka yang benar-benar ingin mempelajari Islam. Namun untuk belajar ia merasa malu dan enggan. Semoga dengan membaca Risalah ini mereka akan tertarik, dan kemudian mempelajari Islam secara mendalam kepada Mursyidnya. Bahkan tidak kurang orang Islam sendiri masih samar dalam memahami masalah Sunnah sebelum Sholat atau Sunnah sesudah Sholat. Dipersilahkan menambah pengetahuan.